Pachinko

Pachinko

Unduh Subtitle Indonesian

Musim 1

Informasi rilis

Pachinko S01 E07 WEB-DL Apple TV
Komentar oleh hoomanind
Apple TV retail

Tag

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Diterbitkan pada: 2022-04-22
Unduhan: 51
Tuna Rungu: No

Pratinjau subtitle Indonesian

200 baris pertama.

Ayah, aku pulang.

Hansu, kau pulang terlambat lagi.

Aku harus mengantarkan pesan ke luar kota.

Kau guru, bukan pesuruh.

Ada baiknya mengingatkan mereka soal ini.

Ya.

Ayo! Perut ayah lapar.

Ayo kita makan besar.

Ayo.

Hansu!

Apa ucapan ayahmu benar?

Kau lebih jago berhitung daripada dia?

Aku kaget dia berkata begitu

mengingat dia hanya menunjuk kesalahanku.

Tanda ayah yang patut dihormati.

Hanya orang bodoh yang asal memuji anak mereka.

Kapan kau bisa mulai kerja untukku?

Aku punya banyak usaha yang harus dikelola.

Aku mencari seseorang yang cepat memakai swipoa.

Dia bakal sangat beruntung bekerja untukmu, Bos,

tapi dia sudah bekerja sebagai guru matematika

untuk keluarga Amerika yang kaya.

Kau tahu,

pekerjaan seperti itu adalah kesempatan yang langka bagi orang seperti kami.

Jadi, kau menjilat orang Amerika juga?

Keluarga Holmes baik kepadaku.

Tentu saja.

Bersikap baik itu mudah selagi tidak rugi apa-apa.

Sayang sekali.

Bahasa Jepangmu

sudah jauh lebih bagus.

Tapi kau harus bekerja lebih keras jika ingin menjadi seperti kami.

Genta, kau makin jago.

Kau bertingkah bodoh seperti kata orang.

Jika kau ingin hidupmu sukses, kau harus bekerja keras.

Tanyalah ayahmu.

Aku tak mau merasakan penderitaan hina ini jika bisa.

Sudah menderita?

Tak bisakah itu ditunda sampai jam minum miras?

Ibu jadi lebih mudah memaklumi penderitaanmu.

Ibu mengejek, padahal aku sungguh resah, Bu.

Masa? Keresahan apa itu, Nak?

Apa kau kekurangan gizi?

Sangat membutuhkan tempat berlindung?

Mungkin mengidap penyakit tubuh yang tak ada obatnya?

- Perlu ibu panggil dokter? - Aku benci Ibu begini.

Ibu harus begitu.

Beri tahu koki makan malam harus siap pukul 21.00.

Ada tamu penting malam ini. Semuanya harus pas.

"Essays on the Theory of Numbers".

Hansu, kau sungguh memahami semua ini?

Aku yakin begitu.

Luar biasa. Aku terpukau.

Bu, aku punya ide. Kita ajak saja Hansu.

Dia akan sangat membantuku di Yale tahun depan.

Jika tidak, aku bakal gagal. Ibu tahu itu.

Boleh juga idenya.

Dia akan bicara dengan Ayah.

Bicara soal Ayah,

Hansu, segeralah berikan ini kepadanya.

Ibu harus pergi.

Dan kau, buang semua pikiran negatifmu.

Cobalah.

Entah kenapa kau menolak.

Kau membahas modal yang cukup besar

yang diinvestasikan bukan di negara kita.

Entah apa mereka menginginkan keberadaan kita atau uang kita.

Apa pentingnya?

Yang penting, kitalah yang kaya.

Tapi sampai kapan?

Yokohama mungkin menerima bisnis kita, tapi masyarakat lainnya?

Mereka punya kesempatan untuk menepis ideologi kita.

Dan sekarang, sungguh,

begitu sebuah negara terpengaruh, bagaimana mungkin bisa kembali?

Serius, jangan konyol

protes melawan perubahan kemajuan.

Karena kau tahu nasib orang seperti itu?

Kamilah yang nantinya punya banyak uang di bank.

Yah…

Lihat.

Siapa pemuda yang berbaik hati datang menyelamatkanku ini?

Pesan lagi.

Pesan diterima.

Katakan.

Bagaimana perkembangan putraku belakangan ini?

Dia berusaha semampunya, Tuan.

Tapi tetap kurang mengesankan.

Selamat malam.

Dia cerdas.

Bakal menarik melihat masa depannya kelak.

Apa kita dikutuk tak punya pemain andal?

Jangan hina otakmu dengan pemikiran konyol itu.

Ingat, kau bukan mereka.

Tapi kenapa orang Amerika jago dalam segala hal?

Kau hanya perlu jago dalam satu hal.

Satu.

Tapi apa pun itu, pastikan kau yang terbaik.

Ayah jago memakai swipoa, ya?

Itu hanya alat.

Bukan, ayah jago mencari uang untuk orang lain.

Ayah tak bisa cari uang untuk kita?

Apa ayah bilang?

Orang hanya perlu jago dalam satu hal.

Aku harus jago dalam hal apa?

Memangnya kau punya pilihan?

Sering kali, mampu atau tidak,

itu tak terbantahkan.

Ayah dulu.

Ayah tahu itu saat seusiaku?

Ayah kira ayah bakal menjadi nelayan seperti kakekmu.

Seperti itulah dulu.

Tapi kau,

kau tak akan jadi nelayan.

Tak ada ruang rahasia, slip taruhan,

atau membersihkan darah di lantai.

Apa pun keahlianmu, itu akan mengeluarkan kita dari ring tinju.

Kurasa mereka akan mengajakku ke Amerika.

Ke Yale.

Mereka akan membiayai pendidikanmu?

Bukan.

Bukan aku, tapi Andrew.

Anak mereka yang payah itu?

Kalau bukan karena privilese-nya. dia sudah binasa oleh dunia ini.

Malah putranya ayah yang harus menanggung beban itu.

Tapi, Ayah,

di Amerika, katanya orang seperti kita bisa berkembang.

"Orang seperti kita."

Dengan mempertaruhkan harapan dan impian kita,

seperti itulah mereka menipu kita.

Tapi walau demikian,

ayah ingin kau mengambil risiko itu.

Pergilah ke Amerika.

Bagaimana dengan Ayah?

Memang ayah kenapa?

Ayah selalu berkata kita setim,

bahwa kita akan selalu bersama.

Mungkin ini waktunya mengubah sudut pandang kita.

Untuk apa menahan diri jika bisa mengembangkan diri?

Waktunya menatap lebih tinggi.

Hansu,

kau berpeluang melakukan hal-hal yang tak bisa ayah lakukan.

Di langit malam, ada dua bintang.

Keduanya mungkin tampak berdekatan, tapi kenyataannya, mereka berjauhan.

Jaraknya sulit untuk diukur.

Walau demikian,

dari bawah sini,

keduanya tampak tak terpisahkan,

ya, 'kan?

Bersulang.

Apa-apaan ini?

Aku tak pernah begini.

Sumpah.

Aku meminjam sedikit uang.

Aku berniat mengembalikannya begitu aku dibayar.

Aku butuh uangnya secepatnya,

jika tidak, pasti kuminta padamu.

Aku malu sekali.

Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Akan kudapatkan uangnya.

Kau tahu akibatnya jika kau lari.

Aku mau lari ke mana?

Aku punya putra.

Tak akan kubiarkan dia melihatku kabur.

Waktumu sampai lonceng bunyi siang nanti.

Ya, siang nanti.

Aku janji.

Sudah kuperingatkan gadis itu masalah.

Ayah.

Ayah!

Berapa jumlah uangnya?

Dua ratus.

Tapi kau sudah dengar ayah.

Ayah akan melunasinya.

Ayah mencuri uang itu.

Tidak.

Dia memohon pada ayah. Apa boleh buat.

Tolak saja.

Semuanya kau anggap mudah

karena kau belum pernah bersama wanita.

Kelak, kau akan jatuh cinta,

dan kau pun tak akan berpikir rasional gara-gara dia.

Aku tak akan meniru Ayah.

Tidak akan pernah.

Maaf sudah menyusahkanmu.

Tapi tak kusangka kau senekat itu.

Kau tahu aku miskin.

Ya.

Yah,

sudah telanjur.

Tapi aku harus segera mengembalikan uangnya.

Berapa sisanya?

Bisa kembalikan yang kau pakai?

Uang itu bukan untukku.

Itu untuk temanku.

Kau meminjamkan uang itu?

Tidak.

Uang itu tak akan kembali.

Dia… Seperti itulah dia.

Kau pria terpintar yang kukenal, tapi…

Aku akan menemui Tn. Holmes.

Jangan.

Komentar

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left