最初の200行です。
-Maaf. Maaf. -Tetap di situ.
-Siapa namamu? -Andrew Newman, Pak.
Tahun ke berapa?
-Tahun pertama. -Kau tahu siapa aku?
Ya, Pak.
Jadi kau tahu aku mencari pemain.
Ya, Pak.
Lalu kenapa kau berhenti bermain?
-Apa aku menyuruhmu bermain lagi? -Maaf.
Aku tanya kenapa kau berhenti bermain,
tapi versi jawabanmu seperti monyet-monyetan bermain simbal.
-Maaf kalau? -Tunjukkan padaku permainan dasarmu.
Baik, Pak.
Perpanjangan dua kali.
Tidak, dobel. Dobel.
Lebih cepat.
Lebih cepat.
Oh, jaketku kelupaan.
-Tak mau (permen) Swedish Fish? -Tidak.
Terima kasih.
-Kau baik-baik saja? -Ya.
Ya. Entahlah. Dia melihatku bermain tadi.
Dan?
-Kau masih punya banyak opsi. -Artinya?
-Cuma?Hanya saja?kau tahu. -Opsi lain?
Begitulah hidup.
Dengar, saat kau seusia aku, kau punya perspektif.
Aku tak ingin perspektif.
Ooh. Maaf.
Aku tak mau kismis lapis cokelat.
Kenapa tak bilang tadi?
Aku hanya makan yang di sekitarnya.
Aku tak paham kamu.
Sampai nanti.
Sobatku, Ry. Astaga. Bagaimana perasaanmu?
-Tak seburuk itu. -Hanya terlalu lama.
-Keadaan menyakitkan karena Neiman di depan perangkat drum. -Sudahlah.
Apa? Dia tak apa-apa.
-Kalau kau bilang begitu, aku senang bertemu kau. -Ya.
Kelihatan keren.
-Hai, Ryan. -Ada apa, sobat?
-Akhir pekanmu menyenangkan? -Ya, menyenangkan sekali.
-Ya? -Ya. Sangat menyenangkan.
Bagus.
-Jangan pedulikan Greg. Dia memang menyebalkan. -Tak masalah.
Selamat pagi semua.
-Selamat pagi semua. -Selamat pagi.
Kita mainkan illy Zane?dari awal. Ya?
-Bagaimana? Bagus? -Ya. Agak ke kanan.
-Oke. -Satu, dua, tiga?
Berhenti, berhenti...
Mainkan alat tiup.
Ryan.
Lihat.
Ya.
Tekanan?
-Tidak hari ini. -Sangat besar di bawah. Tambah gula.
Kau bisa mempermalukan diri seperti anak itu.
Tidak, itu sangat menyenangkan.
Pendek.
Oke. Oke.
Cukup. Kembali ke drum utama. Pemain inti, ayo mulai.
Kau latihan apa, sobat?
Boleh?
Keren. Sepenuh hati. Terompet bar tujuh dan delapan.
Tiga, empat.
Tiga, empat.
Oke. Bagus. Trombon bar 24. Satu, dua?
Mungkin tidak. Tenor, mulai naik sampai 11. Tiga, empat.
Titik yang sama. Tiga, empat.
Baiklah.
Kau di kursi pertama. Kita lihat apa ini hanya karena kau keren. Tiga, empat.
Ya. Karena itu.
Drum. Kita dengar perpanjangan dobel.
Di belakang?
Sama.
Bas, lima bar dari onna Lee.?
Baik.
Drummer. Bersama aku. Terima kasih, Joe.
Bukan, yang satunya.
Ruang B-16 besok pagi. Jam 6.00. Jangan telat.
Baik, semuanya. Dari atas.
Satu, dua, tiga?
-Hei. -Apa kabar?
-Baik. Kau? -Baik, terima kasih.
-Bagus. -Biasa?
Tidak. Begini, aku tak begitu tahu cara?
Aku sering melihatmu di sini, menurutku kau amat cantik?
Maukah pergi keluar bersamaku?
Tolong pergilah.
-Astaga. Maafkan aku. Maafkan aku. -Tolong keluar.
-Aku hanya mengerjaimu. -Apa? Astaga.
-Maafkan aku. -Sungguh kejam.
-Itu sungguh kejam. -Maaf. Aku tak bermaksud?Siapa namamu?
-Tak apa. Aku Andrew. -Andrew.
-Ya. -Aku Nicole.
-Senang berkenalan denganmu, Nicole. -Sama-sama. Kau mau ajak aku jalan?
-Ya, aku ingin mengajakmu keluar. -Kau mau ke mana?
-Pizza. -Pizza?
-Ya. -Aku suka Pizza.
Aku tahu restoran pizza yang enak.
-Baik. Aku selesai jam 7, hari Senin. -Sungguh?
-Kau mau temui aku di sini? -Oke. Ya.
-Ya. -Ya. Tentu.
Bagus.
-Oke. Jam 7? -Ya. Di sini.
-Jam 7 malam. -Senin, Andrew.
Oke. Sampai jumpa.
Tak seburuk itu, Bung. Dia penari bar.
Bisa saja jadi penari porno, tapi dia tak mau.
-Itu membuatnya lebih baik? -Ya, sedikit.
-Lebih klasik. -Aku bisa mengatasinya.
Wanita itu memuja kakinya sendiri.
Selamat pagi.
-Kita bisa lakukan ini. -Kau mendapatkan itu?
Sudah.
-Kau pengganti yang baru. -Ya. Aku Andrew Neiman.
Rangkaian nada di B minor. Balik halaman selama latihan.
Baik.
Maaf. Bisa minta B minor?
Terima kasih.
Maaf. Bisa sekali lagi?
Itu perangkat hebat. Aku sekarang memainkan simbal itu.
Isap luka!
Hari ini ada musisi baru. Neiman.
Sembilan belas tahun. Imut, bukan?
Baik, semua. hiplash.?
Balik halaman! Balik halamannya!
Barker, itu bukan kemaluan teman lelakimu. Jangan masuk terlalu awal.
Bar 93.
Lima, enam, dan?
Berhenti.
Ini sangat membuatku kesal. Ada yang bermain sumbang.
Sebelum kulanjutkan, maukah ia menunjukkan diri?
Tidak? Baik. Mungkin ada serangga masuk ke telingaku.
Satu 15. Lima, enam, dan?
Kupingku beres. Ada yang bermain tak pas.
Siapa pun dia, ini kesempatan terakhirmu.
Dan habislah sudah.
Kau sengaja bermain tak selaras dan menyabotase band-ku,
atau tak sadar kau keliru? yang aku takutkan itu lebih buruk.
Alat tiup. Lima, enam, dan?
Trombon. Lima, enam, dan?
Dia di sini.
Katakan itu bukan kau, Elmer Fudd.
Tak apa. Mainkan.
Menurutmu permainanmu sumbang?
Tak ada cokelat di bawah situ. Kau lihat apa? Lihat ke atas. Tatap aku.
Menurutmu permainanmu sumbang?
Ya.
Lalu kenapa kau tak mengakuinya?
Kau membebaniku terlalu lama, Metz.
Aku tak mau kita kalah karena karena kau tak fokus pada nada.
Jackson, selamat. Kau di kursi ke-4.
Metz, kenapa kau masih duduk di sini? Keluar!
Sebagai catatan, Metz tidak bermain sumbang. Tapi kau, Erickson.
Tapi dia tak tahu dan itu cukup buruk.
Baik, yang ke-10.
Saat kita kembali, kau main.
Jika dia setengah-setengah dalam memainkan trombon?
Andrew.
-Orangtua musikus? -Bukan.
-Pekerjaan mereka? -Ayahku penulis.
-Apa yang dia tulis? -Kurasa dia lebih sebagai guru sebenarnya.
-Perguruan Tinggi? -SMA Pennington.
-Apa pekerjaan ibumu? -Entah. Dia pergi saat aku masih bayi.
Jadi tak ada musisi dalam keluarga.
Kalau begitu dengarkan para musisi besar.
Buddy Rich. Jo Jones.
Charlie Parker jadi hebat karena Jones melempar simbal di kepalanya.
Paham maksudku?
Dengar, kuncinya itu rileks.
Jangan risaukan angka-angka. Jangan cemaskan yang dipikirkan orang lain.
-Kau ke sini karena sebuah alasan. Kau percaya itu, kan? -Ya.
Ucapkan.
Aku di sini karena sebuah alasan.
Bagus.
Oke, Bung. Bersenang-senanglah.
Baik, semua. hiplash.?
Tempo sedikit rendah. Neiman, lakukan yang terbaik.
Mulai. Lima, enam, dan?
Mari dengar nada sela.
Ini dia Buddy Rich.
Ada sedikit masalah di sini. Naikkan ke 17.
Siap? Lima, enam, dan?
Tak sesuai dengan tempoku.
Ayo. Lima, enam, dan?
Kurang gairah di 18. Oke. Mulai. Lima, enam, dan?
Bar 17. Dan akhir empat. Paham? Lima, enam, tujuh.
Tak sesuai tempoku. Bagus. Jangan cemas. Mulai. Lima, enam, tujuh.
Kau terlalu cepat. Ayo.
Siap? Oke. Lima, enam, dan?
Turunkan sedikit.
Tunggu aba dariku. Lima, enam, tujuh.
Terlalu cepat. Lima, enam, dan?
Terlalu lambat. Lima, enam, dan?
Kenapa kulempar kursi ke kepalamu, Neiman?
-Aku tak tahu. -Tentu kau tahu.
-Tempo? -Apa kau bermain terlalu cepat atau lambat?
Aku tak tahu.
No comments yet. Be the first to leave one.