Esimesed 200 rida.
Alih Bahasa Oleh : Ry@Di, Samarinda, 22 Agustus 2018.
Ellen Taper Leigh. 78 tahun, meninggal dunia setelah sakit berkepanjangan di rumah putrinya Annie pada 3 April 2018.
Istri tercinta dari almarhum Martin Leigh, ibu yang istimewa dari Annie Leigh Graham dan almarhum Charles Leigh.
Nenek yang ceria bagi Peter Graham dan Charlie Graham. Juga bagi menantunya, Dr. Steven Graham. Dia akan dirindukan.
Disemayamkan di Rumah Duka Kingstone, Jumat jam 10-12 siang, layanan pemakaman akan diadakan hari Sabtu, jam 10 pagi. Dimakamkan di Pemakaman Spring Bottom.
Ayo, Peter.
Ayo, bangun. Peter. Bangunlah.
Ini setelanmu.
Apa adikmu tidur di kamarnya semalam?
Aku tak tahu.
Ayolah, Peter. Bangun.
Oh, Charlie. Demi Tuhan, ayo!
Tadi malam dingin sekali!
Kau bisa kena pneumonia.
Tidak apa-apa.
Oke, ayo. Ayo pergi. Kita sudah terlambat.
Ibumu sudah ada di mobil.
Senang sekali melihat banyak wajah baru yang masih asing disini hari ini.
Aku tahu ibuku akan sangat tersentuh...
Dan mungkin sedikit curiga...
Melihat yang hadir di sini.
Ibuku adalah wanita yang sangat tertutup.
Dia punya ritual pribadi...
Teman-teman pribadi, kegelisahan pribadi.
Ini sangat terasa seperti sebuah pengkhianatan...
Aku berdiri disini bicara tentang dia.
Dia wanita yang sangat sulit untuk dipahami.
Seolah-olah, jika kau berpikir kau tahu apa yang terjadi padanya...
Tuhan akan melarangmu untuk berusaha mendekatinya.
Tapi saat hidupnya sedang normal...
Dia bisa menjadi orang yang paling manis, paling hangat...
Orang yang paling mencintai di dunia.
Dia juga sangat keras kepala...
Yang mungkin, menurun padaku.
Kau selalu bisa mengandalkannya karena selalu punya jawaban.
Dan jika kau merasa dia salah...
Itu adalah pendapatmu...
Dan kau yang salah.
Tak mengandung kacang, kan?
Tidak./ Bagus.
Ada kacangnya? Karena kita tak punya EpiPen./ Aku tahu.
Halo, Rexy! Anjing yang baik.
Lepas sepatu, semuanya.
Charlie, lepas sepatu.
Ini terasa aneh.
Ya.
Haruskah aku tampil lebih sedih?
Jadilah dirimu apa adanya. Itu akan datang.
DUNIA KECIL, Miniatur dibuat oleh : Annie Leigh.
Hei, bagaimana keadaanmu?
Hanya bekerja.
Beristirahat sejenak dan menghindari pertunjukan.
Jadi, kau masih mengerjakan miniatur rumah sakit itu?
Ya, ini dan miniatur prasekolah.
Jadi, berapa lama tenggat waktu kita sekarang? Tujuh bulan?
Enam setengah./ Sudah dekat.
Ada gagasan untuk judulnya?
Masuklah.
Hei...
Selamat malam, Nak./ Selamat malam.
Kau baik-baik saja?
Ya. Baik.
Sedikit sedih?
Ya, aku mengerti. Aku tahu.
Selamat malam./ Malam.
Ayah sayang kamu.
Siapa ini?
Itu Nenek?
Kau tahu kau adalah kesayangan Nenek, kan?
Bahkan saat kau masih bayi...
Nenek takkan mengijinkan Ibu memberimu makan karena dia yang ingin menyuapimu.
Membuatku stress.
Dia ingin aku jadi anak laki-laki.
Kau tahu, Ibu juga seorang tomboi saat mulai dewasa.
Ibu benci gaun dan boneka dan warna merah muda.
Siapa yang akan menjagaku?
Oh, maaf ya...
Kau pikir Ibu tak bisa menjagamu?
Tapi bagaimana jika Ibu mati?
Baiklah kalau begitu...
Ayah yang akan menjagamu.
Atau Peter.
Kau tak pernah menangis saat bayi.
Kau tahu itu?
Bahkan saat kau lahir.
Apa kau merasa ingin menangis hari ini?
Mungkin akan terasa sedikit lega?
Selamat malam, sayang.
Catatan tentang Spiritualisme.
Sayangku, Annie yang cantik...
Maafkan Ibu karena tak menceritakan semuanya padamu...
Janganlah membenciku dan cobalah untuk tak putus asa...
Kau akan lihat pada akhirnya semua akan ada artinya...
Pengorbanan kita akan mendapat ganjarannya...
Cinta, Ibu.
Ibu.
Aku merinding sendirian di bengkel.
Kenapa?
Tak mau cerita?
Kau sudah selesai?
Hampir.
Jadi, kita selesaikan mainannya setelah kuis.
Bagaimana menurutmu?
Oke./ Oke.
Astaga! Apa itu?
Jadi, jika kita ikuti aturannya...
Bahwa pahlawan itu dikalahkan oleh kesalahan fatalnya...
Apa kesalahan Heracles?
Arogansi.
Baiklah. Kenapa?
Karena dia menolak secara harfiah untuk melihat semua tanda-tanda...
Yang secara harfiah pula diserahkan padanya di seluruh permainan.
Oke, menarik.
Jadi dia pikir dia punya kendali.
Tapi mari kita semua ingat...
Sophocles menulis Oracle hingga tak bersyarat...
Artinya, Heracles tak pernah punya pilihan, kan?
Jadi apakah itu membuatnya lebih tragis atau kurang tragis...
Jika dia punya pilihan?
Kurang tragis./ Baiklah.
Kenapa?/ Karena...
Kau memperhatikan, Peter?
Bagian yang mana?
Ku pikir bisa lebih tragis...
Karena jika itu semua tak terelakkan...
Maka itu artinya semua tokoh tak punya harapan.
Mereka tak pernah punya harapan.
Mereka semua putus asa.
Mereka semua seperti pion...
Di dalam mesin yang mengerikan, dan tanpa harapan ini.
Norma Penampakan Presumatif. Metode Komunikasi.
Halo!/ Hai!
Kau masuk ke kamar ibuku?
Tidak.
Pintunya terbuka.
Halo?
Maaf. Aku tahu itu tak rasional.
Tak masalah./ Terima kasih.
Hai, ayah. Ini dari pemakaman.
Tentang apa?
Biarku lihat.
Halo? Ya?
Apa artinya?
Di rusak?
Tapi ini baru seminggu.
Ya, oke, ya. Tentu.
Baiklah. Aku paham. Ya...
Nanti ku hubungi lagi. Ya. Sampai jumpa.
Apa itu?
Hanya omong kosong soal tagihan.
Oke, baiklah, aku mau pergi nonton film.
Oke.
Dia akan bilang...
"Bebanku berat, bebanku berat..."
Dan aku akan memberitahunya, "Tidak, tidak..."
KEHILANGAN ORANG YANG DICINTAI
Tapi ya, itu adalah beban.
Sekarang kita beri waktu untuk pendatang baru...
Yang mungkin ingin bicara.
Jadi siapa saja.
Jika ini adalah pertama atau kedua kalinya bersama kami...
Dipersilakan.
Ya. Kau mau...?
Mungkin tidak.
Baik. Tak ada paksaan.
Namaku Annie.
Hai, Annie.
Ibuku meninggal seminggu yang lalu.
Jadi aku di sini untuk berusaha menerimanya.
Aku punya banyak penolakan pada hal-hal seperti ini...
Tapi aku datang ke pertemuan ini. Aku terpaksa datang dan kurasa...
Ku kira ini bisa membantu. Jadi...
Ibuku sudah tua dan dia tak bersamaku di akhir hidupnya.
Dan kami merasa asing satu sama lain sebelum itu...
Jadi itu bukan sebuah pukulan besar bagiku.
Tapi aku mencintainya.
Dan dia tak memiliki hidup yang mudah.
Dia punya DID, yang menjadi ekstrim pada akhirnya.
Dan penyakit demensia.
Dan ayahku meninggal saat aku masih bayi karena kelaparan...
Dia menderita depresi psikotik. Dan dia membuat dirinya kelaparan.
Yang aku yakin sama menyenangkan seperti nama penyakitnya.
Dan kemudian ada saudaraku.
Kakak laki-lakiku menderita skizofrenia...
Dan saat dia berusia 16 tahun...
Dia gantung diri di kamar tidur ibuku...
Dan tentu saja, catatan bunuh dirinya menyalahkan diri sendiri...
Menuduhnya menempatkan orang di dalam dirinya. Begitulah.
Itu adalah kehidupan ibuku.
Dan kemudian dia tinggal di rumah kami...
Di ruang perawatan.
Kami bahkan tak saling bicara sebelum itu.
Maksudku, dulunya dan setelah itu tidak.
Dan kemudian saling bicara lagi.
Dia benar-benar manipulatif.
Sampai akhirnya suamiku membuat aturan tak ada kontak dengannya...
Yang berlangsung sampai aku mengandung putriku.
Aku tak membiarkan ibuku mendekatiku...
Saat punya anak pertama kali, putraku.
Itu sebabnya aku memberi dia anak perempuanku...
No comments yet. Be the first to leave one.