Ang unang 123 linya.
Satu mimpi, satu harapan
Bila kau ingin mewujudkannya
Lampaui batas atas
Berangkat ke dunia yang belum diketahui
Melampaui angin dan ombak yang kuat
Kuharus tetap maju bila kumau jadi yang pertama
Menunda dan merasa khawatir
Semuanya tenggelam dan berenang
Saat musuh terlihat menakutkan
Itu tandanya kalau hatimu menyusut
Melarikan diri bukanlah pilihan
Ambil satu langkah lebih dekat
Disebut kurang sopan itu pujian, 'kan?
Saat semuanya jadi sulit, itulah saatnya harusnya tertawa
Bila kau ingin cari hari esok yang baru
Sempurnakan kepercayaan dirimu yang unik itu
Sampai langkah kakimu...
Ya, sampai berubah jadi peta
Cakrawala yang baru
Lihatlah, seberapa jauh kau telah pergi
Lebih cerah dan tingkat kesulitannya meningkat
Hiduplah dalam mimpimu dan membadailah
Sekarang, naikkan peringkat
Satu mimpi, satu harapan
Mimpimu takkan pergi, hancurkan semuanya
Lampaui batas atas
Agar bisa bawa Otama ke dokter,
Luffy pun tinggalkan Desa Amigasa dan berpapasan dengan Zoro di jalan.
Tapi Hawkins yang jadi bawahan Kaido mengadang jalan mereka!
Nigiri!
Toro...
...Samon!
Setelah lolos dari Hawkins, Luffy dan yang lainnya menuju ke kedai teh Otsuru.
Di kedai teh, sang pelayan, Okiku, dipukul oleh Urashima, pesumo No. 1 di Negeri Wano.
Hoi, maaf, badan gendutmu itu menghalangi jalan.
Minggir.
Sementara itu,
ada sekelompok orang yang memata-matai pergerakan Luffy dan teman-temannya.
Hari Terbaik dalam Hidupku Otama dan Sup Kacang Merah
Tama! Bertahanlah!
Tama!
Ini adalah Ramuan Pembunuh Iblis.
Agak pahit sih, tapi manjur. Minumkan kepadanya.
Tama. Ini obatnya.
Diminum!
Tahan pahitnya, ditelan!
Minum!
Minum!
Lenganmu berdarah.
Oh, hanya tergores, kok.
Harus segera diobati...
Nanti juga sembuh sendiri.
Tidak!
Ya?
Oh, kau sudah bangun, ya?
Kakak! Pemilik Kedai!
Aku di mana?
Ini kedai tehku.
Komachiyo!
Maaf buatmu khawatir.
Otama!
Bagaimana perutmu?
Sakit tidak, Otama?
Rasanya enakan!
Cepat sekali reaksinya!
Ramuan Pembunuh Iblis memang obat yang sangat menakjubkan.
Terima kasih, Semuanya!
Tapi...
Racun dalam tubuhmu tak bisa dihilangkan sepenuhnya.
Jadi, jangan pernah minum air sungainya lagi, Otama.
Ya, aku mengerti!
Jangan berisik dong, Perut! Samurai mana boleh begini!
Air!
Sungai!
Otama! Hentikan!
Air sungai...
Ha?
Apa?
Air sungai...
Jangan pernah diminum lagi!
Nah, sudah selesai. Ini sekalian untuk hiasan juga, sih.
Ya. Terima kasih.
Badanmu besar sekali.
Tapi Big Mom jauh lebih besar.
Terima kasih karena sudah selamatkanku saat si sumo itu menyerangku barusan.
Aku tak lakukan apa pun, kok.
Aku lupa memperkenalkan diri.
Sessha: Kata "aku" yang sering diucapkan samurai wanita
Namaku Okiku.
Sessha?
Apa?
Tidak. Tak boleh. Tidak, tidak!
Jangan begitu, dong!
Ayo, silakan dimakan.
Kumohon! Ambil kembali, Pemilik Kedai!
Aku bahkan tak punya uang untuk bayar obat barusan!
Mana bisa aku bayar sup kacang merah ini?
Kau tak perlu membayarnya.
Tidak!
Aku tak boleh memakannya!
Aku tahu kau dan Okiku juga jarang makan!
Tak masalah, kok. Tak usah malu-malu.
Kau sudah selamatkan nyawaku dan sekarang kau mau beriku makanan!
Mana bisa aku menerimanya?
Tak masalah, kok.
Tidak!
Kubilang tak masalah!
Aku pasti akan bayar kembali obatnya apa pun yang terjadi.
Sudah cukup!
Apa?
Sekali perempuan menghidangkan makanan...
"Aku tak mau."
"Nanti saja."
Kau kira dia akan membiarkannya begitu saja?
Kalau kau tak mau memakannya...
Biar kubuang saja makanannya!
Tidak!
Otama, makan saja!
Otsuru tak suka ditolak.
Sampai kapan kau mau duduk saja seperti itu?
Harusnya kau senang! Hari ini kan hari ulang tahunmu!
Benarkah?
Kudengar sih begitu.
No comments yet. Be the first to leave one.