Esimesed 200 rida.
Itu cuma salah paham.
"Orang buta tidak mampu memahami gagasan keindahan."
Tidak.
Orang buta sepertiku,
banyak berpikir tentang apa yang orang anggap sebagai keindahan.
Kuhabiskan bertahun-tahun mencari keindahan itu,
bepergian ke seluruh negeri mengunjungi nisan dan monumen,
menyentuh dan menemukan keindahan peninggalan leluhur.
Kau telah melalui banyak hal.
Tentu.
Tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran. / Ya.
Tanganmu luar biasa halus.
Tanganku? / Ya.
Perkiraanku orang yang mengukir,
punya tangan yang kasar, tapi tanganmu amat halus.
Kau melakukan sesuatu untuk merawatnya?
Aku merawat tanganku.
Tangan ini. Seperti mataku.
Kulihat dan kurasakan melaluinya.
Bagaimana dengan bekas luka itu?
Ini?
Terluka saat muda. Bagi kita, mempelajari pekerjaan bisa sulit.
Orang biasa seperti kami tidak bisa membayangkan betapa sulitnya itu...
Mari kita ubah topik sedikit.
Kau pengrajin ukiran prangko, tapi juga seorang ayah tunggal,
dan putramu sekarang mengelola PENGUKIRAN CHEONGPUNG.
Ya.
Pemirsa pasti penasaran tentang bagian hidumu itu.
Kenapa mereka penasaran?
Membesarkan anak sendirian sudah sulit, apalagi sebagai seseorang yang tunanetra.
Semua orang berusaha membesarkan anaknya dengan baik, meski kesulitan.
Anak-anak tumbuh sendiri jika kau membiarkannya.
Anak-anak tidak tumbuh sendiri, kau yang membesarkannya!
Itu yang membuat kami penasaran akan perjuanganmu
dan pikiran yang kau miliki...
Itu sulit.
Ya.
Apa gunanya merenungkan kesulitan?
Silakan luangkan waktumu.
Waktu saat ini 3:04 sore.
Dong-hwan, izinkan aku beristirahat sebentar.
Ayah, mereka orang sibuk.
Maaf, sebentar.
Maaf. / Kita lanjut sedikit lagi...
Maaf, aku tidak sadar cepatnya waktu berlalu.
Itu sangat menarik. / Maaf soal itu.
Mari istirahat sebentar, maaf.
Merokoklah, Ayah. / Istirahat lima menit!
Ini pintunya.
Penghargaan.
Dong-hwan, ayahmu luar biasa.
Dia lebih dari yang kuharapkan.
Lihat ini!
"Im Yeong-gyu adalah bukti bahwa keajaiban itu nyata."
Judul yang bagus.
Apa ini?
Itu?
Foto lama saat dia pertama kali membuka kios ukirnya.
Itu satu-satunya foto lama.
Kau mirip sekali dengannya.
Kupikir juga begitu.
Jadi, dulu sekali, kuberitahu dia betapa miripnya aku dengannya.
Setelah mengatakan ini... / Apa jawabnya? Dia senang?
Dia cuma berdiri diam, berpikir.
Kurasa...
...dia merenungkan ide kemiripan.
Karena dia buta sejak lahir.
Benar juga.
Dia belum pernah melihat wajahnya sendiri, aku tidak pernah memikirkannya seperti itu.
Di mana asbaknya?
Sini, berikan padaku.
Sudah cukup istirahatnya, Tuan?
Ya.
Kita lanjutkan?
Tentu.
Mari lanjutkan syutingnya!
Kamera. / Siap.
Maaf soal itu.
Tidak sama sekali.
Mari kita ambil gambar close-up dari tangannya.
Siap.
Mari kita lakukan perlahan.
SI JELEK
Ayah.
Ini.
Waktunya minum teh? / Ya.
Panas.
Biar kuambil.
Apa wawancara ini sulit?
Mereka menggangguku berhari-hari, bertingkah seolah itu sangat penting.
Segmen berita terakhir cuma memakan waktu setengah hari untuk syuting.
Bersabarlah sedikit lebih lama.
Ini publisitas bagus untuk studio, dan tidak mudah untuk tampil di TV.
Benar? / Aku tahu. Jika buatmu bagus, tak apa.
Tapi produser muda itu menyebalkan sekali.
Kenapa dia memperlakukanku seperti anak kecil?
Selalu menyuruhku, "Lakukan ini" atau "Lakukan itu!"
Semua produser begitu, jangan sampai mengganggumu.
Kau benar.
Di usiaku sekarang, mencari nafkah.
Aku bersyukur diakui.
Kau tahu irinya Gyu-chil padaku?
Orang itu bangkrut, tapi terus bepergian.
Apa? Dia belum kembali dari Asia Tenggara?
Tidak.
Aku sangat kecewa.
Dia bisa saja mengajakmu, kenapa dia pergi sendirian?
Untuk apa? Tidak ada yang perlu kulihat.
Kalian sudah berteman puluhan tahun, akan bagus jika bepergian bersama.
Dia bukan temanku.
Jangan bicara seenaknya.
Aku ada telepon, sebentar. / Baik.
Halo?
Ini Tuan I'm Dong-hwan?
Ya, siapa ini?
Ini Kantor Polisi Nam-it.
Kantor polisi?
Kami menelepon tentang Jung Young-hee.
Siapa itu?
Kau tidak kenal Jung Young-hee?
Dia ibumu.
Apa?
Kau bilang ini ibuku?
Begitu perkiraan kami.
Kami menemukan kartu identitas bersama jenazah.
Mayat ditemukan saat menggali gunung untuk lokasi konstruksi,
dan kami menemukan barang-barang pribadi.
Melihat kondisi jenazah, sudah sekitar 40 tahun.
Kondisi mayat menyulitkan penentuan penyebab kematian.
Yang kami tahu dia meninggal 40 tahun lalu, dikubur di gunung.
Sulit memastikan kalau itu kecelakaan atau bukan,
tapi mengingat cara dikubur, ada kemungkinan kejahatan.
Meski begitu, batas waktu penuntutan sudah lama terlampaui.
Jung Young-hee.
Rumah Duka.
Jangan bekerja terlalu keras, tidak ada siapa-siapa di sini.
Kaukah itu?
Ya.
Baik.
Ada dari asosiasi di sini?
Belum, mereka mengirim karangan bunga.
Ayah. / Ya?
Bukannya...
...ibu pergi begitu saja, meninggalkan kita?
Aku juga berpikir begitu.
Aku pulang kerja, dan cuma kau di kamar, dia tidak ada.
Dan begitu saja.
Tidak ada yang mencarinya?
Sama sekali tidak.
Tak satu pun dari kami punya keluarga untuk dibicarakan...
Dia tidak punya musuh, 'kan?
Tentu tidak.
Ibumu orang yang sangat baik.
Kau tahu...
Kenapa kau bilang begitu?
Bukan apa-apa.
Hanya saja...
...setelah 40 tahun, tiba-tiba mendengar dia meninggal,
aku penasaran, jangan khawatir.
Permisi.
Ada tamu, ayah. Produsernya.
Silakan masuk. / Ya.
Harusnya aku menyiapkan ini.
Terjadinya ini di tengah syuting, aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku sungguh minta maaf soal ini.
Sepertinya ini akan mengganggu siaran.
Tidak apa-apa?
Tidak boleh ada gangguan.
Kami akan tetap bersamamu sampai akhir.
Maaf?
Seperti yang kubilang sebelumnya,
jadwal sudah final, menundanya bukan pilihan.
Lagipula momen-momen ini mungkin terasa lebih otentik bagi penonton.
Tapi...
Ini agak sedikit... / Jangan khawatir.
Kami akan mengurus semua.
Baik, tapi...
Ayahku mungkin berpendapat lain.
Aku mengandalkanmu.
Pasti ini tempatnya.
Silakan cicipi.
Aku segera kembali.
Halo.
Ada yang bisa kubantu?
Dia pasti anaknya.
Kami bibimu. Kami kakak Young-hee.
Setelah menerima telepon dari polisi,
kami pikir hal tepat kemari.
Dia bibiku.
Begitu.
Aku juga ingin menyampaikan belasungkawa yang tulus.
Terima kasih sudah datang.
Dan...
...kami datang untuk mengklarifikasi sesuatu.
Kakekku meninggalkan warisan yang kecil untuk ibuku dan ibumu.
Tapi kami tidak bersedia membaginya.
Maaf?
Dari cerita ibuku, ibumu pergi dari rumah saat masih sangat muda,
Jadi, dia tidak berinteraksi dengan kami. / Aku paham.
Aku sedikit terkejut, tapi aku tidak butuh uangnya.
No comments yet. Be the first to leave one.