Prvních 200 řádků.
Diterjemahkan oleh: Ketam Goreng
Kecuali aktivitas di loteng jerami,
peternakan itu cukup tenang pagi itu.
Kebisingan di lantai atas tidak mengganggu anjing-anjing yang tidur di lumbung.
Mereka bisa tidur dalam keadaan apa pun.
Namun, banyak hewan lain yang terbangun
karena suara langkah serabutan di atas kepala mereka.
Beberapa dari mereka hanya menerimanya.
Beberapa merasa cukup terganggu.
Dan beberapa diam-diam merencanakan balas dendam.
Tetapi suasananya sangat berbeda di loteng jerami.
Kucing peternakan itu
baru saja melahirkan anak-anak pertamanya.
Dia bertekad untuk menjadi ibu yang baik
dan tidak akan pernah membentak anak-anaknya.
Namun, pendekatan itu tidak akan bertahan lama,
karena Milo, salah satu anaknya,
adalah biang masalah sejak awal.
Segera setelah dia bisa berjalan,
dia mulai berkelana ke tepi loteng jerami.
"Milo, sayang," kata ibunya, "itu bukan ide yang bagus!"
"Kembali ke sini, Milo!" teriaknya.
Hewan pertama yang ditemui Milo di luar keluarganya adalah Otis,
salah satu anak anjing lumbung.
"Kau kucing yang tampak aneh," kata Milo.
"Oh, aku bukan kucing. Aku anjing," jawab Otis.
Milo mencoba memahaminya dan berkata,
"Oh, baiklah, anjing. Aku mengerti. Tapi, um,
sebenarnya jauh di lubuk hati, kita semua adalah kucing, kan?"
"Uh, tidak," gonggong Otis. "Tidak. Jauh di lubuk hati, aku adalah anjing.
Aku adalah anjing."
Meskipun begitu, seolah-olah mereka tahu betapa mereka akan saling membutuhkan,
Milo dan Otis menjadi sahabat baik.
Tak lama kemudian, itu menjadi awal dari hari besar bagi Milo.
Anak-anak kucing itu kini sudah cukup besar untuk meninggalkan loteng jerami
dan melihat dunia di luar lumbung.
Seperti biasa, Milo mendapat masalah.
Dia adalah yang pertama mulai berteriak meminta makanan.
"Milo, habiskan sarapanmu
atau anak anjing yang akan mengambilnya!" teriak ibunya.
Tampaknya bagi Milo, ibunya sering sekali berteriak.
"Milo, apa kau mendengarku?"
"Dan, Milo, sudah kukatakan berkali-kali,
tolong, jangan berjalan di atas ayam."
"Sekarang, dengarkan baik-baik," kata ibu Milo,
sekali lagi mencoba berbicara lembut.
"Ini adalah dermaga dan di bawah sana ada sungai.
Nah, kau tidak boleh, jangan pernah, terlalu dekat ke tepi dermaga.
Semuanya paham?"
"Apa itu 'terlalu dekat'?" tanya Milo. "Apakah segini? Apakah ini terlalu de—? Oh! Ah!"
"Milo, kembali ke sini!" tuntut ibunya.
Tapi Milo— Ah. Ooh. Dia hanyut terbawa arus sungai.
Dan ibunya harus mengejarnya.
"Kalian semua, mundur dari dermaga," perintahnya.
"Sekarang juga. Dan bersikaplah baik selama aku pergi. Milo! Milo, aku datang!"
"Oh, Milo!" kata ibunya.
"Lihat dirimu. Apa kau baik-baik saja?"
"Eh, ya," ngeong Milo.
"Apa kau pikir kau bisa mengikutiku berenang kembali ke tepian?"
"A-a-aku kurasa begitu," kata Milo.
"Baiklah, hati-hati," perintah ibunya,
dan mulai berenang.
"Baiklah."
"Baiklah. Aku tidak akan berteriak," kata ibunya.
"Aku hanya senang kau baik-baik saja.
Sekarang keringkan dirimu, seperti ini:
Dan ikuti aku pulang ke rumah."
"Tidak bisakah kita berenang kembali?" tanya Milo. "Tadi itu menyenangkan. Ha, ha."
"Milo! Ke sini!"
Bulan-bulan berlalu, dan peternakan itu berdengung
dengan suara musim panas.
Milo dan Otis tumbuh cukup besar untuk bermain di luar sendiri.
Milo memiliki beberapa tempat persembunyian baru yang tidak sabar untuk dicoba.
Otis mengendus-endus di sekitar halaman untuk sementara waktu.
"Kau ada di dalam pipa, Milo. Coba lagi."
"Bagaimana dia bisa tahu?" Milo bertanya-tanya.
Dan dia mencoba tempat lain.
"Oh, bukan trik 'kucing dalam sepatu' kuno itu," keluh Otis.
"Kucingnya ada di dalam kaleng!" teriak Otis.
Dan Milo menyelinap ke tempat persembunyian lainnya.
Tidak mudah menipu hidung anjing.
Otis segera mengikuti jejaknya
dan menemukannya lagi.
Milo mencoba tempat yang lebih sulit.
Tapi Otis menemukannya di sana juga.
Kini Milo butuh ide brilian.
"Aha." Dia memikirkan tempat di mana Otis tidak akan pernah bisa mengendusnya.
Berhasil.
Tapi Milo bertanya-tanya apakah itu benar-benar sepadan dengan usahanya.
Keesokan harinya, kandang ayam sedang gempar.
Milo dan Otis pergi untuk melihat ada keributan apa.
Tiba-tiba, suara satu ayam terdengar lantang:
"Oke, kalian semua! Bubar! Bubar!"
Dan semua ayam betina pergi dengan suara riuh
karena itu adalah Gloria yang berbicara,
seekor ayam muda yang telah mencakar dan mematuk jalannya
hingga menjadi pemimpin di kandang ayam itu.
Gloria punya alasan bagus untuk ingin menyendiri.
"Ini dia, teman-teman," kotek Gloria. "Telur pertamaku.
Awasi ya, Otis, selagi aku menyebarkan beritanya."
Otis menjalankan tugas menjaga telur itu dengan sangat serius.
"Apa kau dengar tentang Gloria?"
"Oh, soal telurnya? Jadi akhirnya terjadi juga."
"Apakah dia akan tinggal di rumah bersamanya atau dia akan kembali bekerja?"
"Ha-ha-ha. Kau ingin aku menendangnya kembali kepadamu, Otis?" tanya Milo.
"Sekarang, hentikan itu!" kata Otis. "Aku menendangnya secara tidak sengaja.
Kita tidak boleh mulai bermain-main dengan telur itu. Sekarang, biarkan saja."
"Dengar, ini tidak lucu," kata Otis. "Gloria memberi kita tugas."
"Berapa lama kita harus berada di kandang ayam ini?"
"Sampai Gloria kembali.
Mungkin kau tidak menyadarinya, Milo,
tapi ini adalah hari besar bagiku karena...
Yah, mungkin kau tidak menyadari bahwa hari ini aku resmi menjadi anjing penjaga."
Tentu saja, pemandangan seekor anjing dan seekor kucing menjaga sebutir telur
menarik perhatian para penonton...
dan pencari sensasi seperti biasanya
Beberapa suara aneh membuat Milo keluar dari kandang ayam.
Ada apa dengan semua ini?
D
DO
DON
DONA
DONAS
DONASI
DONASI P
DONASI PU
DONASI PUL
DONASI PULS
DONASI PULSA
0
08
083
0831
08315
083151
0831511
08315119
083151195
0831511954
08315119540
083151195401
083151195401 S
083151195401 SE
083151195401 SEI
083151195401 SEIK
083151195401 SEIKH
083151195401 SEIKHL
083151195401 SEIKHLA
083151195401 SEIKHLASNYA
"Hey, bisakah kau hentikan itu?" kata Milo.
Hey!
Tapi burung itu mengabaikannya saja.
"Hey!
Nyanyianmu jelek. Bisakah kau berhenti?
Halo, yang di dalam."
"Otis, Otis, Otis, Otis. Kemari, Otis," serak seekor katak.
"Ada apa?" kata Otis. "Aku seharusnya sedang menjaga telur."
"Otis, itu teman kucingmu. Dia membuat seluruh peternakan gila.
Lakukan sesuatu, dan cepat. Otis, ayo."
Katak itu benar.
Pada saat itu, Milo sedang menggoda seekor kepiting
yang sedang berjalan miring di halaman peternakan.
Tapi kali ini, ada yang mengungguli Milo.
"Dia layak mendapatkannya," serak si katak.
"Hey, dia temanku," kata Otis.
"Dia tetap layak mendapatkannya."
Masalah dalam menjaga telur adalah kau harus selalu waspada.
Dan di luar, Milo dan Otis tiba-tiba teringat:
"Ah!
Telurnya!"
"Diam di tempat!" gonggong Otis.
"Sentuh telur itu dan kau mati!
Aku serius, berengsek!" geram Otis.
"Coba saja lakukan sesuatu. Buatlah hari anjingku (menyenangkan)."
"Tenanglah. Aku tidak menyentuh
telur burukmu," gerutu landak itu.
"Mungkin juga sudah busuk."
Milo ingin melihat sekali lagi hewan aneh itu.
Kebisingan itu menarik sekelompok pengintip lokal
yang ingin mencari skandal.
Namun perhatian Milo terfokus ke tempat lain.
"Milo," kata Otis, "a-a-aku kurasa kita akan punya bayi."
Anak ayam itu mengeringkan dirinya sendiri, menatap Otis dan mencicit:
"Mama! Mama! Mama! Mama! Mama! Mama?"
"Oh, tidak, aku bukan mamamu," kata Otis. "Mamamu itu seekor ayam."
Hewan-hewan lain memberitahu Otis bahwa sebaiknya dia segera membawa anak ayam itu kepada Gloria,
yang kemudian dia lakukan. Namun anak ayam itu terus kembali mengikuti Otis.
"Mama."
"Mama, Mama, ha, ha, Mama, Mama."
"Sudah kubilang, aku bukan mamamu," kata Otis berulang kali.
"Sekarang kembalilah ke Gloria.
Kau mengerti? Kau itu ayam, bukan anjing. Ayam."
"Guk," cicit anak ayam itu. "Guk, guk, Mama."
Sekali lagi, mereka mencoba membuat anak ayam yang kebingungan itu
bergabung dengan ayam-ayam lainnya.
"Oke, kau mau jadi anjing?" gonggong Otis.
"Inilah yang harus kau lakukan. Kau harus menjadi anjing petarung yang kasar, tangguh,
dan galak, seperti ini."
Anak ayam itu sama sekali tidak menyukai suara gertakan itu.
"Oke, anak anjing," perintah Otis. "Sekarang giliranmu. Cobalah. Ayo coba."
No comments yet. Be the first to leave one.