ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
- Apa kalian mengotak-atiknya? - Ayolah, hentikan.
- Hei. - Hai.
Kau tak apa-apa, Kawan?
- Ya. - Ya?
Ya.
- Aku menyayangimu, Bear. - Aku juga, Bear.
Mungkin, jangan lakukan ini kepada dirimu sendiri?
Aku memang tak berniat begitu.
Namun, saat kau lakukan itu, kami semua terdampak.
- Michael. - Natalie.
Jangan tanya dia.
- Bukannya aku mau. - Ya, tetapi itulah masalahnya, kau tahu?
Saat menanyakan kondisi seseorang,
mereka jadi berpikir perilaku mereka tak baik-baik saja
dan itu langsung membuat perilaku mereka tak baik-baik saja.
Tak ada yang bisa mengendalikan perilaku orang lain.
Baiklah.
Ingat tahun lalu?
- Tahun sebelumnya juga? - Ya.
Jadi, aku tak gila.
Tak ada yang menganggapmu gila.
- Dia begitu. - Dia sudah tak waras.
Lalu di sinilah aku, ada di tengah-tengah,
karena kau adalah kau dan Carmy adalah Carmy.
Baiklah, kalau begitu biar kami yang menanganinya.
Tak akan kalian tangani.
Tak akan. Tepat sekali. Itu maksudku.
Dengan dia, mengabaikan adalah cara terbaik untuk menanganinya.
Menurutmu, dia ada di kegilaan tingkat berapa? Empat?
Lima? Tak sampai enam, bukan?
Tidak.
Kudengar kau tiga kali bertanya apa dia baik-baik saja.
Tak perlu kau tanya setiap sepuluh menit. Itu tak akan membantu.
Apa kau tahu aku ingin merasa...
- Pasti kau akan suka. - seperti tidak?
- Ya. Aku akan sangat menyukainya. - Ya, aku yakin.
Hei, kalian memanggilku?
Tidak, aku hanya bilang kau adalah kau.
Masuklah, jadi dirimu sebentar. Aku tak bisa menangani mereka.
Ya, aku akan segera masuk.
Coba kulihat. Terima kasih.
Hei, ini masalah keluarga yang perlu kuketahui?
- Bukan. - Beri kami waktu sebentar, Sepupu?
Baiklah.
Aku senang kau pulang, Bear.
Apa kau tak bisa menelepon?
Carm, aku senang kau pulang.
Ya?
Aku tak akan menanyakan keadaannya.
- Itu bagus. - Ya.
Ya.
Carm, bisa tangani Ibu?
- Ya, akan kutangani. - Mikey, mereka?
Akan kutangani mereka.
Ibu Kejayaan kami.
Doakan kami.
256 MINGGU MENUJU PEMBUKAAN
Kau mau kuapakan ini?
Membungkuklah, kutunjukkan.
Ini membakarku. Orang Baru, ambil ini.
Steven. Kita sudah sering bertemu.
Ayolah, Lee. Kalian sudah sering bertemu.
Aku tak menyentuh apa pun.
Jimmy, suruh Carol berhenti membentakku.
Kenapa kau membentak?
Pernah terbakar panci besi? Ambil ini.
Aku tak mau.
Dasar sok jagoan, kuhajar kau.
Kau akan menghajarku?
- Itu yang akan kau lakukan? - Cukup!
Penanganan yang bagus, Mikey.
Ibu
Aku dapat kesempatan finansial terbagus!
Kartu bisbol kembali. Kuberi tahu, ini uang.
Kami punya sekotak penuh. Hanya butuh 500 dolar untuk beli sekotak.
Akun eBay-ku ramai. Notifikasi, pemberitahuan...
Berhenti sebentar.
- Ya. - Ya.
Ada berapa Fak?
Kenny, Sammy, Susan, Frank, Francie,
- lalu ada Doug, Gary... - Jumlahnya banyak.
Baiklah. Kembali ke proposal.
Kami punya Ken Griffey.
Ada Lenny Dykstra!
Kami punya Jay Buhner, Kapten Beanes. Law.
Astaga. Katakan kau punya Mickey Morandini.
Tentu saja punya.
Dasar Morandini.
- Lima ratus dolar. - Kau punya Morandini?
- Kami punya Morandini! - Ya!
Kita butuh 500 dolar...
- Salin dan tempel. - untuk dikembangkan jadi 1.500 dolar
dalam dua bulan.
- Tunggu. - Ya.
Pegang, aku mau menamparmu.
Itu ide terbodoh yang pernah kudengar. Selamat Natal.
Menurutmu dia setuju?
- Kau pikir dia setuju? - Itu tamparan bisnis?
Ya.
Ibu.
Carmen, ini tumpah ke mana-mana dan aku belum menyiapkan lobster.
Aku mau bertanya.
Teman Sepupu Michelle, Steven, dia gay?
Siapa yang gay? Ibu, kenapa masak tujuh ikan? Tak ada yang makan ini.
Tidak. Apa Steven gay? Sepertinya gay.
Dia suka seni dan...
Aku suka dia, tetapi kurasa dia gay.
- Itu tradisi. - Tradisi bahwa dia gay?
Bukan. Tujuh ikan itu.
Menurutmu, untuk apa aku kerja keras sejak pagi?
- Baiklah, Ibu. Hei, apa yang bisa kubantu? - Kau bisa mengatur garpunya.
Aku hanya butuh zaitun untuk minuman. Aku tak akan menyentuh apa-apa.
- Astaga, apa yang harum sekali? - Kenapa terus tanyai aku?
- Astaga. - Itu aku.
- Kau? Aku akan ke sana. - Coba cek.
Untukmu, selalu.
- Hei... - Apa kabar? Apa hidangan penutupnya?
Tidak, kau sudah bawa keik. Enyahlah.
- Ini dia. - Ya.
- Hei, Carmen. - Ya.
- Berhenti mengomeliku. - Apa?
Aku mencoba berbuat baik. Bisa hentikan itu?
- Lakukan - Baik, aku paham.
- Nyonya B, papan seluncur kami di sini? - Tidak, semua Fak keluar!
Ada apa, Carmen?
- Tadi papan seluncur kami di sini. - Ada apa?
Fak, keluar. Ini operasi yang sensitif.
Neil Besar belikan kami papannya.
Kau membuatku kepanasan.
- Kami boleh menginap? - Menginap saat Natal? Apa?
Tidak, tak boleh menginap saat Natal.
- Tidak. - Tidak?
- Tidak, baiklah. - Neil Besar...
- Diam. Michael! - Disembunyikan Michael.
- Michael. Kemarilah! - Ayo.
Di mana papan seluncur kami?
- Ibu, kau tak apa-apa? - Ya.
Hei, bisa ambilkan serbet kertas dari garasi?
- Siapa ambil penghitung waktuku? - Bukan aku.
- Ada apa? - Ayolah, Mike.
- Apa yang kau lakukan? - Mike.
Kenapa kalian mencari papan seluncur?
Ada kerja sampingan.
Bantu aku. Ambilkan es dari garasi.
- Siap. - Baik, tadi aku sedang apa?
- Tunggu. Di mana keiknya? - Ya.
- Sedang dicairkan. Aman. - Baiklah.
Kenapa dia tak boleh bantu? Hanya itu yang dia lakukan. Pasti bagus.
Itu komentar sinis atau...
- Dia membantuku. Sudah. - Sinis?
Aku yang menangani makanan. Kau?
Kau memulai 100 bisnis yang tak kau selesaikan.
Tolong cek ikan branzino- nya.
Rasanya itu komentar sinis.
Kataku, karena inilah aku tak mau pulang.
- Apa? - Persetan kau.
Apa-apaan? Apa?
- Kenapa bilang itu? - Ini Natal.
Kenapa kau bilang tak mau pulang?
Terserah saja.
Kami senang kau pulang. Kami semua bangga kepadamu.
- Kami menyayangimu. - Aku bukan anak bayi.
Jangan pengecut dan katakan saja.
Katakan saja.
- Ayolah. - Katakan.
Katakan saja.
- Aku menyayangimu, ya? - Terima kasih.
- Terima kasih. - Ya.
- Terima kasih. - Baiklah.
Aku senang Bear pulang.
Ya, aku senang. Kemarilah. Aku sungguh senang.
- Baik. - Senanglah.
Senang dia kembali. Kita hanya bertemu setahun sekali.
- Ibu. - Dia terlalu mewah untuk kita.
Baiklah, Carmen, kau harus memperhatikan.
- Ya. - Ya? Tidak.
- Kemarilah. - Apa?
Saat penghitung waktu menyala,
kau harus ingat untuk memasukkan tiram
dan mengeluarkan articok, berarti oven tersedia...
Berhenti melakukan sesuatu, dengarkan saja.
- Aku dengar. Apa? - Tadi bilang apa?
Kita harus menyediakan satu tempat di oven.
- Benar. Tempat di oven. - Ya, baiklah.
Kita keluarkan articok,
lalu taruh branzino di atasnya dan panggang sebentar.
Hanya sampai bagian atasnya garing.
Lalu, aku harus ingat untuk mengatur waktunya dua menit lagi
untuk masukkan lagi lobsternya.
Saat penghitung waktu menyala, aku harus mengeluarkan branzino.
Jangan lupa mengaduk sausnya.
- Astaga. - Kenapa?
- Untuk apa pakai saus? - Karena tak ada yang makan ini.
Itu tak menyenangkan, aku muntah di sweterku.
- Hei. - Aku boleh pinjam mantelmu?
Tentu. Itu cocok kau pakai,
- simpan saja. - Kau manis.
- Tidak, itu cantik. - Hai, Carm.
- Apa kabar? - Kau baik-baik saja?
- Aku muntah terus. Jangan cemas. - Jangan?
No comments yet. Be the first to leave one.