Az első 200 sor.
Alam liar terbesar di dunia, laut terbuka.
Mencakup lebih dari setengah permukaan planet kita.
Di sini, tak ada tempat bersembunyi, dan sedikit yang bisa dimakan.
Ini kelautan yang setara dengan gurun.
Dan yang sedang berpatroli di gurun, lumba-lumba moncong panjang.
Mereka tetap bersama...
dalam rombongan berkuatan 5.000 pasukan.
Memaksimalkan peluang mereka menemukan makanan.
Seperti semua yang hidup di sini, mereka harus berupaya keras
menjadikan lautan luas ini sebagai rumah mereka.
Jarang terjadi saat lautan kosong ini dilonjaki dengan kehidupan.
Ikan lentera, lepas pantai Pasifik Costa Rica.
Mereka tak lebih besar dari ikan kecil,
tapi ukuran kecil tertutupi dengan jumlah mereka yang besar.
Mereka salah satu ikan paling banyak di mana-mana.
Biasanya, mereka ke permukaan hanya di malam hari
untuk memakan plankton,
tapi kawanan besar muncul di siang hari,
hampir pasti untuk bertelur.
Bagi lumba-lumba, itu adalah rezeki besar.
Mereka mendeteksi lokasi kawanan itu menggunakan panggilan bersuara-echo.
Tapi mereka harus bergegas.
Mereka bukan satu-satunya pemburu di sini.
Tuna sirip kuning juga mendeteksi kawanan itu.
Dan di belakang mereka, dengan sayap dua meter mereka, pari mobula.
Sekarang ikan layaran, salah satu ikan tercepat di laut,
turut bergabung dalam pengejaran.
Ikan lentera bisa kembali ke kedalaman setiap saat.
Tapi kini lumba-lumba sudah tiba di sini.
Mereka berenang di bawah kawanan, mendorongnya ke permukaan
dan memaksa ikan lentera lebih merapat.
Kini laut mulai bergolak.
Tuna menerobos kawanan itu dalam kecepatan 40mph.
Pari yang berenang lebih lambat, akhirnya tiba.
Dengan mulut besar yang menganga lebar,
mereka meraup ratusan ikan lentera.
Kawanan itu kini menyebar ke mana-mana,
dan ikan layaran memungut yang masih selamat.
Hanya dalam 15 menit,
yang tersisa tinggal tebaran sisik keperakan.
Tapi di sini, pesta semacam itu jarang terjadi.
Sementara lumba-lumba mencapai keberhasilan luar biasa,
yang lain terdorong bertindak lebih ekstrim
untuk menemukan makanan di gurun samudera ini.
Raksasa tidur.
Seekor paus sperma.
Keluarga ini beristirahat di sela-sela mencari makanan.
Entah apa yang sedang dimimpikan
oleh si pemilik otak terbesar di bumi ini.
Salah satunya memiliki anak.
Ia berusia sekitar dua minggu tapi masih menyusui induknya.
Ia lapar.
Ia berkomunikasi dengan induknya dengan suara berpola klik.
Tapi induknya tertidur lelap.
Si anak, yang belum bisa menyingkirkan ikan-ikan penghisap di sekujur tubuhnya,
harus bersabar.
Usai tidur dan merasa segar, paus-paus ini lanjutkan perjalanan.
Paus sperma tak menunggu mangsa muncul di permukaan.
Mereka berenang ke kedalaman untuk menemukannya.
Mereka menarik nafas dalam-dalam....
untuk mengisi darah mereka dengan oksigen.
Lalu menyelam ke bawah.
Seluruh keluarga ini menyelam bersama untuk mencari cumi-cumi.
Induk paus akan kerahkan kekuatan hingga batas daya tahannya,
dan sulit bagi anaknya untuk terus mengikutinya.
Si anak menempel pada induknya sedekat mungkin...
berulang kali menyentuhnya, seolah untuk meyakinkan.
Tapi 300 meter ke bawah,
si anak tak bisa menahan nafas lebih lama lagi.
Di awal-awal tahun mereka, anak paus dipaksa untuk berburu.
Paus dewasa meneruskan penyelaman mereka.
Si induk mengubah panggilannya
dengan serangkaian klik yang lebih cepat dan nyaring.
Kini ia menggunakan sonar untuk memburu sekawanan cumi-cumi.
Di kedalaman 800 meter, sebuah semburan suara klik.
Lalu hening.
Ia sudah menangkap mangsa.
Si anak bisa menunggu lama di permukaan.
Si induk kembali dari kedalaman sekitar sejam kemudian.
Perutnya dipenuhi cumi-cumi.
Akhirnya, anak yang lapar ini bisa menyusu.
Paus penghasil susu terbanyak di antara mamalia,
dan anak paus bisa meminumnya seharian penuh.
Butuh enam tahun sebelum anak paus menguasai seni menyelam di kedalaman
dan bisa mencari makan sendiri.
Kehampaan laut luas membuat hidup begitu sulit untuk berburu.
Tapi kehampaan ini relatif menjadi aman bagi para mangsa.
Seekor bayi kura-kura yang baru menetas sehari lalu, meninggalkan kawanannya
ke perairan pantai yang berbahaya menuju lautan lepas.
Baru belakangan ini kita mulai memecahkan misteri
perihal menghilangnya bayi kura-kura di awal-awal tahun mereka.
Untuk memulai, mereka mengisi perut dengan plankton.
Tapi tak lama kemudian, mereka butuh yang lebih subtansial lagi.
Ratusan mil lepas pantai, di setiap samudera,
terdapat komunitas anak-anak satwa yang terdampar.
Jadi, apa pun yang mengapung, bisa menarik perhatian mereka.
Sebatang balok kayu.
Mungkin sudah bertahun-tahun berada di laut,
dan sudah menjadi pusat komunitas kecil.
Anak ikan buntal ke sini dengan alasan serupa.
Balok kayu mengambang adalah tempat perlindungan
yang dicari-cari anak kura-kura ini.
Di sini tak hanya ditumbuhi rumput laut, tapi juga teritip.
Tapi penting baginya untuk tetap berlindung.
Anak hiu sutra yang baru menjelajah lautan juga ke sini.
Ia mempelajari apa yang lezat,
dan yang tak lezat.
Kini kita tahu, banyak anak kura-kura yang tinggal di tempat semacam itu,
selama beberapa tahun, hingga dewasa.
Meski harus menghadapi kekuatan penuh lautan lepas.
Sinar matahari menerpa laut lepas,
menghangatkan permukaan air hingga menguap.
Saat naik, uap mengembun menjadi awan.
Awan itu dengan cepat berkembang menjadi menara raksasa,
yang akhirnya membangkitkan badai dasyat di sepanjang 1.000 mil.
Angin badai menyapu lautan terbuka,
menghasilkan gelombang yang bisa mencapai 30 meter.
Di sini, banyak kapal yang karam tanpa bisa dilacak.
130 juta kontainer melintasi samudera seriap tahun.
Dan rata-rata, empat di antaranya tenggelam di laut setiap hari.
Tahun 1992, beberapa kontainer yang hilang, mengangkut kiriman mainan bak mandi...
termasuk 7.000 bebek plastik seperti ini.
Mereka mulai menjelajah sejauh 1.000 mil dari Alaska.
Sebagian melintasi Samudera Pasifik dan tiba di Australia.
Yang lain terhanyut ke utara
dan berlabuh di pesisir antara Rusia dan Alaska.
Mereka bahkan ditemukan sedang menuju Dataran Tinggi Arktik.
Satu bebek yang sudah 15 tahun di laut dan melintasi tiga samudera,
akhirnya berlabuh di pantai barat Skotlandia.
Perjalanan mereka dengan jelas menggambarkan bagaimana jaringan arus
menghubungkan semua samudera ke dalam satu sistem sirkulasi raksasa.
Banyak penghuni laut lepas yang bergantung pada arus-arus ini
untuk membawa mereka ke tempat makanan.
Hiu biru.
Ia menjelajah lebih dari 5.000 mil setahun,
mengikuti arus, didukung dengan siripnya yang berbentuk sayap lebar.
Hiu ini belum makan selama dua bulan,
Tapi arus bisa membawa jejak-jejak minyak lemak yang menjanjikan
dari kejauhan beberapa mil dan akan menuntun hiu menuju makanan berikutnya.
Setelah perjalanan berhari-hari, bau makanan kian kuat.
Bangkai paus, baru saja tersambar kapal.
Ini bisa menjadi ajang pesta, tapi hiu biru harus waspada.
Hiu-hiu putih...
sepuluh kali lebih berat dari hiu biru...
sangat posesif di sekitar bangkai paus.
Hiu putih gemar melahap kandungan lemak paus yang kaya energi,
yang kita tahu, membentuk bagian utama dari pola makan mereka.
Saat hiu putih sudah kenyang,
Hiu yang lebih kecil, seperti hiu biru, melahap sisa bangkai.
Karena minyak bangkai paus ini menyebar lebih luas,
kian banyak hiu biru yang muncul.
Selama berhari-hari, lemak bangkai itu dicabik-cabik.
Lalu, tak lagi terapung oleh minyaknya,
bangkai ini tenggelam ke kedalaman di bawah.
Hiu biru, yang sudah terisi cadangan lemak,
kini bisa bertahan tanpa makan hingga dua bulan ke depan.
Lebih dari separuh hewan di laut terbuka terbawa dalam arus.
Ubur-ubur melintasi berbagai samudera,
memakan apapun yang terjerat tentakel mereka.
Sebagian bisa bertumbuh hingga satu meter, bahkan dua meter.
Dan saat kebetulan mereka temukan sebidang laut yang kaya plankton,
jumlah mereka melonjak.
Suatu strategi yang sukses
bahwa ubur-ubur adalah salah satu bentuk kehidupan paling umum di bumi.
Tapi di antara ubur-ubur, dan agak serupa dengan mereka,
adalah makhluk yang lebih kompleks dan jahat.
Ubur-ubur api.
Ia mengapung dengan bantuan kandung kemih berisi gas,
yang diatapi dengan membran vertikal.
Dengan kegunaannya sebagai layar,
membran itu memepertahankan alur stabil melewati ombak.
Serabut di belakangnya sepanjang 30 meter.
Masing-masing dipersenjatai dengan ribuan sel menyengat.
Satu tentakel bisa membunuh seekor ikan atau, dalam kasus yang jarang, manusia.
Tapi di antara tentakelnya yang mematikan itu,
ubur-ubur api menangkap ikan yang menggigit tentakelnya.
Selagi ikan ini kebal sengatan,
ia harus tetap sangat berhati-hati.
Kebanyak ikan lain tak begitu beruntung.
Satu tentakel menangkap seekor ikan dan menjeratnya.
Ikan itu sudah dilumpuhkan.
Tentakel otot khusus memindahkan mangsa ke tentakel lain
yang mencerna tangkapan, mencairkannya dengan bahan kimia kuat.
Akhirnya, yang tersisa...
hanyalah kulit bersisik.
Ubur-ubur api yang rakus ini
menangkap lebih dari 100 ikan kecil dalam sehari.
Bagi sebagian besar, laut lepas tampak tak istimewa...
tempat di mana angin berhembus, tanpa terhalang daratan.
Tapi di bawah permukaannya terdapat jajaran panjang pegungungan,
parit dalam dan puncak gunung berapi yang terisolasi,
yang membuatnya jauh lebih variabel dari yang bisa dilihat mata manusia.
Kita hanya baru menemukan rincian
bagaimana para penghuni laut lepas memanfaatkan itu.
Seekor hiu paus melakukan perjalanan istimewa.
Berukuran sepanjang pesawat kecil dan berbobot lebih dari 20 ton.
Seperti kebanyakan hiu, betina ini tidak bertelur, tapi melahirkan anak.
Ia mengandung hingga 300 bayi dalam perut kembungnya.
Ia mungkin ikan terbesar di laut,
tapi tempat hiu paus melahirkan belum pernah ditemukan.
No comments yet. Be the first to leave one.