200 ensimmäistä riviä.
Saksikanlah, Zeus...
dan seluruh dewa di puncak Olympus!
Aku menghukum putriku, Danae...
dan putranya, Perseus, untuk diberikan pada laut!
Kesalahan dan dosanya...
telah membuat malu Argos.
Aku, Acrisius, sang raja...
kini mencuci bersih kejahatannya dan mengembalikan kehormatanku!
Darah mereka tak bersimbah di kedua tanganku!
Sekarang!
PERTIKAIAN PARA TITAN
Sudah dilaksanakan.
Raja Acrisius dari Argos telah membuang putrinya beserta anaknya...
ke laut.
Kalau begitu, dia akan dihukum.
Kejahatan yang kejam dan tak kenal belas kasihan!
Ini penghinaan!
Betapa lancangnya raja lalim itu berdoa padaku untuk dimaafkan kecemburuan...
dan pembalasan dendamnya yang kejam!
Acrisius selalu tunjukkan kesetiaannya pada dewa-dewa Olympus!
Dia mendirikan banyak kuil dan mempersembahkannya untukmu...
Zeus yang agung, ayah para dewa.
Seratus kebaikan tak bisa menebus satu pembunuhan.
Seribu kuil, tempat suci atau patung, apakah itu dipersembahkan untukku...
atau untukmu, Hera, istriku...
atau untuk Thetis, dewi laut.
Atau bagimu, Athena, yang bijaksana dan penuh kepedulian.
Atau bagi Aphrodite, dewi cinta.
Tak ada yang bisa menghapus atau memaafkan...
tindakan biadab yang hina ini!
Apakah ini penting?
Kematian seorang perempuan dan anaknya?
Perempuan? Itu putrinya!
- Setelah kesetiaan seumur hidup... - Cukup! Aku sudah memutuskan.
Acrisius harus dihukum...
beserta dengan rakyatnya.
Dewa Poseidon...
kuperintahkan padamu untuk mengangkat angin dan laut.
Hancurkan Argos!
Untuk memastikan tak ada bangunan yang berdiri, tak ada makhluk yang merangkak...
kuperintahkan padamu untuk melepaskan makhluk Titan yang terakhir.
Lepaskan Kraken!
Kerajaan Acrisius harus dihancurkan!
Seperti perintah Anda.
Tapi pastikan...
tak ada bahaya yang menimpa Danae muda atau putranya.
Amankan mereka ke tepi pantai terpencil dan damai. Pergilah cepat.
Tak ada belas kasihan, tak ada ampun. Mengapa?
Zeus, suamimu, mencintai wanita itu.
- Danae? - Dia sangat cantik.
Begitu cantiknya hingga Acrisius semakin cemburu dan mengurungnya...
di balik pintu-pintu besi.
Tapi Zeus mengubah dirinya menjadi bak mandi emas...
- dan mencintainya. - Lalu mengapa harus kukasihani?
- Biarkan dia tenggelam bersama anaknya! - Anak itu, Perseus, adalah putra Zeus.
Itu sebabnya dia mesti diselamatkan...
dan mengapa Argos dihancurkan.
Danae dan anaknya sudah dibawa dengan selamat ke pulau Seriphos.
Seriphos.
Biarkan Danae dan anaknya hidup dengan aman...
dan bahagia.
Perseus, dia tumbuh menjadi seorang pemuda.
Masa kecilnya bahagia. Dengan tubuh tegap dan wajah tampan...
apa lagi yang manusia bisa inginkan atau patut dapatkan?
Bagaimana dengan putraku Calibos?
Kejahatannya tak bisa dimaafkan.
- Ampuni dia. Tunjukkan belas kasihmu. - Itu tidak mungkin!
Calibos...
memanfaatkan setiap keuntungan!
Kau, sebagai dewi penjaga kota Joppa, telah memanjakan...
dan menuruti kemauannya sejak dia lahir.
Kau ijinkan dia menguasai Mata Air Bulan, dan dia membunuh semua makhluk hidup!
Dia memerangkap dan membunuhi kawanan kuda terbang suciku...
dan kini hanya ada kuda jantan, yaitu Pegasus, yang tersisa.
- Karena itu, putramu harus dihukum. - Aku mohon padamu. Ampuni dia.
Dia akan menjadi makhluk mengerikan bagi pandangan manusia.
Dia akan terpaksa hidup sebagai makhluk terbuang di rawa-rawa dan paya.
Dia akan diubah bentuk menjadi bahan tertawaan manusia.
Tanda memalukan dari kekejamannya yang keji.
Ini keputusan akhirku.
Tidak, aku mohon padamu.
Dia ditakdirkan menikahi Putri Andromeda.
Dia akan menguasai Joppa dan Phoenicia.
Biarkan putri itu mempertimbangkan dirinya sekarang!
Sabarlah. Dia bisa berubah pikiran.
Kalau yang bersalah anaknya sendiri Perseus, dia pasti akan memaafkannya.
Tapi untuk putraku Calibos, tak ada ampunan, tak ada harapan.
- Tak ada pernikahan dengan Andromeda. - Bagaimana bisa jadi begini?
Jika putraku...
tidak bisa menikahinya...
maka tak ada laki-laki yang bisa menikahinya.
Para pendetaku di Joppa adalah pengikut setia.
Aku akan bicara dengan mereka dalam mimpi dan pertanda.
Karena Calibos menderita...
maka Andromeda juga akan menderita.
Aku janji padamu.
Putra Zeus ditinggalkan dengan banyak peluang baik...
sementara putraku dihukum dengan keadaan fisik yang cacat.
Waktunya untuk ikut campur tangan.
Waktunya kau melihat sesuatu yang ada di dunia, Perseus.
Waktunya kau berhadapan dengan rasa takut.
Waktunya untuk mengenal ngerinya kegelapan dan melihat kematian.
Waktunya matamu melihat kejamnya kenyataan.
Jauh di timur, di seberang laut...
di Joppa...
di kerajaan Phoenicia.
Siapa kau?
Siapa kau?
Tunjukkan dirimu!
Siapa kau?
- Katakan di mana aku! - "Di mana"?
Di mana aku?
Kau serius kalau tak tahu ada di mana dirimu?
Aku tak tahu.
Mari bersabar sejenak. Namaku Ammon.
Aku seorang penyair dan penulis sandiwara. Dan kau?
Namaku Perseus.
- Aku pewaris kerajaan Argos. - Demi para dewa!
Bagaimana kau ada di sini?
Aku tak yakin aku tahu di mana "di sini" itu.
Ini adalah teater Joppa.
- Di mana? - Kota besar Joppa.
Tapi bagaimana bisa?
Aku terbaring di pinggir pantai sedang menatapi rembulan.
Rembulan!
Itu mungkin menjelaskan semuanya. Kau lihat, rembulan...
mempengaruhi pikiran.
Kurasa kita akan lebih aman di dalam, menjauh dari udara malam ini.
Aku harus minta maaf atas busana dan efek teater yang dramatis ini.
Aku menggunakannya untuk mengusir orang yang penasaran.
Ini membuat mereka berpikir bahwa teater ini berhantu.
- Mengapa semuanya begitu terabaikan? - Ini adalah sisa dari masa lalu.
Kerajaan ini dikutuk, dan kota ini berada dalam keputus-asaan.
Semua orang di sekitar sini menggumam:
"Jangan sebut bahagia pada manusia yang tidak mati!"
Sekarang, teman mudaku.
Katamu, namamu adalah Perseus, pewaris kerajaan Argos?
Ya.
Tapi sekarang ini aku jalani seluruh hidupku di Seriphos.
Kelak aku akan kembali memperoleh Argos kembali.
- Setelah aku lahir, ibuku dan aku... - Aku tahu!
- Kau tahu? - Tentu saja.
Putri yang cantik dan penguasa lalim yang cemburu...
kau dan ibumu dibuang ke laut...
dan kehancuran Argos.
Kisahnya sudah terkenal di tempat ini selama lebih dari 20 tahun.
Aku menulis sebuah puisi untuk itu.
- Cukup menggugah, seingatku. - Kalau begitu...
bisakah kau jelaskan apa yang terjadi padaku malam ini?
Para dewa Olympus itu misterius, dan tujuan mereka tak menentu.
Saranku untukmu:
Kembalilah ke Seriphos secepat yang kau bisa.
Tapi permintaan terakhir ibuku adalah agar aku mengembalikan negerinya.
Joppa akan jadi tempat yang lebih baik untuk memulai dibanding pulau terpencil itu.
Wah, kalau begitu...
kau mesti mendapat sesuatu yang lebih pantas untuk dikenakan.
Maksudku, sesuatu yang lebih cocok...
sesuatu yang lebih layak bagi seorang pengeran. Keluar!
Dan lihatlah ini!
Kelihatannya bagus.
Sangat bagus sekali.
Pedangmu.
Selamat datang di Joppa, Pangeran Perseus.
Kau letakkan dia dengan keadaan setengah telanjang di kota aneh itu?
- Kebetulan? - Bukan kebetulan dan kau tahu itu!
Tindakan jahat disengaja yang tak pantas dilakukan oleh seorang dewi!
- Kau menuduhku? - Satu hal yang pasti.
Putraku membutuhkan lebih dari jubah dan pedang kayu milik seorang aktor!
Berikan dia senjata yang sepantasnya. Senjata yang mengandung sifat kedewaan.
Sebuah pelindung kepala!
Sebilah pedang!
Sebuah tameng!
Dan dia harus memilikinya dengan segera!
- Semua demi cinta Danae. - Tidak!
Begitu banyak wanita yang tertarik padanya, dia tak bisa mengingatnya.
Kesombongannya yang bodoh dalam diri seorang putra yang tampan.
Seperti katamu, begitu banyak wanita. Semua perubahan bentuk dirinya...
untuk merayu mereka. Terkadang bak mandi emas...
banteng atau angsa. Dia coba cabuli aku dengan menyamar jadi ikan sotong.
- Apa dia berhasil? - Tentu saja tidak.
- Apa yang kau lakukan? - Kalahkan dia dalam permainannya sendiri.
Aku mengubah diriku sendiri menjadi seekor hiu.
Kau bangun bersama matahari. Pagi yang indah!
Ajaib!
Aku temukan ini di dekat patung ini.
Itu patung perwujudan dewi cinta. Luar biasa.
- Sebilah pedang? - Ya.
- Ini bukan pedang biasa. - Ini logam yang asing.
Ini bukan kuningan atau pun besi. Bukan seperti logam yang pernah kulihat.
Demi para dewa!
Itu sebuah tameng!
Dan di sana ada pelindung kepala!
Aku sudah benar mengatakan, "Demi para dewa!"
Siapa lagi yang membuat sebilah pedang...
yang bisa membelah batu pualam yang keras...
tanpa meninggalkan cacat sedikit pun di mata pedangnya?
Jika pedang ini bisa lakukan itu...
bagaimana dengan pelindung kepala dan tamengnya?
Maka dari itu, sebaiknya kau cari tahu.
- Akan kucoba pelindung kepalanya. - Jangan! Coba aku dulu.
No comments yet. Be the first to leave one.