Die ersten 129 Zeilen.
Waktunya tiba!
Semuanya, jangan lupa tekan ikuti, ya!
Aku mohon!
Lu Guang, bicaralah sesuatu.
Mohon, ikuti kami.
Siapa, ya?
Ibuku sedang membawa adikku ke toilet.
Halo, Nak.
Ini adalah Pusat Kesehatan Mental.
Apakah ibumu pernah menelepon,
dan berkonsultasi soal psikologisnya?
Di rumah kami tidak ada orang gila!
Tianchen.
Siapa yang menelepon?
Hanya salah sambung.
Akhirnya hari ini bisa buat janji temu dengan Dr. Qin.
Tidak dibohongi, 'kan?
Jangan asal omong.
Lihat, adikmu jadi takut.
A-Aku akan menjaganya.
Ini bahasa isyarat yang baru dipelajari Xiao Xi.
Apa maksudnya?
Artinya kakak yang baik.
Kau sengaja, 'kan?
Yang lain tak diajari, malah ajari isyarat begini.
Sudah, kalian masuklah.
Ya, baik.
Katakanlah.
Apa yang sakit?
Putriku.
Setengah tahun lalu mulai tidak bisa berbicara.
Sudah pergi ke berbagai tempat.
Namun, penyebabnya masih belum tahu.
Tidak apa-apa.
Ada aku.
Keluar!
Kenapa sekarang kau malah jadi pengecut?!
Bukankah kau selalu arogan saat memarahiku?!
Kalian suka berkhianat padaku, 'kan?
Matilah!
Xiao Xi!
Matilah, kalian semua!
Jangan.
Cheng Xiaoshi!
Aku tidak apa-apa.
Untung cuma tergores.
Lu Guang, kau masih terluka.
Jangan memaksakan diri.
Dungu!
Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.
Kakak.
Aku...
sangat takut.
Aku rindu...
ibu.
Lu Guang.
Berakhir.
Qian Jin.
Cepat.
Pergi.
Pergi.
Li Tianchen.
Xiao Li.
Saat Festival Arwah tahun depan, tolong gantikan aku untuk mendoakan Chen Bin dan Wang Juan.
Qian Jin bajingan!
Berhenti, Qianjin!
Kak Qiao Ling.
Terima kasih.
Qiao Ling.
Qiao Ling.
Jika mediasi tidak berhasil,
kau boleh pilih jalur hukum
dan bercerai dengannya.
Aku bukannya tidak mau bercerai,
tapi memikirkan Tian Chen dan Tian Xi yang masih kecil.
Apalagi Xiao Xi ada sedikit gangguan intelektual.
Aku kalau seorang diri tidak tahu harus apa.
Aku bisa membantu kalian.
Terima kasih, Guru Zhou.
Namun, aku tidak mau merepotkanmu terus.
Xiao Xi.
Kau sudah bangun.
Kenapa menangis?
Mimpi buruk, ya?
Aku tidak mau.
Aku tidak mau ayah dan ibu bercerai.
Apakah ayah dan ibu tidak menginginkanku?
Teriaklah lagi!
Berani menendangku bahkan membantahku.
Ya, 'kan?!
Jangan harap kelak kau hidup dengan baik!
Lihat saja bagaimana aku membunuh kalian!
Tunggu saja.
Tunggu saja kau.
Apa yang kau lakukan?
Ibuku tidak berani membunuhmu,
kalau begitu aku saja!
Dasar gila!
Kau juga gila!
Apa kita menyingkirkan bajingan itu untuk selamanya?
Halo.
Untuk pertama kalinya aku menyapamu begini.
Benar-benar luar biasa.
Padahal anakmu sudah mau lahir.
Kasihan sekali.
Maaf.
Maaf.
Maaf...
Kenapa tiba-tiba tidak mau dikendalikan?
Putriku.
Maaf.
Ayah sangat ingin menemanimu hingga dewasa.
Mendengarmu pertama kali bicara.
Melihatmu belajar jalan.
Mengantarmu ke sekolah tiap hari.
Aku harap bisa di sisimu saat kau sakit.
Menggenggam tanganmu
dan menemanimu jalan di pernikahanmu.
Melihatmu menjadi seorang ibu.
Maaf, putriku.
Maaf, maaf.
Maaf.
Aku bukanlah ibu yang baik.
Dari dulu aku tidak tahu bagaimana caranya lebih menyayangi kalian.
Serta melindungi kalian.
Ibu sudah berusaha.
Tapi...
tapi kenapa malah makin hancur?
Aku tidak mau.
No comments yet. Be the first to leave one.