144 ensimmäistä riviä.
Aku pulang saat tengah malam.
Begitu mendekati bungalo, kumatikan lampu depan
agar cahaya tak menari di jendela, membangunkan Harry Pope.
Seharusnya tak usah. Lampu menyala.
Kuparkir, ke teras,
hitung tiap langkah agar tak perlu tambah,
yang tak perlu, di atas. Satu, dua, tiga, empat.
Aku ke kamar Harry, buka pelan-pelan, dan lihat ke dalam.
Dia terbaring terjaga di ranjang. Tak bergerak, bahkan tak menoleh.
Kudengar bisikannya, hampir tak terdengar…
Tolong.
"Tolong"?
Kudorong pintu terbuka dan masuk.
Berhenti.
"Berhenti"? Hampir tak dengar.
Tampaknya dia bersusah payah untuk bersuara.
- Tolong. - "Tolong"?
Ada apa, Harry?
Lepaskan sepatu.
"Lepaskan sepatu"?
Aku teringat George Barling setelah perutnya ditembak,
dia bersandar pada peti,
memegang diri dan bergumam soal pilot Jepang
dengan bisikan susah payah, seperti Harry sekarang.
George Barling membungkuk, tentunya…
dan mati.
Lepaskan sepatu.
"Lepaskan sepatu."
Aku tak mengerti, tetapi tak akan keberatan.
- Ada apa, Harry? - Jangan sentuh.
Dia berbaring telentang, selimut menutupi tiga perempat tubuhnya,
berpakaian piama bergaris, dan berkeringat parah.
Panas. Aku berkeringat, tetapi tak seperti Harry.
Wajahnya basah, bantalnya juga.
Mirip seperti malaria.
- Ada apa, Harry? - Welang.
- Apa? - Welang.
- "Welang"? - Ular.
Kau digigit. Berapa lama?
Tidak.
Apa?
Belum digigit.
Aku bingung. Kutatap Harry heran.
Ular welang di perut. Tidur.
Aku melompat mundur. Tak tahan.
Kutatap perutnya, selimut yang menutupinya.
Mustahil melihat apa ada sesuatu di bawahnya.
Maksudmu, ada ular welang sedang tidur di perutmu?
Ya.
Bagaimana bisa ke situ?
Seharusnya tak kutanya. Seharusnya kusuruh diam saja.
Berbaring telentang. Membaca. Kurasa sesuatu di dada, di balik buku.
Menggelitik.
Dari sudut mata, kulihat welang kecil merayap di piama.
Kecil. Mungkin 25 sentimeter.
Tahu tak boleh bergerak. Berbaring diam, memperhatikannya.
Kupikir akan ke atas selimut.
Harry diam sejenak.
Dia memastikan bisikannya tak mengusik makhluk yang berbaring.
Malah ke bawah.
Kurasakan lewat piama. Bergerak di perut.
Lalu berhenti. Kini tidur berbaring.
Aku menunggu.
- Berapa lama? - Lama.
Berjam-jam tanpa henti, tak ada habisnya.
Sudah hampir tak tahan. Perlu batuk.
Bahkan,
itu tindakan lazim bagi ular welang.
Mereka berlama-lama di rumah orang dan mencari tempat hangat.
Yang mengherankan, Harry belum digigit sejauh ini.
Gigitannya mematikan, kecuali langsung dinetralkan
dengan dosis penawar bisa yang tepat.
Ular kecil, ramping. Seperti ini.
Bisa masuk diam-diam
lewat pintu kamar anak kecil yang sedikit terbuka, misalnya.
Manajer kebun teh cerita soal domba yang digigit kaki belakangnya.
Saat bangkainya dipotong, darahnya sehitam ter.
"Baik, Harry," kataku. Kini aku juga berbisik.
"Jangan bergerak atau bicara, kecuali harus.
Ia tak akan gigit, kecuali ketakutan. Kita akan atasi."
Aku keluar pelan-pelan,
mengambil pisau tajam kecil dari dapur.
Kutaruh di saku, siap dipakai jika Harry menakuti ularnya dan digigit.
Siap menyayat Harry, mengeluarkan bisa.
"Harry," kataku, "Kurasa langkah terbaik
adalah menyingkap selimut dengan lembut dan kulihat."
Dasar bodoh.
Tak ada ekspresi dalam suara. Bicaranya terlalu lambat dan lembut.
Ekspresinya ada di mata dan di sudut-sudut bibirnya.
Cahaya akan buat kaget. Ular akan membunuhku.
Benar juga.
Jika kusingkap selimutnya dan kusapu dalam sekejap…
Panggil dokter.
Dia menatapku seolah-olah seharusnya aku tahu itu.
Dokter. Baik. Itu dia. Kupanggil dr. Ganderbai.
Aku berjingkat keluar, mencari nomor dr. Ganderbai,
menelepon, dan menyuruh operator cepat.
- Ini Supervisor Woods. - Halo, Tn. Woods. Belum tidur?
Datanglah bawa serum. Untuk welang.
Serum? Siapa yang digigit?
Pertanyaan itu bagai ledakan di telinga.
Tak ada. Belum ada.
Ada satu tidur di perut Harry di balik selimut.
Hening selama tiga detik.
Bicara lambat, bukan seperti ledakan, dr. Ganderbai berkata…
Dia tak boleh bergerak atau bicara. Paham?
- Tentu, Dokter. - Aku datang.
Dia menutup telepon dan aku kembali ke kamar.
Mata Harry ikut ke ranjang.
Dr. Ganderbai datang. Menyuruh diam.
Pikirnya selama ini bagaimana?
Jangan bicara. Kita berdua.
Jika begitu, diam.
Otot di satu sisi mulut, yang dipakai untuk tersenyum,
mulai berkedut, gerakan kecil
yang berlanjut sementara usai bicara.
Aku tak suka itu dan tak suka cara bicaranya.
Mobil dr. Ganderbai mengebut ke depan.
Aku keluar menyambutnya.
- Di mana? - Dr. Ganderbai tak tunggu jawaban.
Dia melewatiku ke lorong. Tasnya diletakkan di kursi.
Memakai sandal kamar, sol lunak.
Memijak lantai tanpa suara, bagai kucing waspada.
Harry mengamati dari sudut mata.
Begitu mencapai ranjang, dia menatap Harry, tersenyum,
meyakinkan, mengangguk seolah-olah berkata…
Jangan cemas. Masalah sederhana. Serahkan kepadaku.
Dia pergi ke dapur dan aku mengikuti.
Dia buka tasnya.
Pertama, kusuntikkan serum, tetapi harus pas. Jangan tersentak.
Dia memegang jarum hipodermis dan botol kecil.
Masukkan jarum, mengisap cairan kuning pucat.
- Dia serahkan kepadaku. - Pegang sampai kuminta.
Kami balik ke kamar.
Mata Harry terang dan terbuka lebar.
Dr. Ganderbai menggulung lengan baju Harry
ke siku, tak menggerakkan lengan.
Menjaga jarak dari ranjang. Bisiknya…
Aku akan menyuntikmu. Hanya sebentar. Jangan bergerak.
Jangan kencangkan otot perut. Biarkan lemas.
Harry menatap jarumnya. Otot senyumnya berkedut lagi.
Dr. Ganderbai mengambil tali karet dan mengikatkannya pada biseps Harry.
Membasahi area kecil lengan bawah dengan alkohol.
Dia angkat jarum, lihat kalibrasi,
No comments yet. Be the first to leave one.