199 baris pertama.
Diens Zge
Cepaaat
Toloong
Cepaat ulurkan tanganmu
Siap siap
Berhati hatilah
Sarmaaan
Sarmaaan
Sarman
Cepat kemari
Ayo naik
Kita Berhasil
Kita Berhasil
Karena pria pemberani ini telah menyelamatkan kita dari buaya.
Terima kasih banyak, Sarman!
Terima kasih banyak!
Sarman.
Semoga kekuatanmu semakin bertambah!
Bima!
Mengapa harus selalu kau? Apa tak ada pemuda lain di desa ini?
Setiap ada masalah, mengapa mereka semua selalu mengharapmu?
Kau ini.../ Itu kenyataannya.
Dia pernah bersusah payah membuka aliran air dari sungai dan mengalirkannya ke sawah.
Menanam tanaman, memanen tanaman, memanggil hujan.
Tanpa Sarman matahari pun takkan terbit.
Kau ini, dia melakukan hal hebat, kenapa kau marah?
Bibi Bima, jika aku bisa membantu orang lain mengapa harus diam?
Seharian Bibi cemas memikirkanmu bertarung dengan buaya itu.
Jangan terlalu mengkhawatirkanku!
Bibi Bima, kau sering mendendangkan lagu itu. Lagu itu bukan dari kampung kita, 'kan?
Bibi, apa Bibi pernah melihat hewan bertanduk satu?
Seperti seekor kijang tapi di kepalanya ada tanduk yang panjang.
Mengapa kau menanyakannya?/ Dia selalu datang ke dalam mimpiku.
Itu hanya mimpi. Sekarang pergilah, Pamanmu sudah menunggumu di ladang.
Hasil panen kita sedikit tahun ini , Sarman.
Aliran sungai Shindu berubah arah menuju desa kita.
Bagaimana tanah bisa subur?
Paman, boleh aku bertanya sesuatu?
Mohenjo Daro?/ Semua orang pergi kesana besok.
Ijinkan aku pergi berdagang.
Tiga tahun ini pertanyaanmu selalu sama. Paman bosan mendengarnya.
Paman lelah mendangarnya. Apa kau tak lelah bertanya?
Selama Paman tak mengijinkanku, aku akan terus bertanya.
Aku ingin mengelilingi dunia.
Darimana matahari terbit?
Dimana terbenam?
Dimana sungai Shindu bermuara?
Aku mau melihat semuanya, Paman.
Anak burung takkan meninggalkan sarangnya sebelum waktunya, Sarman.
Sarman, mari makan.
Ada apa dengannya?
Dia bersikeras ingin pergi ke Mohenjo Daro, tapi aku melarangnya.
Kemarahannya takkan lama, sebentar lagi juga akan hilang.
Tapi, sampai kapan kita akan terus melarangnya, Durjan?
Selama yang kita bisa.
Dia tadi bertanya tentang binatang bertanduk satu.
Ada apa sebenarnya di Mohenjo Daro? Kenapa Paman selalu melarangku?
Pamanmu takut jika kau kesana, kau takkan kembali.
Hojo, apa kau tak ingin melihatnya?
Apa?
Keadaan di luar Amri? Bagaimana orang-orang disana?
Dan bagaimana wanita disana?
Apa kau tak suka wanita disini? Bisa saja wanita di Mohenjo Daro menggunakan tanduk.
Bagaimana aku tahu?
Tapi hatiku berkata, pasangan yang diciptakan untukku takkan ada duanya di dunia ini.
Jika begitu kau takkan pernah bertemu dengan pasanganmu.
Setiap tahun sebelum berdagang kau selalu memikirkan hal ini.
Paman takkan membiarkanmu pergi, Sarman. Lupakan saja.
Tapi aku ingin sekali pergi ke Mohenjo Daro, Hojo!
Dengan apa? Terbang seperti burung ke Mohenjo Daro?
Ada apa? Apa ada buaya?
Matahari akan terbit. Kita harus pergi!/ Berangkat kemana?/ Mohenjo Daro.
Mohenjo? Apa kau gila? Bagaimana jika Paman dan Bibimu tahu?
Tak apa, bangunlah.
Berdagang di Mohenjo Daro bukan hal mudah, Sarman.
Paman akan berikan pengarahan. Dengarkan baik-baik.
Katakan, Paman./ Apapun yang terjadi, jangan turunkan harga daGanggan.
Mohenjo Daro sangat berbeda dengan Amri.
Orang-orang disana jahat dan rakus.
Kau harus selalu berhati-hati. Jangan anggap semua orang bisa menjadi temanmu.
Jangan cemas, Paman. Aku akan menjaga Sarman.
Phulji?
Selama ini kau selalu berdagang sendiri. Biarkan kali ini Sarman ikut denganmu.
Tolong jaga dia./ Baiklah.
Bawa makanan ini.
Jaga dirimu.
Ayo berangkat.
Apa semuanya sudah dimuat? Ayo cepatlah.
Simpan ini bersamamu.
Hanya saat mengalami masalah, kau boleh membukanya. Berjanjilah.
Hojo?/ Ya!
Mohenjo Daro!
Dan sungai suci itu bernama Sindhu.
Gerbang Selatan untuk para pedagang asing, silakan memilih lapak di balik tembok!
Gerbang Timur dan Barat untuk warga Mohenjo Daro.
Bagaimana mereka membangunnya?
Itu tanda apa, Tn. Phulji?
Itu enam tanda wilayah Sindhu, nak.
Mewakili enam kota megah di dataran Shindu.
Setiap kepala menandakan sebuah wilayah./ Itu wilayah mana? Yang bertanduk satu?
Hewan Unicorn, Sarman. Simbol hewan suci yang dihormati di wilayah Sindhu.
Simbol Mohenjo Daro.
Para pedagang, sebelum masuk ke dalam, ambil kartu dagang kalian!
Dua karung dari Amri terhitung!
Beberapa gandum. Pindahkan kemari.
Kemana barang-barang kami akan dibawa?
Ambil ini.
Terima kasih.
Kapas dari Lothal.
Kau! Mengapa kau datang kemari?
Dengar.../ Menyingkir!
Dengarkan aku. Ini tempat orang serakah.
Ini bumi untuk orang tidak benar.
Selamatkan nyawamu. Jika tidak kau akan binasa.
Enyahlah!/ Jakhiro!
Menyingkir! Biarkan mereka lewat.
Jangan ganggu mereka. Pergi!
Pergilah!
Pulanglah!
Pergi!
Pergi!/ Pergi dari sini.
Kubilang, pergi!
Siapa dia?
Namanya Jakhiro. Kasihan dia, orang-orang menyebutnya gila.
Padahal keluarganya adalah penemu wilayah ini.
Dulu dia adalah anggota kerajaan.
Sarman, ada rumah di atas rumah.
Sepertinya aku pernah melihat ini. Aku tak mengerti.
Tapi yang pasti, yang kumimpikan dengan yang kulihat sepertinya sama.
Kurasa mimpiku juga sama, Sarman. Seharusnya dulu aku dilahirkan disini.
Kita kemari untuk berdagang, apa kau lupa?/ Itulah yang sedang kulakukan. Menjual hatiku.
Sak karepmu!
Belilah burung dengan warna warni!
Tanduk banteng Zebu!
Apa kalian akan mencari tempat atau akan berdiri seharian?
Ayo, cepat.
Hei, tunggu!
Hei!
Cepatlah!
Pasar semakin meriah tahun ini dengan adanya pedagang asing.
Pedagang asing? Dimana?
Yang bertopi disana, dari Dilmoon! Datang dari jauh untuk berdagang disini.
Dia kaum Makhan, pemilik kapal terbesar.
Pernah suatu ketika kapalnya mengangkut 100 orang penumpang selama 20 hari.
100 orang? Apa kapal mereka tidak terbalik?
Hanya mereka yang tahu.
Dan dia dari Bukhara, dari Bumi bagian utara.
Tapi hewan apa yang dibawanya itu?
Apa dia menghasilkan susu?/ Bukan susu, tapi dia bisa lari dengan cepat.
Apa nama hewan ini?/ Kuda.
Satu jam sudah berlalu!
Bisa untuk mewarnai pakaian atau mewarnai dinding.
Ambillah./ Kami akan barter 3 karung barangmu dengan 8 karung gandum milik kami.
Tidak, paling tidak 10 karung gandum./ Bukan 10, melainkan 8 karung.
Paling tidak lihatlah dulu.
Ini dihasilkan di tempat tinggi, ditanam dan dirawat dengan baik.
Dengan aliran sungai jernih Nara. Tumbuh dari kasih oleh warga Amri.
Ini barang terbaik, karena itu aku tak bisa menerima 8 karung.
Dengar!
Terima saja kesepakatan mereka, karena pembeli akan semakin sepi.
Sarman, ingat yang dikatakan Paman, jangan dengarkan dia.
Namun disini ada banyak pembeli, mengapa bisa menjadi sepi?
Penjual harus menjual barang daGanggannya secepatnya.
Karena bendungan yang dibuat di sungai Sindhu tak selamanya terbuka.
Bendungan?
Tunggu!
Hojo, kita akan jual dengan 8 karung.
Baik!
Gading gajah untuk hiasan rumah!
Terima kasih./ Aku Lothar, penjaga di Mohenjo Daro.
Sarman. Hojo.
Lothar.
Aku melihatmu memberikan kain pada pengemis, tak ada orang yang melakukan itu.
Jangan lakukan ini!
Kami penenun dari Kot Diji.
Sungai Shindu berubah aliran./ Sarman.
Dan menerjang desa, rumah, ladang, segalanya.
Kami tak punya makanan bahkan pakaian kami ikut terseret.
Dia Moonja, putera dari Raja Maham.!
Hanya ini yang tersisa dari desa kami.
Jika Tuan memebri kami empat Lapis Lazuli kami akan bangun kembali desa kami.
Dengar, untuk barangmu aku hanya bisa berikan 2 Lapis Lazuli.
Jika kau inginkan 4...
Setiap malam, semua gadis di desamu harus datang ke tempatku.
Tuan, tarik kembali ucapanmu!
Barang mereka layak 4 Lapis Lazuli. Jika tidak setuju jangan transaksi.
Bajingan, siapa kau? Apa kau tak mengenalku?
Siapa kau atau aku tak penting. Transaksi hanya punya satu aturan, yakni adil!
Disini, transaksi terjadi sesuai kehendakku.
Berikan 4 Lapis Lazuli, tak kurang dan tak lebih!
Jika tidak, batalkan transaksi!
Mengapa kalian berkumpul? Semua kembalilah ke tempat kalian.
Cepat! Pergi!
Jika kalian memang setuju dengan harga 2, maka lakukan, jangan basa-basi.
Tolong maafkan pedagang asing ini, dia tak paham aturan di Mohenjo Daro.
2 Lapis Lazuli! Masukkan barangnya ke dalam kereta!
Satu jam sudah berlalu!
Nyawamu terselamatkan. Jangan ulangi lagi kesalahan ini.
Lain kali aku tak bisa menyelamatkanmu.
No comments yet. Be the first to leave one.