It Happened One Night

It Happened One Night

Stáhnout Indonesian titulky

Informace o verzi

It Happened One Night 1934 1080p BluRay x264 (idn)
Komentář od Tegnab Sidima
It.Happened.One.Night.1934.1080p.BluRay.x264 (idn)

Tagy

bluray
Zveřejněno: 2026-07-22
Stažení: 5
Pro sluchově postižené: No

Náhled titulků v jazyce Indonesian

Prvních 200 řádků.

Mogok makan? Sudah berapa lama ini berlangsung?

Dia belum makan apa pun sejak kemarin hingga hari ini.

- Makanan tetap diantar ke kamarnya? - Ya, Pak.

- Kenapa tidak disuapi paksa saja? - Tidak semudah itu, Tuan Andrews.

Biar saya bicara sendiri dengannya. Suruh antarkan makanan ke kamarnya.

Baik, Pak.

Aku tidak akan makan sampai Ayah mengizinkanku turun dari kapal ini!

Sudahlah, Ellie. Kau tahu Ayah pasti menang.

Kali ini tidak. Aku sudah menikah dengannya.

Kalian tak akan pernah tinggal serumah. Ayah pastikan itu.

Kenapa Ayah tidak mengerti kalau King Westley dan aku sudah menikah?

Sah secara hukum, benar-benar sudah menikah.

Semuanya sudah selesai. Tak ada lagi yang bisa Ayah lakukan. Aku sudah 21 tahun. Begitu juga dia.

Apa kau ingin tahu, selama kau di kapal ini...

Ayah sudah mengurus pembatalan pernikahanmu?

"Pembatalan?" Aku pasti akan menentangnya, begitu juga King.

Ayah memang menduganya.

Makanannya. Masuklah, masuk.

Sudah kubilang jangan bawa makanan kemari.

Tunggu sebentar. Ini bukan untukmu. Taruh saja di sini.

Cerdik juga, ya? Halus sekali caranya.

Strategi, Sayang.

Mengirim preman untuk menyeretku dari kantor pencatat nikah itu juga strategi?

Strategi Ayah cuma pakai kekerasan.

Banyak perdebatan yang kumenangkan dengan cara itu.

Selain karena Ayah tidak menyukainya, Ayah tak punya alasan apa pun terhadap King.

- Dia cuma penipu. - Dia salah satu pilot terbaik di negeri ini.

Kau menikahinya hanya karena Ayah melarangmu.

Sejak kecil Ayah selalu melarang aku melakukan sesuatu.

Karena kau memang keras kepala.

Aku memang berasal dari keluarga yang keras kepala!

Jangan berteriak. Nanti malah lapar.

Aku akan berteriak kalau mau! Aku akan menjerit kalau mau!

- Baiklah, menjeritlah. - Kalau Ayah tidak membiarkanku turun...

Akan kuhancurkan semua perabot di kamar ini!

Nah, ini. Steak yang empuk dan berair.

Kau tak perlu memakannya. Cukup cium aromanya.

Harumnya luar biasa.

Oh!

Ellie! Ellie!

Ellie!

Ellen!

- Turunkan sekoci! - Turunkan sekoci!

Tangkap dia! Tangkap dia!

Ayo, cepat! Ayo!

- Dia berhasil kabur. - Tentu saja. Dia terlalu cerdas untuk kalian.

Kirim telegram radio ke Biro Detektif Lovington.

"Putri saya kabur lagi. Awasi semua jalan...

bandara, dan stasiun kereta di Miami."

Semua penumpang naik!

Palm Beach, Savannah, Jacksonville...

New York, Philadelphia...

Kita cuma buang waktu. Masa Ellie Andrews naik bus?

Sudah kubilang pada bos tua itu omong kosong.

Satu tiket ke New York, tolong.

- Ini tiket Anda. - Terima kasih banyak.

- Silakan. - Oh, terima kasih.

Ada apa ini? Saya ingin memakai telepon.

Pergi sana. Sedang tercipta sejarah.

- Apa? - Ada orang menggigit anjing di dalam.

Bagus, Petey!

Aku sudah muak.

- Tidak akan! - Nah, begitu!

Dengar, muka monyet. Saat kau memecatku...

kau memecat wartawan terbaik yang pernah dimiliki koran murahanmu.

Kau bahkan tak bisa mengenali berita bagus kalau menendang bokongmu.

Ya, aku sudah baca semua naskahmu.

Kenapa tak bilang kalau kau menulisnya dalam bahasa Yunani?

Itu puisi bebas, dasar tolol.

Apa yang bebas? Tulisanmu bikin koran ini rugi...

dan kami tak akan rugi lagi karenamu.

Pak Gordon, dia membebankan biaya telepon itu kepada penerima.

Apa? Dasar kau...

Dengar. Kalau kau kembali ke New York...

jangan pernah mendekati kantor ini.

Kau dipecat. Kau tak bekerja di sini lagi, dan tak akan pernah.

Apa katanya?

Oh, jadi sekarang kau berubah sikap?

Permintaan maafmu terlambat.

Aku tak akan kembali bekerja padamu, meski kau memohon sambil berlutut!

Semoga ini jadi pelajaran buatmu!

Kena juga dia, ya?

Sudah kubungkam dia, kan?

- Tak akan berani lagi membantahku. - Betul!

Kurasa sekarang dia tahu pendapatku soal pekerjaannya.

- Pasti tahu. - Keretaku sudah siap?

Kereta Paduka sudah menanti di luar, wahai Raja Agung.

Silakan memimpin, Paduka.

- Beri jalan untuk raja! - Beri jalan untuk raja!

Hidup sang raja!

Beri jalan untuk raja!

Philadelphia. New York. Semua naik!

- Bagus! - Hati-hati dengan barang bawaan sang raja.

Kereta perpisahan Paduka.

Minggir!

Silakan lebih nyaman dengan bantal empuk.

Bantal, Pak? Dua puluh lima sen.

Seribu mil perjalanan bukan jarak yang dekat.

Silakan lebih nyaman dengan bantal empuk.

Hei, Sopir!

Kalau koran-koran itu disingkirkan, aku bisa duduk.

Hei, tunggu dulu!

- Apa yang sedang kau lakukan? - Hah?

Koran-koran itu... Kenapa dilempar keluar?

Oh, koran itu? Ceritanya panjang, Kawan.

Aku memang tak suka duduk di atas koran.

Pernah sekali kulakukan, judul beritanya menempel di celana putihku.

Sungguh terjadi. Tak ada yang membeli koran hari itu.

Mereka malah mengikutiku keliling kota dan membaca berita dari belakang celanaku.

Sok lucu, ya? Yang kau butuhkan cuma bogem mentah.

Dengar, Sobat...

Mungkin kau tak suka hidungku, tapi aku suka.

Aku selalu membiarkannya terlihat...

jadi kalau ada yang mau memukulnya, silakan saja.

Oh, ya?

Jawaban yang cemerlang. Kenapa aku tak kepikiran?

Obrolan kita pasti sudah selesai dari tadi.

Oh, ya?

Kalau terus begitu, kita tak akan ke mana-mana.

Oh, ya?

Kau menang. Ya!

Permisi, Nona...

tapi kursi yang Anda duduki itu milik saya.

- Maaf? - Dengar.

Aku sudah bersusah payah mendapatkan kursi itu...

jadi kalau tak keberatan, minggir.

Pak Sopir, apakah kursi ini ada nomor?

Tidak. Siapa cepat dia dapat.

- Terima kasih. - Hei, Pak Sopir.

Kursi ini muat untuk dua orang, kan?

Bisa ya, bisa juga tidak.

Terima kasih.

Geser sedikit.

Yang ini ternyata muat dua orang.

Kalau kau memintanya dengan baik, mungkin kubantu taruh tasmu di atas.

Lain kali datang lagi, ajak sekalian keluargamu.

Kopi panas! Silakan!

Silakan mampir dan nikmati. Hot dog, silakan!

Perjalanan tak akan nikmat kalau perutmu kosong.

Tempat istirahat. Lima belas menit.

- Kita cuma berhenti 15 menit. - Kopi panas!

Di sebelah sana, Bos! Ya, Pak! Kopi panas! Hot dog!

Perjalanan tak akan nikmat kalau perutmu kosong.

Dia kabur.

Tahu-tahu aku sudah di semak-semak, dan bajingan itu lenyap.

Aku tak tahu apa yang sedang kau ocehkan, Anak Muda. Lagi pula aku tak tertarik.

Astaga...

Mungkin kau akan tertarik kalau tahu tasmu hilang.

- Ya Tuhan, benar-benar hilang! - Akhirnya kau sadar juga.

Astaga! Apa yang harus kulakukan sekarang?

Jangan bilang tiketmu ada di dalamnya.

Tidak, tiketku ada. Tapi uangku hilang. Sekarang aku cuma punya empat dolar.

Kau bisa minta dikirim uang setelah tiba di Jacksonville.

Tidak bisa... Ya, mungkin begitu.

- Akan kuberi tahu sopir soal tasmu. - Jangan! Terima kasih. Sebaiknya tidak usah.

Jangan bodoh. Perusahaan harus bertanggung jawab.

- Siapa namamu? - Aku tak mau dilaporkan.

Itu konyol. Perusahaan akan mengurus...

Apa kau mengerti bahasa Inggris?

Bisakah kau tidak ikut campur urusan pribadiku?

Aku ingin ditinggal sendiri.

Dasar anak tak tahu berterima kasih.

Naik!

Semua penumpang naik!

Naik!

- Mau minum? - Tidak, terima kasih.

Jacksonville. Tiga puluh menit untuk sarapan.

- Hanya 30 menit untuk sarapan. - Berita terbaru!

Hanya 30 menit. Tidak lebih.

Tiga puluh menit untuk sarapan. Hanya itu.

Berita terbaru!

Hanya 30 menit untuk sarapan.

Oh.

Maaf... Maaf sekali.

Memalukan, ya?

Lho, semua orang sudah pergi!

Oh. Terima kasih banyak.

Kita di Jacksonville, kan?

Ya.

Tadi aku ceroboh sekali.

Ke-kenapa kau tidak mendorongku saja?

Aku tak tega membangunkanmu.

Kau terlihat cukup cantik saat tidur.

Bagaimana kalau sarapan?

Oh, tidak. Terima kasih.

Aku akan pergi ke Hotel Windsor.

Windsor? Kau tak akan sempat. Bus berangkat setengah jam lagi.

Oh, tidak. Mereka akan menungguku.

Pak Sopir, saya akan terlambat beberapa menit.

- Tolong tunggu saya. - Oh, ya?

Ya.

- Bus ke New York di mana? - Sudah berangkat sekitar 20 menit lalu.

Itu tidak masuk akal.

Aku tadi ada di bus itu. Aku sudah bilang agar mereka menunggu.

Maaf, Nona, tapi busnya sudah pergi.

Selamat pagi.

Masih ingat saya? Orang yang Anda jadikan bantal semalam.

Seingatku aku sudah mengucapkan terima kasih.

- Bus berikutnya jam berapa? - Jam delapan malam.

Jam delapan ma... Itu masih 12 jam lagi!

More Indonesian subtitles for It Happened One Night

Komentáře

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left