Las primeras 200 líneas.
Diangkat dari novel karangan: ROBERT CRAIS
Aku ingin bicara dengan bajingan itu! Kau dengar aku?
Aku ingin bicara dengan bajingan itu sekarang juga!
Aku menginginkan bajingan itu!
Kau cari si keparat itu sekarang atau aku akan...
Aku akan menembak istri pelacurku dan aku akan menembak anaknya!
Joe, tenanglah.
Tenang, kami sedang mencari kekasih istrimu...
- dan aku akan menemukannya. Mengerti? - Kau ingin membantuku?
Yang mana kutembak duluan? Aku harus menembak pelacur ini atau anaknya?
Hah? Bantu aku memilih!
Tidak, tidak, Joe, tak ada yang ingin mendengar suara tembakan di sini.
Kau membuat kami semua takut.
Sekarang dengar, aku sudah coba membantumu selama ini.
Kau ingin aku membantumu, kau juga harus membantuku.
Kau tak tahu bagaimana rasanya, kawan.
Kau tak tahu bagaimana rasanya.
Kau tak tahu apa yang sudah kualami. Kau tak tahu apa yang akan kuhadapi.
Kau pasti berpikir aku tak punya nyali, bukan?
Aku tahu kau bernyali, Joe.
- Tidak, kau pikir aku takkan berani melakukannya. - Joe, kau memegang pistol.
Kau bisa lakukan apa yang saja yang kau inginkan.
Aku sangat letih, kawan. Kapan Tuhan akan memberi kesempatanku untuk tidur?
Aku tahu kau letih, Joe. Kau sudah terjaga sepanjang malam.
Ayolah. Biarkan aku datang kesana.
- Bagaimana menurutmu? - Tidak! Tidak, tidak!
Persetan denganmu!
Kau baik-baik saja?
Aku muak pada orang ini.
Jeff, aku sudah memperhatikan jalan masuknya.
Kita tahu anak itu kini berada di kamarnya. Jika kita bergerak sekarang, kita punya kesempatan 100% untuk menyelamatkannya.
- Lalu kita pasrah tentang nyawa ibunya? - Kesempatan hidupnya hanya 20%.
Jeff, kita harus segera bergerak demi anak itu. Sekarang satu-satunya kesempatan kita.
- Sepertinya dia tak memikirkannya. - Pembungkus kertas, jangan kau bicara seolah aku tak di sini.
- Kita sudah berada di sini selama 16 jam. - Dasar kalian orang baru.
Semuanya tenang. Aku tahu kita semua letih.
Tampaknya aku cuma semakin mengalihkan Joe dari topik pembicaraan. Segera pilih juru bicara...
Katakan sesuatu yang aku tak tahu.
Tunggu, tunggu.
- Aku mendengar suara tangisan. - Anak itu telah terbangun.
Kita harus usahakan agar anak itu tetap di kamarnya.
Diam, Sean. Diam!
Hei, Joe. Ini aku, Jeff. Aku kembali lagi.
Dengar, biarkan saja ibunya Sean merawat anaknya. Bagaimana?
Dia tak lebih daripada sampah, kau tahu? Dia sama dengan sampah.
Dia mungkin kelaparan, karena dia bangun dan dia cuma merengek...
- Kukatakan padamu, biar kulakukan sesuatu untukmu. - ...sampai wanita jalang itu memberinya makan.
Cari tahu makanan apa kesukaan Sean, aku akan mengirimnya kesana.
Dia dan ibunya bisa makan di kamar sementara aku dan kau menangani hal ini.
- Bagaimana menurutmu? - Sean!
Polisi ingin tahu kau mau makan apa, jadi segera kemari.
- Anak itu beranjak dari tempat tidurnya. - Ayo kemari!
Orang-orang kita cuma punya kesempatan 80%.
60.
30.
Halo?
Sean.
Hei, ini dengan Jeff Talley.
Nak, aku ingin kau segera kembali ke kamarmu. Sekarang juga.
- Pak Talley? - Ya?
Apa kau akan menyelamatkan kami?
Ya, Sean. Aku akan menyelamatkanmu.
Kini aku tahu kenapa kau tak bisa memilih.
Karena Tuhan telah menakdirkan semuanya.
Aku dan pelacur itu akan pergi ke neraka.
- Tidak, Joe. Tenanglah, cobalah untuk tenang. - Tapi anakku akan pergi ke sorga.
Maafkan aku, Jeff.
Joe, dengarkan.
Ayo, Joe. Angkat teleponnya, ayo angkat.
- Aku mendengar teleponnya berdering. - Ayo angkat.
- Cuma suara deringan. - Ayo angkat, Joe.
Jeff? Dia mengucapkan sesuatu.
- Kita harus segera bergerak! - Sial!
- Di mana posisi kalian? - Kami kehilangan ruang tembak.
- Dimana kau memposisikan mereka? - Di titik utama, ada dua orang.
- Aku menyuruh mereka kesana. - Ya, Tuhan, pada hari ini...
aku sangat bersyukur atas semua karunia yang kuterima.
Aku minta maaf atas semua dosa-dosa yang pernah kulakukan.
Maafkan aku, Tuhan.
...dan selalu melindungiku sepanjang malam ini.
Bunda Maria, ibu surgawiku, bawalah aku dalam perlindunganmu.
Joe! Hei, ini aku, Jeff...
Dan St. Joseph...
Aku berada di luar rumahmu!
Utusan Tuhan, kumohon doakan aku.
Segera menuju jendela dan bicara padaku! Ayolah!
- Amen. - Ini aku, Jeff! Ayolah!
Joe, hanya Tuhan yang berhak memutuskan siapa yang hidup dan siapa yang mati!
Dan Dia belum memutuskannya!
Joe! Semua ini tak harus berakhir sekarang! Aku tahu kau bisa mendengarku!
Joe, datang ke jendela dan bicara padaku!
Ayo, berdoa bersamaku. Aku akan berdoa denganmu, ayo.
Ayo, tembak saja aku. Tembak aku.
Ayo, aku di sini. Datanglah ke jendela. Ayo, aku tahu doanya.
St. Joseph, Ya Tuhan...
Joe!
Sial!
Sean?
Sean?
Medis!
Semuanya mundur. Panggilkan tim EMT.
Karena ini tak adil. Hidupku tertekan sejak ayah pindah ke sini.
Kita harus bisa mengerti keadaannya.
Ayahmu menghadapi masa yang sulit.
Omong kosong, Bu. Dia suka tinggal di sini. Dia pikir Bristo Camino menyenangkan.
Bisa kita bicarakan hal ini di mobil?
Tidak, Bu. Kenapa kau tak memintanya agar kembali ke LA?
Dia bertugas di sini, Amanda.
Di sini rumahnya, dan saat kita berkunjung, ini juga menjadi rumah kita.
Ini bukan rumahku dan takkan pernah jadi rumahku!
Bu, tidakkah kau mengerti? Aku tak suka berada di sini!
- Jangan bersumpah, dan pelankan suaramu. - Bagaimana dengan aku?
Kamar mandi masih kosong.
Kenapa kalian tak bercerai saja?
Freezie, ayo.
Tak apa. Aku masih belum menyelesaikannya.
Maafkan atas kegaduhan tadi.
Tampaknya dia memang ingin aku mendengarnya, bukan?
Hal ini mulai terasa berat, kau tahu?
Aku berharap kau akan bicara padaku.
Bagaimana mungkin aku tak bicara denganmu? Aku sedang bicara denganmu sekarang.
Menyenangkan rasanya karena kau telah memikirkannya.
Aku berpikir mungkin aku sudah setengah jam terlambat bekerja.
Setidaknya jelaskan pada anak gadismu kenapa kau memilih pekerjaan ini.
Sampai jumpa minggu depan.
Hei.
Dengar, aku tak tahu yang mana yang lebih menarik bagimu.
Aku atau kue 'Tater Tot Casserole' milikku.
Amanda.
Amanda.
Aman...
Ini punyamu?
Dennis.
Tenang saja.
- Hei, ini lebih mirip dengan tiket 200 Dollar. - Diam.
- Kau punya uang 200 Dollar? Hah? - Diam, Kevin.
Lampu hijau.
Jika kau punya 4 dolar, kau tak bisa memberikannya 7 dolar. Jadi kau perlu meminjam.
Ya, tapi... jadi kau... Jika kau bermaksud meminjam,
kau harus tahu berapa banyak yang kau pinjam.
Baik. Sampai jumpa.
- Bisa aku jalan-jalan ke Plaza malam ini? - Plaza?
- Ya, cuma teman. Mungkin dia ingin menonton film. - Bisa kita pesan Tuan Kim malam ini?
- Bisakah kau menunggu? - Oh, Tuan Kim, akan segera kita hubungi.
- Aku lapar. - Aku sedang bicara.
Aku sedang memesannya. Halo, ya. Aku ingin memesan sesuatu, tolong dicatat.
- Bagaimana dengan pekerjaan rumah? - Sudah selesai.
Aku percaya itu.
Ya. Kami ingin memesan...
Kita ingin memesan apa?
Kev, belilah sesuatu. Yang ukurannya besar.
Hei, kenapa selalu aku yang harus pergi?
Jika aku yang belanja, kau akan terbang. Keluar dari mobil.
- Kau harus mendengarkan abangmu. - Kalau begitu aku butuh uang.
Ada dalam kotak.
Untuk apa itu? Dennis?
Coba lihat mobil itu. Lihat mobilnya, Mars.
Hei, aku kenal dia.
Maksudku...aku tak kenal dengannya. Aku cuma pernah melihatnya.
- Kau tahu di mana dia tinggal? - Tidak.
Oh, kau pikir itu lucu?
Gadis jalang yang kaya sedang menaiki mobil Escalade ayahnya.
Persetan denganmu.
- Halo, Louise. - Selamat sore, Pak.
Siapa yang berada di lapangan?
Ruiz dan Kovaks sedang mengatur lalu lintas di sekitar Monte Verde.
2 unit, yang satu spatbornya rusak. Kuharap dia sudah berusia 18 tahun.
- Selamat sore, Pak. - Bill.
Mikey. Sepatu yang sangat dinamis.
- Senin yang kebetulan? - Begini, Pak. Aku...
Bagaimana bisa kau berharap dianggap serius sebagai seorang polisi...
jika kau memakai sepatu kets saat bekerja, nak?
- Maaf, Pak. Hal ini takkan terjadi lagi. - Itu yang kau katakan saat Minggu yang kebetulan.
- Itu sebuah ketidaksengajaan. - Ya.
Bagaimana jika kita menamakan hari ini dengan "Pelanggaran di hari Senin"?
- Kemudian akan diikuti dengan apa? - Pelanggaran di hari Selasa.
Benar.
Pelanggaran di hari Selasa.
Ya, aku ingin mengatakan Brenda terlihat sangat baik.
Baik. Dalam beberapa menit.
Ayah?
Bisa beri aku waktu sebentar? Anakku baru saja datang kemari.
Apa yang sedang menempel di telingaku?
- Ponsel. - Kenapa benda ini menempel di telingaku?
- Karena kau sedang bercakap di ponsel? - Itu artinya kau telah...
- Mengganggu percakapanmu? - Itu baru anakku yang jenius.
Baik, Tuan Genius. Aku menginginkan semua pekerjaan rumahmu, di atas mejaku,
sebelum menonton televisi kembali. Bagaimana?
- Ya, Tuhan... - Aku tahu.
Bagaimana jika kau tutup pintunya untukku, jagoan?
- Aku menghargainya. Satu, kemudian... - Yang satunya lagi.
Ya. Terima kasih, jagoan.
Baik. Aku siap meminjamkanmu 'Surga Bisa Menunggu'.
Jam berapa kau ingin aku mengirimkannya?
Baik.
Selesai.
Aku menyukainya.
Mari kita menonton film.
Kita akan menonton film.
- Tapi sebelumnya kita akan mengambil mobil ayah. - Tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.