نخستین 200 خط.
Pelan-pelan.
Pelan-pelan.
Apa itu?
Ini pelampung jala.
- Jadi? - Jadi…
artinya kita sudah dekat.
Kerja bagus.
Z
Lanjut dayung!
Ke arah sini.
Dasar Romawi.
Dasar tikus laut bodoh.
Kalian menabrak beting.
Kenapa tidak mendengarkanku? Sudah kubilang ke arah sini!
Kecelakaan sering terjadi. Tidak perlu malu.
Tidak ada kecelakaan. Kau lebih mengenal danau ini,
makanya baumu asin.
Aku ingin kau mengingat ini, Simon anak Yohanes.
Ini kebaikan.
Quintus, di sisi lain,
mampu melakukan kekejaman terhadap mereka yang mengkhianatinya.
Aku bisa menahannya selama seminggu, mungkin.
Pikirkan Eden.
Jika kehidupan kita sama…
Tepati janjimu, Anjing.
Terima kasih sudah datang, Zebedeus.
Mereka tidak perlu memelintir tanganku terlalu keras untuk minuman.
- Urusan bisnis atau senang-senang? - Ini?
Tidak, umpanku habis. Mungkin aku akan memakai telingaku.
Mungkin ada yang tidak suka selera humormu.
Kenapa kita di sini, Simon?
- Aku membuat kesepakatan dengan Romawi. - Romawi?
- Simon… - Dia tidak bilang soal kesepakatan, Abba.
Kau lihat lukanya?
Sepertinya Simon tidak memberikan yang mereka inginkan, 'kan? Pikirkan.
Lanjutkan.
Aku berutang cukai.
- Kita sama. - Banyak.
- Mereka akan mengambil kapal, rumah kami. - Untuk?
Menyerahkan orang yang menjala ikan pada hari Sabat.
Kau tahu tentang ini?
Terima kasih atas kejujuranmu, Simon.
Jika aku boleh jujur,
aku terkejut kau muncul di sini,
- terlebih lagi memintaku bergabung. - Aku setuju.
Aku terjebak.
Tapi itu menempatkanku pada posisi berharga.
Sungguh? Katakan,
berapakah nilai pengkhianat yang mati?
Aku bukan pengkhianat.
- Kau mati di dermaga, Simon. - Tinggalkan dia. Ayo, Abba.
Aku tahu rencana mereka, Zebedeus.
- Mereka mengincarmu. - Mereka mempermainkanmu, Nak.
Maaf, aku tidak bisa membantumu.
Kau menjala di Gergesa semalam.
Mungkin benar, mungkin tidak.
Kau menambatkan enam kapal dan sebentar lagi,
semua orang di Palu tahu kau dari mana.
Yang tidak akan mereka tahu adalah aku hendak ke mana.
Hanya ada tiga kapal, Zebedeus.
Aku di belakangmu
dengan beberapa prajurit. Ada lebih banyak yang menunggumu membongkar muatan.
Bagaimana kau keluar dari sana?
Aku memastikan kapal itu mengalami kecelakaan.
Lalu aku kehilangan sebagian telinga favorit istriku.
- Terima kasih, Kawan. - Jangan berterima kasih.
Dia bersekongkol dengan Romawi!
Jadi, apa rencanamu?
Mencari sekutu?
Seseorang untuk melindungimu dengan imbalan menyerahkan pesaingnya?
Tidak, jauh lebih bodoh dari itu.
Aku ingin kau menyerahkan tangkapanmu.
Dia bilang apa?
- Tunggu, menyerahkan kepada siapa? - Kepada aku!
Lalu, untuk sementara jangan berlayar pada hari Sabat.
Aku bisa katakan pada Quintus permasalahan selesai.
- Tidak ada artinya. - Dia benar.
- Ini hanya pekerjaan satu malam. - Empat puluh malam!
Setiap malamnya ada orang yang berkorban untuk jauh dari keluarganya.
Mereka pulang di pagi hari berkat aku!
Ya, Simon, karena kau tidak bisa terima jika kau menghancurkan kami seperti dirimu.
Kami berutang besar padamu karena itu.
Tapi aku tak dapat membalasmu dengan mencuri makanan dari anak buahku.
Maaf.
Matius si pemungut cukai, Praetor.
Buah di sini luar biasa.
Delima, kurma, ara, beri.
Zaitun.
Semua yang tumbuh di sini mengagumkan.
Kecuali orang-orangnya.
Kalian sangat menyedihkan.
Kalian menyembah satu Tuhan, tapi kalian semua terpecah.
Orang-orang mengeluh, mengatakan kami bangsa Romawi menguasai dunia,
tapi aku tahu rahasia kotor.
Kalian ingin dikuasai.
Kalian ingin alasan untuk mengeluh, itu bagian diri kalian.
Apa kau mengerti, Matius?
Aku tidak tahu.
Aku tahu.
Kau mesin dengan satu tujuan. Hal-hal seperti ini bukan kelasmu.
- Di mana pengawalmu? - Dia tak mau masuk.
Menurutnya kurangnya kemampuan sosialku…
Dia pikir kau akan membuatnya terbunuh.
Ya.
Tidak hari ini, Matius.
Hari ini, aku butuh sesuatu.
Itu benar.
Aku sedang butuh…
mesinmu.
- Mesinku? - Pikiranmu, Matius? Perhatikan.
Kau mungkin benar tentang Simon.
Dia mengkhianatiku.
Mungkin.
Aku tak punya banyak pasukan perairan. Itu mungkin kecelakaan.
- Dominus? - Ikuti Simon.
Aku ingin tahu ke mana dia, siapa yang dia temui.
Beri tahu apa yang mereka bicarakan, apa yang dia minum. Apa pun.
Yang terakhir mungkin sulit.
Bahkan, semua permintaanmu, Dominus, mungkin sulit.
Kau pria dengan banyak akal.
Bertujuan.
Aku tidak diterima.
- Di mana? - Di mana saja.
Aku pemungut cukai.
- Kau dilihat dengan iri hati? - Dibenci.
Semua orang benci pemungut cukai.
Kami lebih buruk dari bangsa Romawi.
Kau terlahir sebagai Romawi. Aku membuat keputusan.
Menyamarlah. Aku tidak peduli.
Kau bisa menulis, bukan?
Ya.
Tulis semuanya. Setiap detail.
- Bilikmu terlindungi? - Ya, Dominus.
Anjingku menjaganya saat aku pergi.
Matius, kau harta karun yang berharga.
Tentu saja kau punya anjing.
Aku melihatnya dengan mataku sendiri.
Antrean itu membentang
dari tepi Sungai Yordan hingga pepohonan akasia,
sejauh mata memandang. Semuanya menunggu dibenamkan di sungai
oleh pria bersuara besar berbaju kulit unta.
Bukan untuk penyucian?
Dia menyebutnya baptisan pertobatan. Pengampunan dosa!
Dia bilang apa? Kau pernah melihatnya?
Belum pernah, itu yang dia katakan! Rabi, apakah ada preseden untuk hal ini?
Apa yang dia katakan?
- Rabi? - Kata-katanya.
Pesannya.
Apa dia mendukung Hukum Rabinik? Menyulut revolusi?
- Kekerasan? - Bukan kekerasan.
Namun, aku belum ke bagian terburuknya.
Salah satu kaum kita mendekatinya, dia menyebut kita ular.
- Kita? - Ya, pemimpin agama.
Ular?
Dia mengoceh bak orang gila soal betapa tak berharganya kita.
- Apa lagi? - Apa lagi?
- Apa yang lebih buruk dari itu? - Tergantung siapa dia.
Dia menyuruh pemungut cukai dan prajurit
tak memeras uang dan mengambil terlalu banyak.
- Mereka ada saat dia bilang begitu? - Ya.
Menyuruh orang untuk berbagi makanan dan pakaian
- dengan yang tidak mampu. - Itu khotbah pesan populis.
Di Yerusalem,
ada kabar tentang pria aneh memasuki istana raja
dengan daftar kejahatan yang dilakukan Herodes Antipas dan keluarganya.
Kita harus apa, Rabi?
Bisakah dia dipanggil untuk ditanyai Sanhedrin?
Jika itu orang yang sama, dia tidak tunduk pada Sanhedrin.
Dan bukan hanya kita targetnya.
Sepertinya dia suka menolak apa pun yang tradisional
atau orang berpengaruh.
Apa mereka berkata dia membuat mukjizat?
Entahlah.
Pertemuan dibubarkan.
Ada apa ini?
Itu dia.
- Yosafat. Abraham. - Simon.
- Kenapa telingamu? - Telingaku terluka.
Ada apa ini?
Simon, kita bersaudara di sini.
- Ya, jika kau membutuhkan apa pun… - Dengar,
jika ini soal kejadian di dermaga, entah apa yang kalian dengar,
tapi itu hanya salah paham. Paham? Itu bisnis.
Ada apa di dermaga?
Aku kehilangan umpan.
- Ada apa? - Eema sakit.
Eema? Apa yang terjadi?
Di terus-terusan batuk.
Dia tidak punya kekuatan untuk melakukan apa pun.
Tapi dia tidak tidur.
Dia muntah darah.
- Aku tidak paham. Kita baru menemuinya… - Bulan lalu, Simon!
Sudah sebulan sejak kau mengunjungi Eema.
Kau tahu keadaannya. Pekerjaan dan…
Aku tahu, aku bukanlah…
Tunggu. Mengapa mereka di sini?
Tidak.
Aku menyayangi Eema kalian seperti ibuku sendiri.
- Dia menyayangimu. - Kita tak bisa…
Abraham dan keluarganya sudah di rumahku.
No comments yet. Be the first to leave one.