ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Seorang sastrawan pernah berkata,
"Semua yang kalian lihat bisa menjadi dongeng.
Dan kalian bisa mendapatkan cerita dari semua yang disentuh."
Sayangnya, cerita ini bukan sekadar dongeng.
Ini adalah kisah hidupku.
Benar-benar terjadi padaku.
Dan kalian akan menjadi saksi kisah itu.
Kan saya duluan yang mau parkir.
Kok main serobot saja?
Maaf, Mbak, ini parkiran dosen bukan, ya?
Iya, sih.
Ya sudah. Mbak parkir di sini saja. Saya cari tempat lain.
Tidak. Tidak usah…
Tidak apa-apa. Nanti telat loh.
Asalamualaikum.
- Alaikum salam. - Alaikum salam.
Selamat pagi, Semuanya.
Pagi, Pak.
Perkenalkan, nama saya Aris Nazif Baihaki.
Sementara ini, saya menggantikan Pak Junaedi…
Ada yang lulusan S2 Denmark itu, loh.
Yang beasiswa.
Sebelum kita mulai, barangkali ada pertanyaan?
Pak!
Bapak kan mengajar Sosiologi Keluarga, ya…
Bapak sudah berkeluarga?
- Sudah. - Sudah?
Kebetulan saya lahir dari sepasang orang tua.
Keluarga juga, bukan?
Oh iya.
Lucu, loh.
Saat ini saya masih lajang.
- Saya tinggal… - Lajang.
…bersama dengan keluarga kakak saya di Ungaran.
Kalau ada yang punya pertanyaan lain, silakan?
Kalau tidak ada, kita langsung mulai.
Silakan semuanya buka buku Sosiologi Keluarga-nya di bab 20.
Pak.
Saya mau minta maaf, Pak, soal yang tadi.
Soal apa, ya?
Itu loh, Pak, soal yang di parkiran.
Oh, di parkiran. Tidak apa-apa, bukan masalah.
Itu parkiran Pak Junaedi, bukan hak saya juga.
Tidak apa-apa, kok.
Pak, tapi benaran maaf, ya. Saya tidak tahu, Pak.
Tidak apa-apa, benar, santai.
Siapa tadi lagi namanya?
Nama saya? Anisa Nazafarin, Pak.
- Nisa? - Iya, panggilannya Nisa.
Kalau saya tidak ditanya siapa namanya, Pak?
Kamu siapa namanya?
Nama saya Manda, Pak.
Manda saja?
"Mandangin Bapak tidak kelar-kelar!"
Saya bercanda, Pak. Nama saya Manda Cantika Saputri, Pak.
Saya juga bercanda.
Asalamualaikum.
Bercandanya aneh sekali, Nis.
Hal-hal yang menjadi perspektifnya ada…
- Tak usah, Pak. - Tidak apa-apa.
- Parkir di mana? - Di samping, Pak.
Hei!
Ambillah!
- Pak, tidak enak… - Tidak apa-apa.
Yah.
Tunggu sebentar, ya.
Tadi kan saya bilang tunggu sebentar.
Mana kuncinya?
Ayo.
Dik, tolong bukakan pintunya, Dik?
Mbak lagi tidak pakai hijab.
Asalamualaikum.
Rani!
Iya, Mbak.
Alaikum salam.
Ini Mas Aris, ya?
Aku Rani. Adiknya Mbak Nisa.
Loh, memang Nisa punya adik?
Bercanda. Salam kenal.
Mbakmu ada?
Ada. Yuk, masuk.
Asalamualaikum.
Astagfirullahaladzim!
Panas!
- Mas, taruh! - Pegangi! Panas!
Mas, taruh di situ!
Panas sekali tangannya?
Tidak apa-apa, cuma melepuh saja.
Mbak Nisa, dikompres saja pakai air.
Jangan pakai air, nanti makin melepuh.
Biar aku ambil salep saja, ya.
- Sebentar, Mas. - Tunggu.
Maaf ya, bunganya bergetar. Soalnya yang kasih juga gemetaran.
Aduh, Mas.
Kamu itu lain kali kalau mau datang bilang sama aku,
kan aku bisa siap-siap.
Aku itu tadinya berniat mau kasih kejutan sama kamu.
Malah aku yang dapat kejutan.
Aduh!
Ini, maksudnya yang ini, yang sakit.
Ya ampun. Aduh, Mas.
Ini boleh kali dimakan, ya?
Coba dong.
Bismillahirrahmanirrahim.
Ini kuemu…
enak sekali!
Yang benar?
Benar!
Kamu tidak mau coba jualan saja?
Sebenarnya aku itu ingin, Mas, punya toko roti.
Tidak usah terlalu besar, yang penting tempatnya nyaman.
Ayo, coba buka.
Ya, nantilah kalau sudah menjelang skripsi,
takut mengganggu kuliah.
Nanti aku bantu.
Serius?
Serius.
Aku itu suka sama sosok perempuan yang mandiri.
Karena dulu, almarhum Ibu…
itu juga sosok perempuan yang mandiri.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Masyaallah, cantiknya.
Pintar kamu memilih calon.
Siapa dulu, Mbak?
Aris itu anak bungsu, aku di atasnya persis.
Dia anaknya pendiam, penurut.
Dan kalau punya keinginan, selalu dipendam sendiri.
- Oh, ya? - Sampai tahu-tahu
dia bisa dapatkan dengan caranya.
Contohnya?
Pas waktu SD, dia pernah ingin sekali beli sepeda.
Dan dia rela tidak jajan, menabung uang pemberian dari Ibu,
buat mendapatkan sepeda itu.
Tidak terbayang sih, hebat.
Ayo, membicarakan aku, ya?
Orang Mbak lagi jualan, kok.
Jualan apa, Mbak?
Jualan kamu ke Nisa.
Mbak, mending dicoba.
Oh, iya. Ini buatan Nisa, ya?
- Iya, Mbak. - Aku coba, ya?
Enak sekali.
Aku coba.
Bagaimana rasanya?
Enak. Legit!
- Enak, 'kan? - Iya.
Enak sekali tumpang koyornya, Bu.
Ibu memang sukanya masak masakan yang seperti ini.
Tumpang koyor, lodeh…
- Brongkos. - Brongkos.
Kalau Nisa ini memang sukanya roti-rotian.
Jagonya.
Mas, dulu itu Ibu sempat punya katering pas Bapak masih ada.
Tapi setelah Bapak meninggal, akhirnya ditutup.
Maaf, Bu,
kalau saya boleh nanya…
Bapak tidak adanya itu sejak kapan?
Sejak Rani masih usia lima tahun.
Hampir sama kayak saya.
Bapak tidak ada itu pas saya belum genap delapan tahun.
Iya, ini. Makanya, Rani itu manja sekali sama Ibu.
Iya, kan? Dia suka diperhatikan terus.
Mengambek?
Merengut saja.
Tidak!
Dia mengambek, Bu.
Bu…
saya mohon rida dan restu dari Ibu untuk melamar
Nisa untuk menjadi istri saya.
Untuk menyempurnakan separuh agama.
Yah…
Kalau Ibu, semuanya tergantung Nisa.
Kalau dia mau, Ibu pasti meridai.
Mas Aris…
ini adalah perjanjian yang sangat berat.
Perjanjian yang mengguncangkan Arsy Allah.
Jangan sekali-kali kamu langgar perjanjian ini ya, Mas Aris.
Istrimu itu amanah dari Allah buatmu.
Jaga dia sebaik-baik kamu menjaga dirimu.
"Qul huwallaahu ahad."
Artinya?
"Dialah Allah adalah Maha Esa."
Lanjut.
"Allaahussamad."
"Hanya Allah-lah tempat bergantung."
Betul.
"Lam yalis…"
"Lam yalid…"
Ini bukan "zal", Nak. Ini "dal".
"Lam yalid…"
"Lam yalid wa lam yuulad."
Sayang, mau angkat telepon dulu dari Uti, ya.
- Oke, Ma. - Sebentar.
Asalamualaikum, Bu.
Alaikum salam.
Nis, Ibu kan sudah kasih lihat ke Rani,
foto-foto kos-kosan yang kemarin kamu cerita itu, loh.
Lalu Rani bagaimana, Bu? Suka?
Dia sih iya-iya saja, tapi bagaimana ya?
Apa, Bu?
No comments yet. Be the first to leave one.