ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Nama cerita ini adalah...
Serigala dan tujuh anak domba.
Terjadi bertahun-tahun yang lalu.
Di salah satu hutan lebat
hiduplah seekor domba dengan tujuh anak dombanya
di sebuah rumah kecil.
Suatu hari saat domba akan keluar,
dia memberitahu anak-anaknya...
"Anak-anak, sebelum aku kembali ke rumah"
"jangan buka pintunya."
Tapi...
Tebak siapa yang bersembunyi di luar dan menguping mereka?
Siapa?
Serigala yang ganas!
Begitu domba pergi
serigala mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
Lalu anak domba bertanya - "Siapa?"
Serigala menjawab...
"Ibumu."
"Ibumu."
Siapa disana?
BHEDIYA (Serigala)
Diamlah.
Pak...
Pak... Pak...
Pak, sepertinya dia sedang marah.
Kenapa kau takut sekali?
Pak, aku tak takut.
Aku hanya tak suka anjing.
Anjing?
Bagaimana perasaanmu jika dia menyebutmu anjing?
Maaf, bos.
Sekarang siapa yang bos disini?
Maaf, bos!
Oke.
Sekarang mari bicarakan bisnis.
Tentang proyek Timur Laut...
Survei tanah selesai.
Berkas sudah siap.
Persiapanmu sudah selesai?
Ya, pak. Aku punya kontak lokal disana.
Sudah kuatur semuanya.
Pembebasan lahan tak akan mudah
Apalagi hutan di timur laut
Kau dibayar mahal bukan untuk mengerjakan yang mudah.
Kau tahu itu lebih banyak dari siapapun.
Ini adalah kontrak besar.
Banyak perusahaan besar yang memperhatikan ini.
Tapi akhirnya jatuh ke tangan kontraktor kecil sepertimu.
Tahu kenapa?
Karena aku suka rasa laparmu, sayang!
Dan aku juga suka rasa laparmu, sayang!
Bossy Vossy-ku...
Terima kasih, Pak Bagga!
Dan percayalah, aku akan menyelesaikan pekerjaan.
Intinya
harus tepat waktu.
Pak, aku menggadaikan rumahku untuk membayar uang jaminanmu.
Aku akan memberikan semua yang kupunya.
Bagaimana, Bos? Apa dia sungguh-sungguh?
- Dia menyetujuimu. - Ya, pak.
Anak kurang ajar!
Pengaturan anggaran pemerintah pada dasarnya
dipengaruhi oleh faktor aktif, permanen, dan struktural.
Sudah beres-beres?
Ya, sudah.
Bro, kita mau kemana?
Kenapa?
Aku harus mempersiapkan ujian IAS.
Aku takkan ikut ujian jika kau memberitahuku.
Kau menyukai alam, kan?
Tempat yang akan kita tuju tepat berada di pangkuan alam.
Dan gadis-gadis cantik juga ada disana.
Ibumu bilang aku harus membuatmu menikah.
Tak usah, bung.
Aku hanya akan menikah setelah menjadi petugas IAS.
Maka lupakanlah.
Ya, Ayah?
Kudengar kau berangkat dadakan ke Arunachal?
Tidak dadakan. Aku kesana untuk urusan penting.
Kau sendirian?
Aku tidak sendirian. Janardan juga ikut.
Salam, Paman!
Ya, salam...
Bibi bilang dia masih suka kejang.
Baiklah, bawa saja dia.
Dia akan menemanimu di negeri asing itu.
Itu bukan negara asing, Ayah.
- Arunachal Pradesh masih di India. - Ya, terserah...
Jangan ajari aku geografi sekarang.
Oke, aku akan meneleponmu lagi kini aku sedang makan siang.
Halo... Dia--
Oh! Arunachal Pradesh... Kita akan pergi ke Imphal?
Imphal ada di Manipur.
Oh, benar!
Tiket kita pasti ke Meghalaya, ya?
Bukan Meghalaya. Tapi Guwahati.
Oh, benar! Maaf.
Guwahati adalah ibu kota Arunachal Pradesh. Lupa!
Guwahati itu di Assam.
Ibukota Arunachal Pradesh adalah Itanagar.
Sejak kapan?
Sudahlah. IAS tak cocok untukmu.
Awas! Awas!
Ini? Tak bisakah diperkecil?
Tidak. Orang bijak pernah berkata... Bawalah ilmu, bukan beban.
Jadi inilah yang kubawa.
Apa ini ilmu?
Ini buku-bukuku! Aku harus belajar!
Bhaski!
Hei, Jo!
Bagaimana kabarmu?
Baik, sobat.
- Empat tahun tak temu. - Ya.
- Rambutmu terlihat bagus. - Benarkah?
- Ya. - Janggut macho-mu juga bagus.
- Ya, terima kasih. - Kau bepergian sendiri?
Ini sepupuku... Janardan.
JD, JD..
Halo! Jomin!
Chow mein?
Jomin...
Halo, Jo... Jomin!
- "Hei! Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Bagaimana denganmu? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Kau baik-baik saja? - Ya, sepertinya!"
- "Dan kau? - Ya, begitulah!"
"Pemandangan yang sangat indah! Kenapa tiba-tiba diam?"
"Lihatlah matahari terbenam yang sangat lambat!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
"Kenapa kau tak mengatakan sesuatu, sobat!"
"Kita menghabiskan waktu dengan menghitung mil yang terlewati!"
"Saat jalan mulai mulus..."
"Tolong menepilah agar aku bisa buang air kecil!"
"Kita telah lewati jalan yang sulit!"
"Tubuhku berderak seperti mur dan baut yang lepas!"
"Hanya hutan di sekitar, daerah ini tak aman"
" Nyamuk ada dimana-mana, nyamuknya demam berdarah dan malaria"
"Ada kemungkinan kita bisa menemukan keindahan hutan"
"Dengan mengikuti keindahan mungkin bisa menemukan serigala liar sebagai gantinya"
"Bagaimana jika serigala datang? Bagaimana jika dia memakan kita semua?"
"Ngomong-ngomong, kudengar serigala sangat menyukai diet keto akhir-akhir ini"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Baik-baik saja? - Ya, begitulah!"
- "Bagaimana denganmu? - Ya, begitulah!"
- "Bagaimana denganmu? - Kau ingin jawaban ditulis di kertas?"
Hei, tuan!
"Kita menghabiskan waktu dengan menghitung mil yang terlewati!"
"Tangker kehidupan mengalami kebocoran, selain itu jaringannya juga lemah."
"Untuk menambah kemarahan, tanyalah apa semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya baik?
"Semuanya baik?
- Hei! - Hati-Hati!
Kenapa kau sangat takut pada anjing?
Aku tak takut. Aku... Aku hanya benci anjing.
- Anjing yang baik! - Astaga, astaga!
Rumah ini terbuat dari bambu! Bagaimana jika satu bambunya lepas?
Akan mengenai kepalamu...
Beginilah rumah di daerah sini.
Ini bagus. Ini unik.
Bambu punya banyak fungsi.
Bhaski juga sebenarnya terbuat dari bambu, tahu!
Kenapa gelap sekali disini?
- Nyalakan lampunya. - Sebentar.
Dimana saklarnya?
Apa ini yang kau sebut tempat yang bagus?
Nyalakan pemanas.
Nanti kunyalakan.
Ayo...
Jangan merusak apapun. Kita nanti bayar denda.
Bisa minta air, Jomin?
Mau air bambu?
Aku lihat sesuatu.
- Hah? - Apa?
- Apa? - Aku lihat sesuatu.
Dimana?
Aku rasa itu kelelawar.
Ih.
Itu sangat jelek.
Aww, itu lucu.
Kalau begitu jadikan sup.
Pak, kau belum menyalakan lampu.
Ibu!
Bhaski, tolong!
Ibu!
Ibu!
Banyak sekali kelelawar!
Kau membawaku kemana, Bhaski? Ayo masuk.
Pak Bhaskar!
Selamat datang!
Selamat datang di Ziro!
No comments yet. Be the first to leave one.