La unuaj 200 linioj.
Mata Kematian di malam hari...
...jangan tatap aku!
TANAH KEMATIAN
translated by ibrahimkh
Zaman dahulu...
...tanah kita adalah lahan pertempuran.
Itu masa-masa yang hebat dan kejam.
Tapi sekarang, kita menikmati kedamaian yang hidup di sini.
Selamat datang, Wirepa.
Ayahmu tidak ikut?
Beliau minta maaf...
...dan menitipkan salam padamu.
Kalau begitu, izinkan kami...
...ke lokasi penyimpanan belulang.
Sebuah kehormatan mengikuti perintah leluhurmu...
...dan menguburkan mereka dengan baik.
Kami tak pernah berburu di sini sejak perang akbar...
...selama bertahun-tahun untuk menghormati leluhurmu
Semoga kau temukan pencarianmu.
Kau masih di sini, leluhurku?
Akan kubalaskan kematianmu.
Kau akan nyanyikan namaku...
...dan kemenanganku.
Sambut aku, yang mulia leluhurku.
Aku bawakan hadiah untukmu.
Penghinaan!
Beraninya kau menyentuh anak kepala suku kami.
Penghinaan!
Di hutan...
...putramu...
...mencemari belulang leluhur kami.
Aku melihatnya!
Apa itu benar?
Tidak, Ayah.
Dia yang melakukannya.
Ini rencananya...
...untuk menyalahkan kita. Aku tahu itu!
Jika ayahku sampai tahu...
...akan ada perang tumpah.
Kita terpojok.
Jika putraku memang melakukannya...
...aku sendiri yang akan membunuhnya...
...agar ikatan antar suku kita tetap terjalin.
Ayah!
Kau diam saja.
Jika kukorbankan putraku...
...pada Dewa Peperangan...
...maukah kau seimbangkan kembali hubungan kita?
Akankah kau hentikan dendam pada kaum kami...
...sekarang dan selamanya?
Tak apa, Ayah.
Aku memang tak melakukannya...
...tapi aku rela mati demi kebaikan kita semua.
Kau membuatku bangga.
Beginikah akhirnya?
Akankah kematiannya bisa menyatukan kita...
...dengan adanya saksi yang hadir di sini?
Iya?
Atau tidak?
Tak ada pengorbanan yang sepadan dengan penghinaan pada leluhurku.
Kalian akan tanggung akibatnya, begitu ayahku tahu.
Begitu beliau dengar...
...berdoalah agar azab tak menimpa kalian.
Pasukanku yang pemberani!
Bertempurlah untuk kehormatan kita...
...tak ada tempat untuk perdamaian.
Mau kami ikuti mereka?
Kami bisa bunuh mereka saat tidur...
...kita pesta daging mereka malam ini.
Telah terjadi penistaan.
Yang nampaknya dilakukan oleh Wirepa sendiri...
...kedatangannya hanya sebagai dalih.
Jika ayahnya ingin alasan untuk perang, dia sudah menciptakannya.
Tak ada yang bisa kita perbuat untuk mencegahnya.
Akhirnya ada tugas untuk para prajurit.
Jika kau tak bodoh...
...berterima kasihlah.
Aku ingin jadi prajurit.
Bukankah mati di pertempuran itu baik?
Bukankah bisa jadi kehormatan bagi leluhur kita?
Sebelah timur dari sini...
...tersebutlah tempat bernama Tanah Kematian.
Suku yang sangat besar pernah tinggal di sana..
...tapi mereka menghilang.
Mereka pernah mampir ke sini, tapi kemudian...
...mereka hilang.
Tanah yang tak berpenghuni, adalah tanah kematian.
Ayah tak ingin itu terjadi...
...pada suku kita.
Mereka mengeluh pada kami.
Erangan kematian muncul dari Bumi.
Kami bisa mendengarnya.
Kita harus perhatikan panggilan mereka...
...dengarkan keluhan mereka.
Kita hidup bersama arwah leluru kita...
...hanya saja kita belum tahu.
Pembunuh!
Pengkhianat!
Aku meremehkanmu.
Kau sangat mirip ayahmu.
Ya.
Tak lama lagi...
...sukumu akan musnah.
Akan kuisi rahim putrimu dengan kotoran.
Kotoranku akan jadi keturunanmu...
...di muka bumi.
Memang benar...
...kau seorang prajurit, Tane.
Kau akan ingat wajah ini.
Aku akan mengawasimu dari dunia baka...
...menunggumu untuk bergabung.
Kau, dan semua yang di sini...
...terkutuk.
Perkataan yang bagus.
Cara terhormat untuk mati.
Sembelih sisanya!
Kita makan mereka malam ini.
Bawa kepalanya.
Kau terkutuk.
Kau akan terima kutukannya.
Kau temukan bocahnya?
Belum.
Bocah itu melarikan diri.
Kita pergi sekarang.
Kaum pria kita meninggal...
...dan mereka membawa kepala ayahmu.
Dari mana saja kau?
Lihat...
...lihat yang kau perbuat pada orang-orang kita!
Lihat!
Tanaman apa ini?
Wirepa membawa kepala ayah kita!
Kau paham pelajarannya?
Leluhur kita berteriak padaku soal pembalasan.
Apa yang bisa kau perbuat?
Satu melawan banyak orang?
Akan kubalaskan dendam sendirian...
...atau mati saat mencarinya.
Andai aku bisa...
...akan kubunuh Wirepa sendiri.
Tapi aku tak bisa.
Begitu pula kau.
Jika aku tak kembali...
...ceritakan kisah tentangku.
Kita menyebrang lewat sini.
Jalur ini terlarang.
Ini menuju Tanah Kematian.
Kalau begitu, kita harus cepat.
Jalan lewat Tanah Kematian bisa menghemat banyak waktu.
Tuanku...
...Tahi benar.
Tanah itu terlarang...
...arwah-arwah bisa murka.
Mereka bilang di sini ada...
...monster.
Monster yang memakan siapapun yang lewat...
...yang makan semua sukunya.
Memangnya aku peduli soal monster?
Atau leluhur kita di tempat ini?
Mereka akan mengagumi kemenanganku!
Hantu-hantu akan bersembunyi melihat kita.
Benar, Tuan.
Kita berangkat.
Kemari, nak.
Kau tak mengenalku?
Ingatan anak-anak memang pendek.
Aku nenekmu.
Aku belum pernah bicara dengan orang mati.
Aku bangga padamu.
Tapi...
...kau ceroboh.
Pikirmu bisa hadapi mereka sendiri?
Akan kubunuh Wirepa.
Dia akan membunuhmu.
Bodoh!
Takkan kubiarkan itu terjadi.
Aku putra ayahku.
Maka pikirkan...
...apa yang kiranya akan dilakukan ayahmu.
Ada yang bisa membantuku.
Prajurit penunggu tanah ini.
Ada jiwa ayahmu dalam dirimu.
Sedang apa di sini, bocah kecil?
Tak tahu kalau yang kemari tak bisa kembali?
Aku ingin bicara dengan prajurit yang katanya tinggal di sini.
Aku kepala suku.
Benarkah?
Kepala suku?
Perlihatkan keberanianmu pada penyihir itu...
...atau kau akan dimakan.
Dia suka minum darah segar prajurit.
Lewat sini, nak.
Yang kau cari ada di dalam.
Tanggung sendiri resikonya.
Berapa umurmu?
Hampir 16 musim.
Berarti kau masih kecil.
Beberapa hal kecil bisa berguna...
...dan yang besar justru tidak.
Kau lucu.
No comments yet. Be the first to leave one.