Οι πρώτες 192 γραμμές.
Sejauh ini dalam Life Story,
Kita telah melihat hewan-hewan yang menghadapi tantangan di masa kecil...
tumbuh dewasa
menemukan tempat mereka dalam dunia dewasa...
dan memenangkan pasangan kawin.
Kini, di bagian akhir Life Story,
hewan-hewan menjadi orangtua.
Keturunan mereka akan jadi penerus di masa depan
jika mereka bisa berhasil mengasuhnya.
Di alam, tak ada ikatan yang lebih kuat
dibanding ikatan antara orangtua dan keturunannya.
Bonobo di hutan hujan Congo.
Mereka adalah kerabat terdekat kita.
Anak induk ini adalah sebuah komitmen seumur hidup.
Ia akan bergantung pada induknya hingga berusia lima tahun.
Dan si induk akan terus mendukungnya hingga akhir hayat.
Hubungan mereka mungkin bisa bertahan sampai 30 tahun.
Meski masa komitmen induk ini lebih lama
di banding kebanyakan hewan,
ia berbagi tantangan yang sama dengan kebanyakan orangtua lain -
menjaga anaknya tetap sehat dan aman.
Ikatan antara orangtua dan anaknya akan teruji dalam berbagai cara,
beberapanya ringan, dan beberapa lainnya menyangkut hidup dan mati.
Komitmen orangtua mungkin dimulai jauh sebelum kelahiran si anak.
Bagian ujung utara yang terpencil di Great Barrier Reef.
Setelah tiga dekade berada di laut,
penyu hijau betina ini kembali ke kepulauan
tempat di mana dulunya ia menetas.
Sudah saatnya ia bertelur
tapi telur-telur itu hanya menetas di daratan yang kering.
Ia harus meninggalkan dinginnya laut dan memasuki dunia asing.
Tanpa didukung air,
ia merasakan tarikan penuh gravitasi.
Siripnya yang sangat efektif untuk berenang,
nyaris tak berguna di darat.
Tapi ia harus tetap membawa beban tubuhnya ke pesisir
dan keluar dari jangkauan air pasang.
Penyu mengatur waktu kedatangan mereka
agar perjalanan melelahkan dalam menapaki pesisir
bisa dilakukan pada suhu dingin malam hari.
Dalam satu malam,
3.000 penyu betina merayapi pulau ini untuk menggali sarang mereka.
Kini desakan untuk meninggalkan telurnya mungkin harus pertaruhkan nyawanya.
Surutnya laut memunculkan karang, sebuah dinding batu bergerigi.
Penghalang yang tampaknya nyaris tak bisa dilewati
bagi penyu yang kelelahan.
Tapi ia tak bisa menunggu hingga air pasang
karena di pulau ini, terik matahari tropis,
akan terlalu panas baginya.
Jika gagal melewati dinding berbatu ini,
ia akan terpanggang dalam cangkangnya.
Rintangan maut ini diklaim banyak memakan korban setiap musim bertelur.
Sekali tergelincir bisa berakibat fatal.
Dia hampir berhasil.
Tapi mungkin banyak lainnya yang tersesat.
Air kembali pasang.
Jika ia benar-benar terjepit, ia akan tenggelam.
Tapi ada peluang air yang meninggi mengangkatnya hingga lepas.
Di musim berkembang biak ini,
kewajibannya sebagai ibu telah usai.
Ia takkan pernah melihat bayi-bayinya lagi.
Telur-telur itu takkan menetas dalam dua bulan, dan di saat menetas,
bayi-bayi itu harus bertahan hidup tanpa bantuan si induk.
Orang tua lainnya harus tetap dekat anaknya setiap saat
untuk melindunginya dari bahaya.
Seekor induk bison Alberta, Canada.
Anaknya berusia sedikit lebih dari seminggu.
Serigala secara cermat memilih target yang paling mudah.
Anak bison.
Maka induk bison upayakan anaknya tetap berada di tengah kawanan
yang menjadi tempat teraman.
Tapi tak selalu memungkinkan jika kawanan dalam pelarian.
Pengejaran berlangsung hingga 25 km
serigala sengaja membuat target berlari hingga kelelahan.
Para serigala menentukan pilihannya.
Induk itu sendirian, tapi tanpa rasa takut ia melindungi anaknya.
Dengan terus berada di dekat anaknya,
ia berhasil menghalau kedua penyerangnya.
Tapi serigala lain bergabung, si induk tak mampu melawan bertiga.
Kini para serigala bekerja sama untuk melumpuhkannya.
Hutan berjarak tak jauh.
Jika si induk dan anaknya bisa mencapai pepohonan,
mereka mungkin bisa menghindar cukup lama dari serigala untuk bergabung dengan kawanan.
Tapi serangan begitu gencar,
mereka tak bisa kabur untuk berlindung.
Para serigala mulai letih.
Ia melihat kesempatan untuk menerobos lari.
Sekali lagi ia menghadang jalur serigala.
Dan para serigala kehilangan mereka di antara pepohonan.
Tapi serigala tetap menjadi ancaman yang selalu ada.
Dan tampaknya ini bukan yang terakhir
bagi si induk untuk berjuang bagi anaknya.
Tugas orangtua mungkin tampak didasari insting,
tapi ada beberapa keahlian yang harus dipelajari.
50 ekor lutung Hanuman hidup di atas tebing di India.
Keluarga besar, dengan anggota dari berbagai usia.
Tapi hanya ada satu jantan dewasa.
Bekas luka di wajahnya adalah bukti masa lalunya yang keras.
Ia ayah dari semua anak ini.
Sebagai ayah, si Muka Codet punya sedikit tugas dan banyak fasilitas.
Ia dilimpahi perhatian dari para betina...
dan lepas tangan dalam hal mengurus anak.
Tapi perlindungannya memberi keluarganya
keamanan dan ruang yang mereka butuhkan
untuk bertumbuh dan belajar.
Tambahan anggota terbaru dalam kawanan.
Bayi ini bergantung penuh pada induknya, dan si induk memanjakannya
Tapi untuk menjadi induk yang baik diperlukan latihan.
Dan seekor betina muda, orangtua di masa depan,
mempelajarinya dengan bermain ibu-ibuan bersama bayi induk lain.
Ia tampak penuh kasih sayang.
Ini pengalaman berharga bagi pengasuh bayi.
Tapi kini ia mulai bermain-main dengan si bayi.
Segalanya dengan cepat di luar kendali.
Sepertinya ia ingin melepaskan diri dari si bayi.
Penyelamatan tampaknya mendekat.
Tapi itu bukan induk si bayi,
tapi pelajar lain yang bahkan lebih ceroboh dari sebelumnya.
Akhirnya, induk si bayi
merasa permainan ini sudah berlangsung cukup lama.
Ia selamatkan bayinya dan memberi perawatan layak.
Mungkin ia menolerir kelakuan kedua calon ibu itu
karena mereka adalah kerabat dekat.
Begitu banyak betina berkerumun di atas tebing untuk menarik
perhatian seekor pejantan dewasa pesaing.
Tujuan jantan ini adalah mengalahkan Muka Codet dan merebut para betinanya.
Dia memimpin sekelompok bujangan terbuang masuk pertempuran.
Muka Codet melihat mereka.
Segala miliknya jadi taruhan, sebab jika para bujang mengalahkannya,
mereka tak hanya merebut para betinanya,
tapi juga membunuh anak-anaknya.
Para bujang meraih tempat tinggi untuk melepas serangan mereka.
Muka Codet memperingati mereka agar tetap menjaga jarak,
tapi para bujang terus maju.
Muka Codet kertakan gigi, tunjukkan keseriusannya.
Tapi pemimpin para bujang telah mencapai puncak tebing
dan merespon dengan kertakan gigi.
Jika kalah dalam pertarungan ini, Muka Codet akan kehilangan penerus.
Saatnya menyerang.
Ia menyasar pemimpin bujang.
Muka Codet telah menang.
Dan ia kembali dengan disambut sebagai pahlawan.
Tapi itu hanya penangguhan sementara.
Bagi lutung jantan seperti Muka Codet,
menjadi orangtua itu sederhana, tapi berbahaya.
Ia telah singkirkan para bujangan dan menyelamatkan keturunannya,
Setidaknya untuk saat ini.
Keberhasilan bagi orangtua lain menuntut dedikasi penuh.
Seekor burung drongo Afrika.
Ia harus meneduhi tiga telurnya dari terik matahari.
Begitu telurnya menetas,
ia akan membentuk ikatan yang tak terpatahkan dengan anak-anaknya,
apapun yang terjadi.
Setelah ratusan jam berinkubasi... anak pertamanya.
Kini kerja keras harus dimulai
karena anak burung yang baru menetas butuh makanan.
Tak berapa lama lagi, dua lainnya akan menetas
dan anak ini harus berbagi apa yang akan dibawa pulang induknya.
Atau akankah demikian?
Anak burung ini menyingkirkan persaingan.
Ia ingin perhatian penuh dari induknya.
Saatnya memberi makan.
Ada yang berubah. Tapi apa?
Tampak mulut oranye cerah anaknya itu
meminta ia membawa makanan lagi.
Bobot telur nyaris sama dengan anak burung.
Ia seolah mendorong batu besar menanjak ke atas.
Si anak punya rongga di punggungnya, membantu ia mengarahkan bebannya.
Telur si induk berkurang hingga tinggal satu anak
kini anak itu mendapat perawatan total.
Saat si induk tak pergi mencari makanan, ia meneduhi si anak.
Dan ia merespon cepat kapanpun si anak minta makanan.
Tiap hari selama tiga minggu,
ia membawa lusinan daging.
Anaknya seperti tak pernah berhenti makan atau bertumbuh.
Ada sarang drongo lainnya di dekat situ
dan ada tiga anak burung di dalamnya.
Tapi mereka tak terlihat kalem seperti induknya.
Itu karena si induk membesarkan burung asing...
anak burung tekukur.
Burung tekukur menyimpan telurnya di sarang burung lain
dan meninggalkan tanggung jawab membesarkan anak pada burung lain.
Telur burung tekukur sangat mirip dengan telur burung drongo
sehingga ibu angkat ini benar-benar tertipu.
Berada di sarang drongo, anak-anak itu kini beranjak dewasa.
Orangtua mereka telah berhasil menghasilkan generasi penerus,
sedangkan induk yang satu ini membesarkan seekor monster.
Kasih sayangnya buta.
Kembali ke Congo,
komitmen jangka-panjang induk bonobo pada anaknya terus berlangsung.
Saat ini, ia memperagakan
seni rumit membuat ranjang sepanjang tiga kaki di ketinggian,
No comments yet. Be the first to leave one.