Οι πρώτες 120 γραμμές.
Mahabharata Episode 209 (Than's to Mr. Wayan S. Arsana for his suggestion)
Apakah itu kepalan tangan keangkuhan?
Ataukah sebuah tangkupan tangan dari pengorbanan yang telah kamu pikirkan saat ini?
Dapatkah kamu memahami pengetahuan ini?
Apakah dunia ini sebenarnya, Arjuna!
Manusia, Setan, burung
parasit, serangga, ikan, pepohonan ....
Bagaimanakah semua ini diciptakan?
Berasal dari unsur apakah mereka diciptakan?
Bagaimana fungsi mereka dan bagaimana mereka bertahan?
Bagaimana mereka mati?
Dan apa yang akan terjadi setelah semua itu mati?
Merenungkan akan rahasia ini.
Tubuh manusia terbuat dari tanah, Khrisna?
Air mengalir di dalamnya sebagai darah dan juga kebaikan - kebaikan lainnya.
Api memberikan kehangatan kepada tubuh
Dan rongga - rongga kosong lainnya yang ada di dalam tubuh
Karenanya, tabanh, udara, air api dan zat eter ...
Tubuh terbuat dari kelima elemen dasar ini yang disebut Panca Maha Butha
Karenanya, Kakek Bhisma, Guru Drona
adalah tidak lebih dari tanah, air, udara, api dan zat eter saja.
Bahkan orang pintar pun terdiri dari Panca Maha Butha dan begitu juga dengan orang kejam.
Jadi apa yang akan kamu rindukan, Arjuna?
Tanah?
Tetapi Khrisna, tubuh ini memang terbuat dari tanah yang juga melambangkan identitas manusia itu sendiri.
Semua ikatan itu mengakar di dalam tubuh yang terbuat dari tanah ini.
Tidak, Arjuna!
jika ini memang benar
lalu mengapa tubuh seseorang hancur setelah mati?
Kenyataannya
tak ada satupun identitas berasal dari tubuhnya ataupun hubungan yang mengakar di dalam tubuhnya
Sifat dan tingah laku
dan amal seseoranglah yang menjadi identitasnya.
Lalu bagimanakah sifat, tingkah laku dan amal diciptakan?
Pahamilah itu, Arjuna!
Kehidupan manusia
hanyalah perwujudan keserasian antara sesuatu yang tampak dan tidak tampak, Arjuna!
Namu sifat dan amal setiap menusia
yang membuatnya berbeda.
Dasar untuk ini adalah tiga sifat manusia yang disebut 'Tri Guna'
'Tamas' (Kebodohan), 'Rajas' (Nafsu) dan 'Sattva' (Kebaikan)
Apakah yang dimaksud dengan itu, Khrisna?
'Tamas' berarti kebodohan
Menghabiskan hidup tanpa memikirkan baik atau buruk bisa dikatakan 'Tamas' yang berhubungan dengan kebodohan
Seperti halnya kehidupan burung dan binatang
semata - mata hanya untuk memenuhi keinginan tubuh mereka
'Sattva' berarti kebaikan
Ketika seseorang dalam situasi tertentu
memikirkan tentang keadilan, kebenaran dan adat - istiadat sebelum melakukan sesuatu
maka disebut sebagai 'Sattva' yang berhubungan dengan kebaikan akan jalan kehidupan
Ditengah kedua hal itu adalah seseorang
yang menguasai ilmu pengetahuan
tetapi dia juga tertarik akan nafsu tubuh dan pikiran
Seperti manusia yang hidup dengan keangkuhan
artinya 'Rajas' yang berhubungan dengan nafsu
Dengan menciptakan keseimbangan antara kebodohan, nafsu dan kebaikan maka sifat manusia dapat di tentukan
Lihatlah kedepan, Arjuna!
Sifat (Guna) apakah yang dapat kamu lihat dalam diri mereka semua?
Pangeran Duryodhana tahu akan keadilan tetapi dia tidak pernah bertindak berdasarkan nilai keadilan
Hidupnya dipenuhi dengan keangkuhan
Oleh karena itu dia sedikit memiliki kebodohan
Dia lebih banyak memiliki nafsu (Rajas) dan sepenuhnya tidak memiliki kebaikan
Dan disebelah sana adalah Pangeran Durshasana
Dia selalu mematuhi perintah kakak tertuanya tanpa memikirkannya terlebih dahulu
Oleh karena itu dia hanya memiliki kebodohan (Tamas)
Lihatlah juga Kakekmu Bhisma, Arjuna.
Dia memiliki keseimbangan antara kebaikan dan kebodohan
Dia tidak mempunyai keangkuhan
Tetapi dia terikat dengan pemikiran usang dan adat - istiadat yang kuno
Bahkan ketika keinginannya muncul dia tidak dapat melanggar sumpahnya
Lihatlah Guru Drona
Dia memiliki baik pengetahuan dan keangkuhan
Pengetahuan membebaskan manusia
Tetapi keangkuhannya tidak membiarkannya mencapai kebebasan
Tetapi Khrisna
jika sifat manusia adalah kesatuan dari Tiga Sifat Manusia (Tri Gunas) ini
apakah perbuatan manusia sudah ditakdirkan terlebih dahulu??
Bahwa se-ekor singa akan memangsa se-ekor rusa
dan rusa itu ditakdirkan untuk takut pada singa
Maka mengapa keadilan menjadi hal yang penting?
Mengapa kejahatan mendapatkan hukuman? Lalu apakah tujuan dari semua itu?
Sebuah pertanyaan yang bagus, Arjuna!
Tetapi pertama - tama pahamilah apa yang dimaksud dengan manusia itu!
Manusia tidak hanya gabungan kelima unsur dasar (Panca Maha Butha) tersebut.
Tidak hanya kelima wujud itu.
Lima 'Gyanendriyas' (Panca Indra), lima 'Karmendriyas' (Organ Fisik) dan ketiga 'Gunas' (Sifat) ...
Tidaklah hanya gabungan dari ke 23 wujud itu
Agar manusia dapat menjalankan fungsinya dia memerlukan energi
Dan energi itu disebut dengan nama 'Chetana' (Kehendak)
Jadi, apakah manusia terdiri dari 'Chetana' (Kehendak), Khrisna?
Tidak, Arjuna!
Bersamaan dengan Kehendak manusia dan gabungan dari ke 23 unsur itu adalah ciptaan
Dan yang berada dalam perangkat disebut manusia ini terbuat dari 24 entitas
adalah manusia yang artinya yaitu percikan terkecil dari Tuhan
Yang dinamakan sebagai jiwa (Atma)
Ketika ciptaan dan manusia menjadi satu
yang berarti, ketika percikan terkecil dari Tuhan berada di dalam tubuh seseorang sebagai jiwa (Atma)
saat itulah manusia akan hidup
Apakah yang dimaksud dengan jiwa (Atma) itu, Khrisna??
Dan apakah yang dimaksud dengan memahaminya itu?
Seperti halnya ketika manusia menggunakan kereta
seperti jiwa yang menggunakan perangkat yang disebut dengan tubuh
Melalui media tubuh
dia mengalami suka dan duka dari tubuh tersebut
Tetapi jiwa (Atma) bukanlah tubuh, Arjuna. Tubuh dapat dihancurkan
Tetapi jiwa (Atma) tidak dapat dihancurkan.
"Nainam chhindanti shastrani, nainam dahati pavakah"
"na chainam kledayanty apo, na sosayati marutah,"
Jiwa (Atma) tidak dapat ditembus oleh senjata apapun
ataupun dapat di bakar dengan api.
ataupun dapat dilemahkan oleh air ataupun dikeringkan oleh angin
Walaupun jiwa (Atma) berada di dalam tubuh
Jiwa (Atma) adalah abadi
"Na hanyate hanyamane sharire"
Arjuna, tubuh dapat di bunuh tetapi jiwa (Atma) tidak dapat dibunuh!
Jiwa ((Atma) ada di mana-mana, tidak berwujud, tetap
Dia kekal
Seperti halnya manusia membuang pakaian lama dan memakai yang baru
hampir sama jika jiwa (Atma) meninggalkan tubuh yang tua
dan berulang kali menempati ke tubuh baru.
No comments yet. Be the first to leave one.