نخستین 175 خط.
if syl.i%2==0 then Lugar=-20 else Lugar=20 end
!retime("start2syl",-300+syl.i*30,0)!
!retime("syl",0,0)!
!retime("syl",0,0)!
!maxloop(3)!!retime("syl",-math.random(100,1000)+($dur/maxj)*j,50+($dur/maxj)*j)!m 30 23 b 24 23 24 33 30 33 b 36 33 37 23 30 23 m 35 27 l 60 28 l 35 29 m 26 27 l 0 28 l 26 29 m 29 23 l 30 0 l 31 23 m 29 33 l 30 56 l 31 33
!maxloop(3)!!retime("syl",-math.random(100,1000)+($dur/maxj)*j,50+($dur/maxj)*j)!m 30 23 b 24 23 24 33 30 33 b 36 33 37 23 30 23 m 35 27 l 60 28 l 35 29 m 26 27 l 0 28 l 26 29 m 29 23 l 30 0 l 31 23 m 29 33 l 30 56 l 31 33
!retime("syl2end",0,100+syl.i*30)!
!retime("syl2end",0,100+syl.i*30)!
!retime("syl",0,0)!
!retime("syl",0,0)!
Pada akhirnya, mungkin ini dikarenakan aku terlalu mencintai diri sendiri.
Aku tidak suka dijuluki orang lain.
Kepribadian adalah sesuatu yang tak dipandang orang lain pada awalnya.
Dan, tiada artinya bila tak ada yang membutuhkanmu.
Apalagi ....
Akane ...!
Akane ...!
Apalagi ...
... bila ada yang membutuhkan itu rasanya sungguh teramat nikmat.
Iya, benar.
Karena tiada lagi hal yang lebih nikmat dari ...
... dihasrati oleh orang lain.
Kalau diingat kembali, hal itu terjadi pada saat aku SMP.
Temanku, Mio, saat itu memberitahu padaku siapa cowok yang disukai olehnya.
Akane.
Yang kusukai itu Saito.
Heh? Bukankah kalian berdua itu cocok?f
-Seriusan? -Iya.
Namun entah kenapa ...
... pemikiranku itu menjadi sangat menggangguku.
Saito ..., ini milikmu.
Ah, terima kasih.
Merebut cowok itu ...
... ternyata sangatlah mudah.
Minagawa?
Ah, bukan apa-apa, kok.
Tadi aku melamun.
Sejatinya, aku tak tertarik sama sekali dengan cowok ini ...
... tapi reaksinyalah yang membuatku jadi penasaran.
Aku telah begini sedari dulu.
Maaf lama.
Jika tak ada yang memberitahu, maka aku tak bisa tahu betapa baiknya cowok itu.
Kamu kenapa?
Dan jika tak ada yang membuktikannya, aku tidak bisa melihat peluang menangnya.
Begini ....
Bukannya menegur perbuatanku,
malahan seraya tertawa, dia berkata:
Kalian berdua cocok banget.
Aku baik-baik saja, kok.
Kuharap seterusnya kita bisa tetap berteman.
Mungkin, aku ini aneh ....
Maaf, ya ...!
Maafkan aku, ya ....
Maafkan aku, ya ....
Tapi, saat itu, terlintas dalam benakku bahwa:
"Sekalipun harus mati, aku tidak ingin ...
... pura-pura tegar seperti itu".
Bukan, kok! Dia hanya temanku saja.
Tolong jadikan ini rahasia di antara kita, ya.
Mari saling menolong di kala kita sama-sama kesepian, ya.
Walah, sudah lama tak berjumpa, Kanai.
Iya, maaf mengganggu.
Ibu ...!
Ada apa, Kak?
Katanya dia ingin memberikan buku ini padamu.
Habisnya waktu itu kamu kayak lagi buru-buru, sih.
Eh, mumpung sudah lama, makan bareng, yuk!
-Ayo masuk! -Ah, enggak usah.
Soalnya aku sudah beli ini.
Kamu masih saja suka beli beginian ....
Nah, 'gimana kalau besok?
Ayolah.
Besok ... hari peringatan wafatnya ibuku.
Ah, iya juga, sih.
Maaf ya, Tante. Nanti aku mampir lagi, kok.
-Kalau begitu, dadah, Hana. -Dadah juga.
Dia anak yang baik, ya.
Apakah tidak ada yang mau menjadi pengantinnya?
Jangan.
Hm?
Pokoknya jangan sama dia.
Eh, Hanabi ...!
Jangan sama dia, Kak ....
Pokoknya jangan ....
Hanabi!
Makan siang bareng, yuk.
Maaf, hari ini, enggak dulu ....
Ada apa?
Heh?
Ah, enggak.
Rasanya belakangan ini mata kita sering bertemu.
Ebato, apa jangan-jangan kamu ini ....
Aku membencimu.
Sudah kuduga.
Malahan, aku benci semua cowok.
Heh?
Silakan masuk.
Kakak ....
Yasuraoka.
Boleh aku makan siang di sini?
Boleh sih, tapi ....
Memangnya kenapa? Apa kamu habis bertengkar dengan temanmu?
Enggak juga, sih ....
-Sebentar lagi festival olahraga, ya. -Iya.
Apa kakak ingat?
Pekan olahraga pas aku masih SD.
Eh?
Ternyata, ibu memang tidak datang ....
Wajar aja, 'kan ibumu kerja.
Selain itu, nih lihat. Beliau membuatkanmu bekal.
Mantap ...!
Udang tepung,
ayam goreng,
serta telur.
Ini silakan.
Yang beginian mah standar, 'kan?
Kamu hanya belum tahu saja,
betapa enaknya bisa dibuatkan makanan.
Ditambah lagi, ada lumpia kesukaanku.
Selamat makan!
Lezat!
Apa kakak menyukainya?
Soalnya ibuku dulu sering membuatkannya padaku.
Oh ....
Serius deh, aku iri sama kamu.
Karena kamu masih punya ibu.
Tapi kan kakak pergi mancing bareng ayah kakak.
Karena aku enggak punya ayah,
makanya jadi iri.
Oh, 'gitu.
Berarti ....
Kita berdua sama-sama memiliki sesuatu yang bikin iri.
Oleh karena itu, mari saling menolong di kala kita sama-sama kesepian, ya.
Iya!
Oke, lanjut makan, yuk.
Lezat!
Ibunya kakak itu ....
Beliau memiliki rambut yang lumayan panjang.
Tapi aku sudah lupa sama wajahnya, sih.
Rambutnya sepanjang apa?
Kira-kira segini kali, ya.
Bukankah itu ....
Oh iya, kak ....
Apa?
Ada apa?
Okesip!
Lumpia kesukaan ka—
Hm?
-Silakan masuk. -Permisi ....
Bu Minagawa!
Maaf kalau saya mengganggu pembicaraan kalian berdua.
Ada apa?
Apakah tak apa, Yasuraoka?
Iya, tak apa.
Syukurlah.
Ini tadi dikasih sama Pak Kyoto.
-Saya taruh di sini, ya. -Iya.
Apa ini berkaitan dengan rapat besok?
Iya. Kurasa lebih cepat lebih baik.
Ah, aku sangat terbantu. Terima kasih banyak.
Ah, enggak usah berterima kasih padaku. Soalnya aku hanya dimintai tolong.
Yah, tapi, sekarang kan lagi jam makan siang ....
Maaf karena telah merepotkan Anda.
Habisnya Pak Kyoto selalu saja mendadak, sih.
-Pak Kanai. -Hm?
Anu, belum lama ini ....
Tolong jadikan ini rahasia di antara kita, ya.
Ah ....
Tapi kan, kalau hal itu menyebar di sekolah, ibu bakalan kerepotan.
Makanya, ibu bilang begitu.
Ah ....
Tapi, karena bakalan repot kalau sampai ketahuan sama Pak Kanai ...
... maka lebih kita berteman untuk saling merahasiakan ini.
Selama kamu tak memberitahunya, aku pun juga begitu.
Namun, bila dirimu berkhianat, maka aku pun juga begitu.
No comments yet. Be the first to leave one.