La unuaj 146 linioj.
Oom Str Lgs.12.Sep.2014
Sebuah bom berkekuatan besar meledak di Peshawar, Pakistan.
Taliban dipercaya yang melakukan semua kejadian ini.
Kami menunggu kelanjutan cerita ini dari Pemerintah.
Orang-orang miskin menunggu makanan dan tempat tinggal yang disediakan
Seorang Remaja menjelaskan bagaimana dia bergabung dengan Taliban...
..setahun yang lalu, ketika dia berusia 13 tahun
Pertama, dia katakan, dia tertarik oleh acara di mesjid...
..kemudian dia dipilih di sebuah madrasah...
...dan akhirnya dia dilatih secara militer dalam beberapa bulan
Begitulah gambaran.....
Mau kemana kau? kau belum selesai lagi belajar.
Aku mau pergi bermain dengan teman-teman dibukit sana, Ayah?
Kau tahu apa yang mereka mainkan disana, jangan bodoh Khan.
Jihad bukan satu kebodohan, Ayah Jihad itu suci
Benar, tapi bukan dengan cara mereka itu.
Kau berbeda dengan mereka, Nak!
Kenapa aku bisa berbeda dengan mereka, Ayah?
Tidakkah Ayah ingin membalas dendam melawan mereka yg menghancurkan keluarga kita?
Mata untuk sebuah mata Kakak Rajash telah...
Khan!
Apa yg mereka lakukan tidak akan menyelesaikan masalah bangsa kita.
Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut, Ayah.
Jihad kepada Tuhan tidak perlu memakai pedang, tapi pakai pikiranmu.
Dengan ini..
Jihad pakai pulpen dan ilmu pengetahuan bukan tindakan pengecut
Kaulah satu-satunya harapan Ayah
Kaulah yg akan mencerahkan keluarga ini dimasa depan.
Khan, khan, khan!
- Jangan, jangan, - Tidak Ayah.
Aku sudah menyuruh mereka pergi, Ayah.
Aku berjanji berjihad dengan pulpen ini.
Khan, sudah kubilang padamu, ini akan terulang lagi.
- Katakan padaku, - Kau harus tahu dulu sejarah gedung ini apa
Sekarang sebuah Gereja.
- Seperti, beberapa tahun yang lalu, benar? - Beberapa ratus tahun yang lalu.
Ratus tahun yang lalu, Itu seperti, dimasa yang lampau.
Sebelum Spanyol mengambil alih gedung itu.
Terserahlah, inti'nya
Itu bodoh sekali, kawan.
Kau tahu, Timphan?
Itu juga bagian sebuah kebodohan
- Kali ini kau berpikiran seperti kami. - Tidak, tidak.
- Bagus itu - Bukan begitu yang kukatakan
Aku tidak berpikir seperti kalian, oke? kau salah menilaiku.
Tentu jalan yang kupikir adalah...
...dimana mereka seperti kekerasan mereka tidak diperbolehkan
Kau tahu? kau fahamkan apa maksudku?
Kau bahkan tidak mendengarku, kawan.
- Peu..? - Kau ada lihat Pulpenku./ - Hana kunging hai....
Ini buku yg kau ingin lihat itu
Hai, aku Hanum Salsabela sekarang aku melapor dari Viena
Laporan tentang liburan yang kau katakan padaku sebelumnya...
Baiklah, maafkan aku Akan kutunggu.
Kenapa lagi?
Hanya..nggak papa sih Tapi ketika kau bertanya
..tanganmu bersentuh dia, itu tidak boleh kecuali istri'nya..
...sebelum dia sholat.
Lagi pula, aku harus pergi. Jadi, tolong katakan pada'nya..
..untuk menemui aku di taman setelah selesai belajar?
- Baiklah, akan kukatakan padanya. - Oke, sampai jumpa lagi.
Ha ek long....
- Kau tidak mengerti. - Tidak.
Aku juga sama, nggak masuk akal bagiku.
- Itu tentu saja tidak masuk di akal, - Tidak, itu tidak mungkin.
Apa tanganku ini kotor atau apa gitu?
- Mungkin saja kau gadis yang" kotor" - Pantat kau!
- Maarja, mau kemana kau? - Aku pergi?
- Tapi kau belum bayar, woi.. - Kau yg bayar,
Aku bawa uang kontan apa nggak, ya?
Hei, apa khabarmu? bisa kau beri nomor Hp mu?
Halo, Cantik.
Singgahlah sebentar, Namaku Michael Jess.
Sebuah Bom meledak di Pakistan
Khan, tunggu sebentar, woii..
Memang kupikirin
Pikirlah itu.
Peu?
- Kau ingin mengatakan sesuatu? katakanlah. - Bilang apa?
Sesuatu yg dalam pikiranmu, bilangin aja
..dalam pikiranku, aku ingin menanyakan.
Ada satu lagi, hanya satu lagi
Itu dia itu inti'nya, kau sudah tau sekarang.
Itu kenapa mungkin aku belum kawin- kawin lagi
Aku belum siap lagi, Entahlah.
Pergi dariku!
Hei, hei, lepaskan dia.
- Leon? - Aisha hati-hati, awas-awas.
Dan ini untuk kamu, sebagai ucapan terima kasih.
Terima kasih kembali
Semoga beruntung
- Lagi ngapain kamu? - Hai, Tante, aku lagi nunggu Ibu'ku.
Apa kau tau dimana Aisha sekolah
- Aisha - Kau masih belum ketemu dia, kan?
- Belum lagi, Leon. - Apa dia masih marah padaku?
Tidak Leon, mengapa kau berpikiran begitu?
Itu benar apa yg guru katakan, apa Aisha sedang sakit?
Itu bukan gara-gara aku, kan?
Aisha sakit..
Tapi dia...
Sudah ibu bilang jangan bicara dengan orang yg tidak kau kenal
Tapi dia aku kenal Ibu
Dia itu tetangga teman sekolahku, Ibu?
- Tante janji? - Aku janji.
Jangan letakkan Kari didalam oven
Hei, manusia Kari
- Bai, manusia Kari - Bai juga manusia babi.
Tolong berikan ini pada Aisha
Sayangku, Aisha, aku benar-benar menyesal Aku selalu mengganggumu.
Aku tidak ingin kau meninggalkan sekolah dikarenakan aku, Leon.
Begitulah temanmu itu. Begitulah dia melihatku
Tidak, dia tidak seperti itu
Maafkan aku, Rangga, itu seperti itu dia memanggilku manusia Kari.
Papa Kari
- Cuma bercanda dia - Bercanda?
Kau bilang itu cuma canda? Apaan itu?
...tapi aku benci kari
- Oh, itu kenapa kau berikan aku, - Ya, karena itu aku kasi kamu/
itu kenapa aku kasi istrimu itu kenapa aku kasi ke semua orang.
Aku tidak suka kari, cuma itu yang bisa kubeli di negara ini...
- Yang Istrimu masak itu, - Setiap hari.
Rangga, jika Khan tidak kuliah dikampus ini...
...kampus ini akan menjadi indah sekali.
Aku katakan padamu.
Aku pergi dulu
Hei, kamu! Tolong bangun, nyonya.
- Maaf. - Kau tidak boleh berdoa disini.
Bangun
- Ya, aku hanya, - Pak, apa yang terjadi?
- Kau tidak boleh berdoa disini. - Ya, aku tau.
- Pergi dari sini. - Pak, dia istriku, oke, oke, aku minta maaf.
Oke, tolong bek bengeh-bengeh, beh?
Permisi, berikan aku minuman?
Hai, maaf aku mau nanyak sesuatu nih
Kenapa kami tidak diizinkan berdoa di mesjid itu? itu mesjid, kan?
Itu dulu, sekarang Gereja Katedral, oke?
Ya, itu sudah menjadi Gereja katedral, sekarang
Dengar, aku tau kalian ingin berdoa disana. kerabatku seorang muslim, juga.
- Benar, Lho? - Jadi, kau muslim juga?
Itu tidak masalah kalau aku muslim apa bukan
- Aturan tetap aturan, nyonya. - Yah, maafkan kami.
Terima kasih, Pak. kami tau anda hanyalah melaksanakan tugas.
- Selamat tinggal. - Terimong gaseh.
- Terima kaih, - Nikmatilah makanan anda.
Kau cobalah
- Terima kasih, - Tidak masalah
No comments yet. Be the first to leave one.