ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
FILM NETFLIX ORIGINAL
KEPRESIDENAN BENGGALA, INDIA
Hei, kenapa kau melepas bunganya? Ayolah.
Bulbbul!
Bulbbul!
Bulbbul!
Bulbbul!
Di mana gadis itu?
Kena kau!
Naik pohon lagi!
Dia siapa, Bibi?
Dia agak berantakan...
tapi akan kami bawa.
Hei!
Dia benar!
Kini aku harus menyiapkanmu lagi.
Bibi, kenapa aku harus memakai cincin jari kaki?
Karena ada saraf di sini...
yang jika tidak ditekan, bisa membuat gadis terbang.
Seperti burung?
Tidak. Ini untuk mengendalikanmu.
Bibi?
Mengendalikan? Apa itu?
Bibi!
Ayah? Bibi!
Kau sedang apa, Sinting?
Dia pasti ketakutan.
Bibi.
Bibi.
Mau mendengar cerita?
Apakah cerita seram?
Ya.
Tentu!
Dahulu kala,
ada seorang penyihir!
Dia tinggal di pepohonan.
Di hutan gelap yang lebat.
Bentuk kakinya terpelintir.
Iblis haus darah itu menunggu...
dan terus menunggu hari...
saat sang putri akhirnya tiba...
agar dia bisa menelannya.
Boneka!
Mahendra!
Aku melarangmu kemari, bukan?
Boneka lucu.
Binodini.
Dia adalah suamimu. Kau tak bisa mengawasinya?
Maafkan aku, Tuan!
Mahendra.
Saudaraku.
Dia masih anak kecil.
Di mana dia?
Siapa?
Suamiku.
Dia adalah aku.
Tidak. Kalian sudah dewasa. Dia masih kecil.
Dia bersamaku di joli.
Dia bercerita kepadaku.
Namanya...
adalah Satya.
Saat kau dewasa, kau akan paham perbedaan
antara suami dan saudara ipar.
20 TAHUN KEMUDIAN
Pelan-pelan!
Maaf, Tuan Satya.
Tempat ini tak aman. Ada ancaman di sini.
Dia tinggal di sini.
Siapa?
Sang penyihir.
Kau sudah bangun?
Tidurlah. Akan kubangunkan begitu tiba di wastu.
Apa Nyonya sudah tidur?
Sudah, Tuan.
- Perlu kusajikan makanan? - Tidak perlu.
Jangan marah, Nyonya.
Sudah terlambat.
Apa reaksi Istri pertamamu?
Mereka akan hidup rukun bersama.
Pergi!
Jika ada masalah, kau akan berurusan denganku.
Tampaknya kau pemimpin bijak.
Satu,
dua,
tiga,
empat,
lima,
enam,
tujuh, delapan,
sembilan,
sepuluh,
sebelas, dua belas...
- Lalu? - Tiga belas...
- Empat belas... - Lalu penyihirnya meniup semua lilin
di kamar putri…
Bodoh!
Lalu?
Dia mendekati ranjang putrinya, dan...
Kenapa kemari?
Aku tahu! Kau datang untuk memeriksa warisanmu, ya?
Kakak Ipar.
Kau menghilang selama lima tahun.
Mustahil mendadak kau rindu aku.
Aku menulis surat kepada Tuan,
dan menanyai kabarmu.
Dia tidak membalasnya.
Aku ingin datang tiga tahun lalu
saat kakak Mahendra
terbunuh.
Mereka bilang...
penyihir membunuhnya.
Kau percaya omong kosong itu?
Tentu tidak.
Binodini yang bilang begitu.
Lima tahun terakhir, banyak hal berubah
Bahkan Tuan meninggalkan rumah.
Apa yang terjadi?
Kau ingin menemui Binodini?
Kakak Ipar Binodini.
Adik Ipar Satya?
Dewi tidak berbuat baik kepadaku.
Kenapa, Kak?
Bagaimana bisa menjadi pendeta, tapi juga mengutuk Tuhan?
Doa-doaku terasa seperti ratapan.
Menghabiskan hidupku terus berdoa...
dan lihat...
apa balasannya.
Aku khusyuk berdoa saat penyihir itu membunuhnya.
Kini, bahkan jika ada yang meninggal karena demam,
orang-orang menyalahkan penyihir.
Hei!
Mahendra sakit demam?
Dia terbaring bersimbah darah.
Kau pun melihatnya.
Kakak Ipar.
Itu seperti serangan hewan.
Kau ingat dahulu kakak Indranil...
sering bercerita soal pemakan manusia.
Ada jejak kaki terpelintir berdarah
di lantai.
Pelakunya penyihir!
Omong kosong itu lagi.
Tidak ada penyihir di kerajaan kita,
Dia mendarat dari mana?
Dari pepohonan.
Hei!
Lalu?
Dia mendekati ranjang putrinya, dan...
Kalian sedang apa dalam gelap?
Astaga, kenapa kau merusak semuanya?
Maafkan aku, Nyonya.
Aku kemari untuk mengatakan bahwa suamimu membutuhkanmu.
Kenapa?
Aku tidak tahu,
padahal aku yang sudah merawatnya,
tapi dia masih menginginkanmu.
Entah kenapa,
dia masih ingin Bulbbul-nya.
Bagaimana cara memberi tahu dia bahwa istrinya hanya menginginkan Satya...
Dia tidur pada siang hari,
dan berburu pada malam hari.
Baiklah.
Aku ikut berburu saat malam.
Kurasa Binodini takkan puas sampai kau memajang kepala penyihirnya
di dinding bersama semua trofi lainnya.
Harimau,
rusa,
penyihir!
Ke mana gadis kecil manis yang kukenal menghilang?
Kau mengapakan dia?
Aku memakannya.
- Di mana Nyonya? - Di bawah. Di beranda.
Kau terobsesi dengan kakiku.
Kau sangat jeli!
Hei, kau sudah bertemu Dokter Sudip?
Dokter?
Kau tak apa-apa?
Ya.
Dia kemari untuk menongkrong.
Aku akan pergi.
Aku harus memeriksanya.
Kapan guru itu mengubah jalannya?
Guru? Siapa?
Guru Dinkar.
Dia pria yang baik.
Tulang istrinya yang patah menceritakan kisah lain.
Dia juga tak membantu. Dia selalu berkata,
"Aku jatuh dari tangga."
Mungkin itu benar.
Hanya satu rumah di tempat ini yang punya tangga.
Nyonya.
Berapa kali kau kularang memanggilku nyonya?
Terserah kau... Nyonya.
Mau ikut berburu dengan Satya?
Aku menyelamatkan nyawa. Aku tak tahu cara merebutnya.
Tuan.
Kenapa kau tampak sangat kesal?
Karena kau bersama pria.
Pergi.
Kau tak terlambat untuk berburu?
No comments yet. Be the first to leave one.