The Velvet Underground

The Velvet Underground

Elŝuti Indonesian Subtekston

Eldonaj informoj

The Velvet Underground 2021 1080p WEB H264-NAISU id
Komentaĵo de BioskopKaca21
Ripped Retail. Download movies on bckc21.com

Etikedoj

web
1080
Publikigita je: 2021-11-14
Elŝutoj: 51
Aŭdhandikapuloj: No

Antaŭrigardo de Indonesian subtekstoj

La unuaj 200 linioj.

MUSIK MENGERTI LANGIT ... BAUDELAIRE

I've Got A Secret, dipersembahkan oleh Winston.

Rokok filter terenak dan terlaris di Amerika.

Winston cita rasa rokok sejati.

Winston nikmat Cita rasa rokok sejati

Ya, rokok filter Winston

mempersembahkan acara panel nomor satu di Amerika, I've Got A Secret.

Panel, untuk alasan yang akan menjadi jelas,

pria di sebelah kiri saya ini akan dikenal sebagai Tn. X.

Namun, saya akan beri tahu bahwa dia dari Wales.

Dia orang Wales, sekaligus seorang musikus.

Kami akan kembali 20 detik lagi.

Berapa banyak heroin yang biasa Anda beli tiap hari?

29 gram, empat atau lima dolar...

Levittown, AS. Komunitas yang direncanakan cermat...

Dari Dallas, Texas, beritanya tampaknya resmi, Presiden Kennedy...

Satu, dua, tiga.

Ini John Cale, seorang musikus-komponis

yang pekan lalu tampil di sebuah konser untuk mengakhiri semua konser.

Apa yang tak biasa dari konser ini?

Pertunjukannya berlangsung 18 jam.

Ada yang bisa menebak apa rahasia Tn. Schenzer?

Dialah satu-satunya penonton yang bertahan selama 18 jam penuh.

Kenapa begitu?

Kenapa makan waktu 18 jam 40 menit untuk memainkan ini?

Ada arahan dari sang komponis Erik Satie di sini,

yang mengatakan bahwa musik ini

harus dimainkan berulang 840 kali.

Apa yang mendorongnya untuk meminta dimainkan 840 kali...

- barulah selesai? - Saya tak tahu.

Angin Angin bertiup

Angin Angin bertiup

Angin Angin bertiup

Angin Angin bertiup

"Saya merasa seperti sedang berada dalam bioskop.

Cahaya panjang melintasi kegelapan dan berputar.

SUARA LOU REED

Mata saya tertuju pada layar.

Gambarnya sendiri penuh titik dan sinar.

Saya anonim dan telah melupakan diri saya sendiri.

Selalu begitu saat seseorang ke bioskop.

Itu, seperti kata orang, adalah candu."

Dalam mimpi yang dibawa angin kepadaku

Kami pindah ke Long Island saat saya empat tahun.

Lou berusia sembilan tahun.

SUARA MERRILL REED WEINER

Kami tinggal di pinggiran kota, Freeport.

Datang dari Brooklyn ke komunitas pinggiran kota terpencil ini

adalah transisi yang sulit untuknya.

Dalam pelukanku

Angin, angin

Ibu saya seorang ibu rumah tangga.

Ayah saya ingin menjadi seorang novelis, penulis.

Nenek saya berkata, "Tidak, kau akan jadi seorang akuntan."

Dia pun menjadi akuntan.

Jika Anda menyeleksi sekelompok orang secara umum...

SUARA ALLAN HYMAN

...untuk peran keluarga 1950-an di mana ayah tahu yang terbaik,

saya rasa dia tak terlalu berhubungan dengan ayahnya. Ayahnya bekerja.

Dia bukan orang yang bisa jadi teman jalan-jalan dan main lempar bola.

Entah apa harapan ayah saya untuk Lou.

Mungkin dia pikir dia akan mengambil alih usahanya.

Harapan ayah saya untuk saya tak diragukan lagi

bahwa saya harus membuat sup ayam yang enak.

Jarang sekali, "Ayo pergi ke sirkus, ke museum..."

Tak ada itu.

Saya tahu dia telah pergi Tapi cintaku...

Pelatihan musik awal adalah piano klasik.

SUARA LOU REED

Saya pertama belajar gitar di usia 10 atau 11 dan mengambil kursus.

Saya rasa saya memainkan "Blue Suede Shoes"

dan berkata, "Ajari aku cara memainkan ini."

Saya rasa bukan itu tujuan mereka di sana.

Jadi, itu akhir pelajaran musik saya,

saya pun belajar gitar dengan bermain lewat piringan hitam.

Doo-wop. The Paragons, the Jesters, the Diablos.

Juga rockabilly.

Lou selalu berkata pada saya

bahwa nantinya dia ingin menjadi seorang bintang rok sejak dini.

Ini saat di SMA.

Saat berumur 14 tahun, saya membuat rekaman pertama saya, "Leave Her for Me".

Kekecewaan terakhir untuk saya

adalah malam di mana Murray the K seharusnya memutarkan itu di radio,

tapi dia sakit.

Alih-alih Paul Sherman yang memutarkan dan saya benar-benar hancur.

Saat itu kami semua duduk dekat radio.

Lalu, kami menerima cek royalti sebesar $2,79,

yang ternyata jauh lebih banyak daripada saat dengan The Velvet Underground.

Ambil semua bunganya...

Saat itu ada tempat bernama Hayloft

dan dia biasa tampil di sana sendirian.

Tinggalkan sayangku

Itu dikenal sebagai kelab malam gay.

Saya pernah tanya kenapa dia ingin tampil di kelab malam gay.

Lalu dia jawab itu sekelompok orang keren.

Tinggalkanlah dia untukku Tinggalkan sayangku

Band ini dijadwalkan tampil di kota.

Dia masih murid SMA saat itu.

Itu jelas menciptakan situasi sulit di rumah saya.

Kami tinggal di rumah nenek saya.

Nenek saya sangat nasionalis.

Satu hal yang tak disukainya, ibu saya menikahi pria Inggris...

SUARA JOHN CALE

...dan tak berbicara bahasa Wales.

Bukan hanya pria Inggris, dia menikahi penambang batu bara,

pekerjaan yang selama ini dia hindari untuk anak-anaknya.

Dia memastikan semua putranya dan ibu saya menempuh pendidikan.

Saat mereka menikah, lalu Ayah pindah ke rumah itu,

nenek saya melarang penggunaan bahasa Inggris di sana.

Sampai saya belajar bahasa Inggris di sekolah pada usia tujuh tahun,

saya tak bisa berkomunikasi dengan ayah saya.

Antipati yang saya dapatkan dari nenek saya

sungguh semacam bentuk kebencian.

Sedikit suram.

Ibu saya mengajarkan saya piano untuk beberapa lama

sampai saya mencapai titik tertentu,

lalu dia menyerahkan saya ke orang lain.

Ya, dia menahannya demi saya.

Maksud saya, ini mungkin di usia enam atau tujuh tahun.

Kehidupan khayalan adalah kehidupan radio.

Saat itu saya telah menemukan cara untuk benar-benar memanfaatkan radio,

yaitu dengan mendengarkan semua siaran asing.

Mendengarkan Suisse Romande dan Radio Moskow.

Saat saya masuk SMP, di sana ada orkestra, dan saya ingin bergabung.

Jadi, saya memilih biola, tapi tak ada biola di sana.

Yang ada viola, jadi saya dapat viola.

Mereka memainkan karya Bach, karya selo untuk viola.

Itu bagus. Membantu menambah pengalaman.

Namun, kemudian ada Paganini Caprices...

di mana saya membuat guru saya tertegun

dengan berkata saya akan mempelajari Paganini Caprices.

Ibu saya menjalani operasi payudara.

Dia menghilang dan masuk ke sebuah rumah sakit isolasi

dengan tembok luar setinggi 7,6 meter.

Lalu Ayah akan mengangkat dan menggendong saya.

Dia menghilang.

Keadaan mulai kacau.

Saya sendirian.

Ayah saya terus bekerja. Saya sungguh merasa sangat terisolasi.

Saya tak bisa membicarakan situasi saat itu dengan Ayah.

Begitu pula dengan Ibu.

Saya dicabuli dan tak tahu harus berbuat apa.

Ada satu karya yang saya ingat bagian pembukaannya,

tapi saya tak ingat bagian akhirnya.

Saya harus berimprovisasi sepanjang bagian akhir itu.

Saya menuntaskan karya itu dengan baik.

Saya menciptakan akhir yang pas dan berhasil lolos dengan itu.

Saat keluar dari ruangan itu, awalnya saya takut sekali.

Saya tak tahu apa yang akan terjadi, tapi lalu itu terjadi.

Saat itu terjadi,

itulah yang membuat perubahan di awal

soal bagaimana mencari jalan untuk keluar dari masalah.

Merasa takut soal apa yang akan terjadi bukanlah sebuah masalah.

Itu kelahiran improvisasi.

Perlahan, semua mulai terfokus pada apa yang akan saya kerjakan.

Saya pikir saya telah membuat sebuah keputusan praktis.

Saya berpikir, "Aku ingin jadi seorang dirigen."

Selain itu, sangatlah jelas bahwa saya harus keluar dari lembah itu.

Tak ada apa-apa di sini. Saya sangat ingin keluar dari sana.

Tapi jika bukan karena sekali itu saat saya ketakutan setengah mati

dan harus tampil dan menyelesaikan sesuatu secara rapi.

Itu benar-benar membantu saya.

KOTA NEW YORK

Kau telah membunuh putra Eropamu

Kau meludahi orang di bawah 21 tahun

Tapi kini mobil-mobil birumu sudah tiada

Sebaiknya ucapkan selamat tinggal Hei, hei, hei, selamat tinggal

New York, selama masa perang, jadi tempat pelarian para seniman.

SUARA JONAS MEKAS

Jadi, saat itu ada pertemuan di New York

dan diskusi para seniman terbaik dari Paris dan Berlin.

Sebaiknya kau ucapkan selamat tinggal Para badutmu mengucapkan selamat tinggal

New York di akhir tahun '50-an. Kini kita akan menuju tahun '60-an.

Sementara Nouvelle Vague Prancis memiliki Cinémathèque Française,

kami punya 42nd Street kami.

Tiap malam kami pergi ke 42nd Street,

di mana ada 15, bukan, mungkin 20 gedung bioskop lainnya.

Itu periode ketika semua seni

dan juga gaya hidup mulai berubah.

Yang mencapai puncaknya saat memasuki tahun '60-an.

Kami bukan bagian dari subkultur atau kontrabudaya. Kamilah budaya!

Para pelukis, musikus, sineas.

Mereka kurang tertarik dalam menceritakan kisah naratif.

Aspek puitis dari film membawa film ke tingkatan seni lainnya.

Awalnya, Januari '62,

studio saya, Film-Makers' Cooperative,

menjadi tempat pertemuan semua sineas.

Tiap malam ada pemutaran film.

Di sanalah biasanya Andy menghabiskan waktunya.

Tapi saya tak tahu dia adalah Andy.

Dia hanya duduk di lantai dengan yang lainnya.

Di sanalah dia bertemu para superstar awalnya

seperti Mario Montez, Jack Smith, dan Gerard Malanga.

Itu adalah sekolah film Andy.

Saat saya kuliah di Goldsmiths...

itu sungguh sebuah lembaga pendidikan yang bebas.

Mereka mengajarkan viola dan kuliah komposisi dengan Humphrey Searle.

Dia memahami Cage dan semua orang yang jadi ketertarikan saya.

John Cage dan "Water Walk".

John Cage adalah pelopor terkemuka

Komentoj

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left