Die ersten 184 Zeilen.
ATTENBERG
Kau suka?
Tak pernah sebelumnya kurasakan ada yang meliuk-liuk di mulutku.
Bagaimana rasa lidahku?
Seperti siput.
Menjijikkan.
Kau harus bernapas, atau kau akan tersedak.
Haruskah kubuka mulutku lagi?
Setengah saja.
Begitu.
Oke, mendekatlah.
Kau penuh dengan liur.
Akan kubuang.
Tak ada gunanya jika tak basah.
Julurkan lidahmu.
Gosokkan dengan punyaku. Bernafaslah melalui hidung.
Mengapa orang-orang melakukan hal ini?
Kau mau belajar atau tidak?
Tidak.
Buka mulutmu.
Tidak.
Buka.
Tidak.
Apa maksudmu tidak? cium aku.
Tinggalkan aku. Mulutku penuh dengan ludah. Lain kali saja.
Lihat, malah kau dulu yang meludah.
Periksa bannya di pompa bensin. Pompa bannya jika kempis.
Kau punya penumpang hari ini. Seorang insinyur.
Tiba jam 10. Kau bawa dia berkeliling dulu.
Baiklah.
Bagaimana ayahmu?
Pengobatannya sudah dimulai.
Mereka menerimanya?
Tidak, kami berobat jalan.
Sesuatu seperti pohon kaktus berduri yang besar.
Sebagai ganti dari pohon kaktus berduri, mereka malah tergantung dengan penis.
Maksudmu?
Besar, kecil, ukuran sedang...
berkerut...
tegak dengan cairan susu dll.
Sebagian melengkung ke kiri, sebagian melengkung ke kanan,
Sebagian dengan kulup, sebagian tidak.
Pohon dengan penis. Pohon penis.
Sebagian kecil dan keriput,
tapi sedikit bergoyang...
seolah-olah mereka bernafas.
Kau merasakannya?
Ukuran besar, yang banyak airnya.
Rasanya aneh.
Seperti buah almond pahit.
Dan aroma spunk yang kuat.
Apa itu "spunk" ?
Sperma busuk.
Seperti apa itu?
Seperti ribuan pria yang tersentak di tempat sama.
Dan kau menyukainya?
Kau tahu, ada hal dimana di satu sisi membuatmu menyukainya,
tapi di sisi lain membuatmu merasa berdosa.
Entahlah...
Melihat kemaluan dalam tidur adalah pertanda buruk.
Hal itu membuatku takut.
Karena kau bodoh.
Mereka seperti hewan-hewan yang kau suka,
di film-film dokumenternya Sir Attenberg.
Sir David Attenborough.
Mereka seperti hewan-hewan kecil juga.
Mereka bergerak sesuai naluri,
seolah-olah mereka melekat pada tubuh pria.
Ayah pernah membayangkan aku telanjang?
Tidak, tak pernah.
Seorang ayah tak boleh memikirkan hal seperti itu tentang putrinya.
Apa itu tabu?
Ada sebabnya mengapa mamalia punya pantangan.
Supaya bisa berkembang biak tanpa cacat.
Aku pernah membayangkan ayah telanjang.
Kau memalukan.
Membuatku terganggu, tapi aku tak mengelaknya.
Aku lebih suka memikirkan ayah...
sebagai pria tanpa penis.
Ayah benar.
Beberapa hal harus tetap jadi tabu.
- Ke hotel? - Ya.
Bisa kau datang besok pagi jam 8?
Aku tak kerja besok pagi.
Hanya di sore hari.
Jam 4 di pabrik, kalau gitu?
- Oke. - Dah.
Dah.
Baumu seperti zat pemutih.
Dan baumu seperti bensin.
Makan saja kentang panggangmu, anak mami.
Aku bukan anak mami.
Aku tak punya ibu.
Anak papi, tepatnya.
Bagaimana Spyros?
Maksudmu Tuan Spyros.
Menjengkelkan melihatmu sangat akrab.
Dasar wanita jalang kau, Bella.
Mau tambah roti?
Ada seorang pengintai duduk di pohon itu...
dan dia telah melihatku.
Lebih ada...makna, dan...
kesepahaman, dalam bertukang pandang dengan seekor gorila,
daripada dengan binatang lain yang kuketahui.
Dan jika ada sebuah kemungkinan...
untuk lari dari kehidupan manusia, dan berkhayal untuk hidup...
dalam makhluk hidup lainnya,
pastinya dengan menjadi gorila.
Ayah masih menyimpan foto ibu.
Kalian berdua terlihat bahagia.
Simpan ini.
Dan ini.
Dan ini.
Dan ini, itu saja.
Bilang jika aku terlalu cepat.
Oke.
Gol.
Kau tahu babifoot.
"Babifoot" ?
Foosball.
Gol.
Gol.
- Dah. - Dah.
Apa kau akan menikah?
Kurasa tidak.
Kau tak menyukai pria?
Tak secara khusus.
Ayah tak menyalahkanmu.
Ayah tak suka pria juga kan?
- Ayah lebih suka wanita. - Aku juga.
Bukan menyukai secara intim, seperti ayah. Aku tak nafsu dengan mereka.
Aku tak pernah punya nafsu.
Aku tak pernah melakukannya dengan siapapun.
Aku merasa itu menjijikkan.
Memuakkan.
Bagiku, kesana kemari seperti piston (pengisap), menghimpitku...
Aku juga tak mau membayangkan hal itu pada ayah.
Ayah tak pernah begitu.
Tak pernah.
Ayah sungguh seperti seorang alien...
seperti yang kupikirkan.
Tidak gila.
Tak bernyali.
Tak punya hati.
Tak berkentut.
Tak punya kotoran hidung.
Tak berliur.
Tak punya rasa humor.
Ayah pernah nafsu terhadap seseorang, selain ibu?
Ya.
Ayah melakukannya?
Apa?
Ayah tahulah...
Itu. "Piston."
Ya.
Ayah mengecewakanku.
- Sedikit bersimpatilah. - Aku benci bersimpati.
Ayah ingin kau mulai menjalani hidup dengan orang lain bersama-sama.
Bukan itu yang ayah ajarkan padaku untuk hidup.
Mengapa ayah memintaku melakukannya sekarang?
Sedang apa kau disini?
Aku ada seorang penumpang.
Mau kemari? Untuk segelas bir?
Aku harus mengembalikan Volvo ini.
Sebentar saja.
Siapa namamu?
Marina.
Kau suka Suicide?
Ya. Sangat.
Aku juga.
Alan Vega keren kan?
Ya.
Kau terlalu muda mendengarkan lagu Suicide.
Umurku 23.
Apa lagu favoritmu?
"Be Bop Kid."
Kalau "Surrender"?
Boleh juga.
Sedikit mellow, tapi bagus.
Mau duduk?
Disini.
Bir?
Tidak.
- Boleh aku menciummu? - Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.