Les 200 premières lignes.
Jalan saja, akan kubantu.
Ini...
Aku ingin bilang, ini benar-benar bagus!
Benar-benar unik. Luar biasa!
Kau baik-baik saja?
Aku bisa melakukannya.
Kau yakin?
Pasti di sini banyak sejarahnya.
Aneh sekali rasanya, sekarang kita menjadi bagian dari sejarah itu.
Di sini ada
tiga kamar lain, kalau kau tidak suka dengan yang ini.
Bukan soal kamarnya.
Aku akan berjuang untuk kita, Nia.
Aku berjanji.
Aku tahu.
Karena kalau kau tidak...
Kau sudah kembali?
Hei!
Akhirnya!
Oh, kau membuat panekuk?
Bukan!
Ini dia, silahkan.
Oh.
Dengar, tekanan darahmu akan berterima kasih padaku
saat kau tua nanti.
Justru yang membuat tekanan darahku naik itu bukanlah makanan,
tapi karena tinggal bersamamu.
Hm. Buah terlarang yang menggoda.
Aku akan jalan-jalan sebentar.
Ke mana?
Dengar. Aku hanya...
Aku hanya ingin kau sangat berhati-hati, oke?
Dengar,
kalau hanya ada kita berdua di sini,
aku tidak mau menjadi satu-satunya hiburanmu.
Nia, tunggu.
Aku sudah makan coklat waktu jalan pulang tadi.
Apa yang kau lakukan?
Aku tidak akan membersihkan itu.
Itu balas dendam karena coklat ya?
Yah.
Kau membawaku ke rumah tua ini,
kau kira apa lagi yang bisa kulakukan saat luang?
Mau dengar sesuatu yang lucu, agar kau terhibur?
Boleh.
Tapi ini humor gelap.
Katakan saja.
Lucu kalau dipikir lagi, kau bisa meninggal karena kebakaran,
tapi kau tetap dikremasi.
Astaga, Nia.
Kurasa Ayah akan tertawa mendengar itu.
Kalau Ibu sih, mungkin tidak.
Bagaimana, kau sudah memindahkan barangmu?
Belum mulai.
Kau sudah bosan atau belum?
Dari awal sudah bosan.
Ayo, kita lakukan sesuatu yang seru.
Kau tahu, ini bukan seperti yang aku bayangkan.
Waktu kau bilang kita harus melakukan sesuatu yang seru.
Dulu kau suka sekali bermain catur bersama.
Iya, pelan-pelan saja ngomongnya. Tidak perlu memberitahu semua orang.
Jangan sentuh itu.
Kau tahu,
aku tidak ingin menghabiskan waktuku,
dengan bermain catur.
Ayolah.
Aku sedang bercerita, kau jangan melihatku seperti itu.
Aku tahu, aku seharusnya lebih banyak meluangkan waktu untukmu.
Aku seharusnya hadir waktu kau ada pertandingan,
membantumu mengerjakan tugas juga,
dan jadi tempatmu bersandar.
Aku... aku tidak butuh semua itu.
Aku hanya... yang aku butuhkan hanya...
kau.
Aku tidak bisa mengubah masa lalu, Nia.
Tapi aku janji.
Dengar.
Aku janji, aku ada di sini sekarang.
Dan aku tidak akan pergi ke mana-mana.
Oke?
Selama kita masih punya atap untuk berteduh,
dan makanan untuk dimakan,
aku merasa, aku sudah melakukan sesuatu dengan benar.
Wah, itu langsung jadi serius sekali ya.
Skakmat!
Oke.
Aku akan pergi ke toko, membeli makanan ringan,
kau tahu, makanan sungguhan, dan mungkin sedikit minuman beralkohol,
lalu kita mulai pestanya.
Nia?
Kau mau pergi sendiri?
Oke.
Kau tidak apa-apa!?
Iya, hanya terpeleset.
Terpeleset karena apa?
Tidak masalah, hanya terpeleset.
Aku hanya meninggalkanmu selama lima menit saja!
Ayolah.
Dion, aku tidak apa-apa, tidak apa-apa.
Siapa kau?
Dion, ini aku.
Ini aku!
Berhenti, berhenti, berhenti!
Sedang apa kau di kamarku!?
Di mana Nia?
Tenang dulu.
Nia!
Di mana adikku?
Adikmu?
Dia tidak ada di sini.
Tidak ada siapa-siapa.
Nia!
Nia!
Nia!
Nia!
Nia!
Dion.
Tarik napas.
Apa yang sedang terjadi padaku?
Aku tidak tahu seberapa banyak yang kau ingat,
atau apakah kau sadar atau tidak dengan apa yang sedang terjadi sekarang?
Apa yang benar-benar kau ingat?
Ingat apa?
Kenapa kau di sini?
Di rumah ini?
Rumah kami terbakar habis.
Aku dan Nia, kami mendapat rumah ini.
Oke, Dion, aku takut untuk menjelaskan ini padamu.
Tapi seluruh keluargamu meninggal, malam itu saat kebakaran.
Tidak perlu, aku tahu itu.
Tidak, maksudku semuanya.
Termasuk Nia.
Tidak, tidak, tidak.
Tidak mungkin. Aku baru saja bersamanya. Tidak mungkin.
Bisa kau jelaskan, di mana kau bersama dengannya?
Di sini! Di rumah ini!
Dion.
Kau mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi?
- Itu yang... - Bangun!
Nia.
Tolong, bangun!
- Nia! - Aku mohon bangunlah!
Nia!
- Nia! - Dion, tolong.
Ya ampun.
- Aku tidak tahu harus bagaimana. - Nia!
Ya ampun, tolong bangun.
Ya ampun.
Tolong bangun, aku butuh kau untuk bangun. Tolong!
Bangunlah!
Ah, Nia!
Kau tidak apa-apa?
Ya. Ayo masuk.
Apa kita akan membicarakan ini?
Atau kita hiraukan saja masalah ini?
Maksudku,
Aku tidak masalah, ini pemakamanmu.
Aku tidak tahu.
Mungkin aku sedang bermimpi?
Kurasa itu lebih dari sekadar mimpi.
Kau mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi?
Kau seperti sedang mengalami mimpi buruk.
Ngomong-ngomong, terimakasih.
Lalu,
kurasa kau terbangun... seperti...
dalam lamunan.
Seperti berjalan dalam tidur, tapi...
bukan.
Seolah-olah kau sedang tidur
dan sadar di saat yang sama.
Lalu aku terus mencoba membangunkanmu dan...
Kau terus menggumam sendiri tentang seorang... wanita?
Wanita itu.
Aku terus melihat wujudnya.
Kita akan kembali ke situ nanti, tapi lanjutkan dulu.
Beberapa malam lalu.
Dia berdiri di ujung tempat tidurku.
Aku ada di sini, tapi maksudku bukan benar-benar
'di sini'.
Tempat itu sangat familiar, Nia, tapi,
juga, asing.
Dia bilang begitu.
Apa?
Tahu-tahu kami sudah berjalan di luar.
Tapi kau tahu ini semua nyata, kan?
Di sini dan sekarang, bersamaku?
Aku tahu ini terdengar aneh.
Aku percaya denganmu, aku hanya...
Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Apa kau butuh bantuan?
Apa?
Tidak, tidak perlu.
Itu dia kan, wanita itu?
Tidak, tidak, tidak.
Kau bisa melihatnya sekarang?
Nia, tolong.
Aku hanya...
Nia, berhenti!
Nia, aku minta maaf!
Sepertinya cuacanya mulai berubah ya?
No comments yet. Be the first to leave one.