200 ensimmäistä riviä.
Aku sudah dengar kabar dari penerbit.
Sayangnya hasil penjualan tak seperti yang terakhir.
Dan menurut mereka ini bakal jadi cetakan terakhir.
Tapi mereka ingin membahas proyek berikutnya.
Mereka bilang hal yang sama sebulan yang lalu.
Butuh waktu lama untuk bilang iya dalam bisnis ini.
Atau tidak.
Jika mereka tak suka bukunya, harusnya bilang saja.
Bukan seperti itu caranya.
Tapi aku ingin kau mulai menulis buku selanjutanya.
"Lakukan Sendiri...,
Bersama."
Judulku lebih baik darimu.
Baiklah, terima kasih sudah memberi kabar.
Aku akan mencari cara.
Kau selalu begitu.
Akan kukabari segera setelah dapat sesuatu.
Jangan biarkan itu menurunkan semangatmu.
Penerjemah: xtalplanet Instagram: @BENGKELSUB
Yang ini enak.
Untukku?
Banyak kepingan cokelatnya.
Kau tak tahu apa kesukaanmu dan apa kesukaanku. Itu beda.
Semua orang suka cokelat.
Tapi setiap orang beda selera.
Individu adalah sekumpulan ketidaksadaran...,
Aku bukan mahasiswa folosofimu yang baru.
Lihat? Nietzsche itu enak.
Penandatanganan?
Pertemuan itu selalu berakhir dengan tanda tangan.
Kenapa tak tanda tangani duluan...,
dan hindari pertemuan?
Bukan begitu caranya.
Ini bisa membahayakan seseorang.
Pastinya.
Aku hanya...,
ingin fokus pada hal lain saat ini,
bukan buku, tanda tangan, atau pertemuan.
Memangnya sedang fokus apa?
Kita.
Esnya mencair.
Iyakah?
Karena masih terasa dingin.
Astaga! Tanganku membeku.
Mungkin kau terlalu sensitif.
Kau ingin aku yang memegang es krimnya?
Sudah malam.
Ini Edie.
Ini sudah malam.
Maaf, tapi kau bilang aku harus menelepon...,
kapan pertemuanmu di hari Rabu.
Dan? / Pukul 1 siang.
Lain kali kirim pesan saja.
Baiklah.
Maaf. / Aku sudah tertidur lagi.
Ted.
Ted!
Ted.
Ted, bangun. / Apa?
Aku melihat seseorang di luar.
Apa?
Seorang pria ada di belakang rumah kita.
Sayang, itu orangnya.
Apa?
Pria itu...,
yang datang setiap malam dan mencoba membunuh kita.
Baiklah. Aku bangun.
Tak baik ketahuan di ranjang. Ini tempat buruk.
Dia melakukan itu. Tak ingin membuang waktu.
Siapa pria itu?
Sebaiknya dia tak bawa senjata malam ini.
May, ayo, bangun.
Kita harus berjuang demi hidup kita sekarang.
Ted, kau bilang apa...,
May.
Ted.
Ted.
Ted!
Ted.
Sedang apa kau di sini?
Keluar dari rumahku.
Keluar dari rumahku.
Kau bahkan tidak memeriksaku di ruang tamu.
Ayo pergi.
Kau baik saja?
Kita tinggalkan dia di sana, atau...,?
Aku yakin dia sudah pergi.
Bagaimana dia bisa masuk?
Dari yang aku tahu...,
dia memecahkan jendela ruang makan depan.
Lalu turun lewat tangga, dan aku memergokinya.
Bagaimana perasanmu?
Kepalaku sakit sekali. Beberapa goresan. Tak apa-apa.
Untungnya kau terbangun.
Kalian berdua beruntung.
Apa kau kenal pria itu?
Tidak.
Aku belum pernah melihatnya.
Bagaimana denganmu?
Aku...,
tidak mengenalnya juga.
Baik.
Bisa jelaskan apa yang dia kenakan?
Kami akan suruh anggota kami melacaknya.
Tidurmu terganggu. Mungkin ini yang kau butuhkan.
Ya.
Apa?
Kurasa aku kehilangan akal sehat.
Pasti dia masuk dari situ.
Kupikir itu mimpi,
atau mungkin halusinasi atau semacamnya.
Sungguh imajinasi yang gila jika memang benar begitu.
Jadi itu nyata?
Pria yang masuk rumah kita?
Ya.
Itu sangat nyata.
Ya, tapi kau mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang aneh. Mungkin aku salah paham.
Jelaskan apa yang terjadi.
Maksudmu apa?
Kau bilang ada pria yang memasuki rumah kita...,
Setiap malam dan mencoba membunuh kita.
Apa?
Mungkin dia hanya mengincarmu. Tapi harus bagaimana lagi?
Ted, kau bicara apa? Itu bukan lelucon lucu.
May, lupakan.
Mana bisa aku melupakan saat ada pria...,
yang masuk ke rumah kita tadi malam?
Aku takut. Siapa memangnya dia?
May, ayolah.
Apa yang salah denganmu?
Apa yang coba kau lakukan sekarang?
Aku berusaha membantu.
Nah, usahamu tampaknya buruk.
Lagi-lagi.
Kau mencoba menyalahkan aku, ya?
Aku tak bisa mengubahnya, May. Itulah yang terjadi.
Bukan masalah apa yang terjadi.
Memang itu yang terjadi.
Setiap malam seorang pria datang ke rumah kita mencoba...,
Sudah, diam! Jangan bicara lagi!
Baik.
Aku akan pergi.
Kita tak bisa bersama saat kau begini.
Aku akan kembali saat kau sudah tenang.
Apa...,
Tapi bagaimana jika ia kembali?
May, jangan konyol. Ini siang bolong.
Ted, mau ke mana?
Ted?
Ted.
Ted, mau ke mana?
Ted!
Ini Ted. Tinggalkan pesan setelah bunyi bip.
Ted, kau tak bisa pergi begitu saja. Kembalilah.
Atau telepon aku, atau...,
Sial!
Sial!
Aku tak menuliskan perbaikan jendela dalam lamaranku.
Kita tahu lamaranmu bohong.
Tapi kau tetap menerimaku bekerja. Aku pasti mempesona.
Sangat.
Di mana Ted? Apa dia bisa membantu? / Kita tak butuh Ted.
Bantu pegangi saja selagi aku memakunya.
Jadi kau butuh bantuan?
Selalu ada hal pertama untuk segala sesuatu.
Aku paham mengapa mereka memasang kaca di sini.
Sebenarnya kayu lapis bagus juga.
Jadi kau siap lakukan pertemuan besok?
Ya.
Dan kau harus tidur malam ini.
Ya.
Aku bisa tinggal.
Tidak.
Tidak usah. Aku baik saja. Tapi kuhargai kedatanganmu.
Aku cuma tak tahu cara menghadapi situasi itu.
Awasi langkahmu.
Oh, ya. Kurasa begitu.
Aku akan menemuimu besok.
Tak apa, aku sudah sarapan. Aku pergi karena tak ingin bertengkar.
Aku juga tak mau. Bisa kita bicara?
Hei, ini Ted Ryer. Tinggalkan pesan.
Ted, kau di mana? Telepon aku kembali.
Hei, May.
Hei, Sarah. Apa Ted ke tempatmu?
Tidak. Aku tak melihatnya. Apa semua baik saja?
Kami baru bertengkar,
dan kuharap dia ke tempatmu.
Aku tak melihatnya seharian.
Kau kenal saudaraku itu. Dia keras kepala.
Mirip mantan suamiku.
Mereka keras kepala, dan kita gila.
Bukankah begitu yang dikatakan orang?
Entahlah.
Tapi aku yakin Ted akan segera kembali.
Ya.
Seorang pria datang ke rumah kami tadi malam.
Maksudmu apa?
Seorang pria. Orang asing.
Entahlah. Dia mendobrak rumah, Ted terluka.
No comments yet. Be the first to leave one.