প্রথম 200টি লাইন।
Jumlahnya $80.
Kecuali kau ingin gandakan.
- Mau menipuku, Kakek? - Kau yang tahu.
Kau tahu, Bapa?
Matthew? Kenapa kau di sini?
Kau tahu dia ibuku?
Ya.
Kau tahu.
Aku tak bisa memberitahumu.
Meski saat aku ingin.
Jangan sembunyi di balik tugas, Bapa.
- Tunggu, kau pastor? - Ambil uangmu dan pergilah.
Aku tak sembunyi, Matthew.
- Aku di sini. - Kau...
di antara semua orang...
Selama itu aku meminta bimbingan darimu.
Kau melihatku kesulitan,
dan kau justru merahasiakan satu hal yang bisa mengubah segalanya.
Kumohon, Bapa, bantu aku memahami kenapa kau melakukan itu.
Aku berdoa agar Maggie bisa memberitahumu sejak dahulu.
Dia bahkan tak bisa jalan sembilan blok untuk mengunjungiku saat kecil.
Atau menghiburku saat ayahku dibunuh dan kukira...
Aku tahu aku seorang diri di dunia ini.
- Kau tak pernah... - Aku sendiri!
Kau biarkan aku percaya itu.
Ya. Kami biarkan.
Kenapa?
- Apa kata Maggie? - Kau yang kutanya.
Maggie orang yang baik, Matthew.
Tak sempurna, seperti kita semua.
Tersiksa karena keputusannya.
Tetapi dia mengabdikan hidupnya untuk menebus kesalahan.
Kau belum jawab pertanyaannya.
Matthew, tumbuh tanpa orang tua,
kita tak melihat mereka sebagai orang.
Kau harus paham itu...
agar memahami dia.
Mari pergi. Ini ide bodoh.
Sudah pasti.
Kita sudah di sini. Mari tunggu saja.
Tiga pekan lagi, kita tak akan ke mana pun lagi.
- Benar. - Satu menit saja.
- Hei. - Aku?
Ya, kau. Bisa bantu aku?
- Aku tak bisa. - Ya, kau harus.
Ayolah, aku hanya butuh 60 detik untuk menghabisinya.
Maksimal tiga menit.
- Ini saat yang tepat untuk pergi. - Benar. Ayo.
Harus bagaimana?
Tak banyak.
Beri saja aku air, mungkin seka wajahku.
Ayo.
Maggie, kepatuhan, kemiskinan...
Kesucian.
Kau pernah lakukan ini? Punya saudara laki-laki?
Tidak. Juga belum pernah lihat pertandingan.
Astaga.
Lalu kenapa pilih aku?
Kupikir biarawati tak akan meracuniku.
Tak apa.
Masukkan saja pelindung gigiku di awal babak.
Mungkin berikan air juga di antara babak.
Katamu hanya butuh 60 detik.
Ya, itu rencana cadangan. Kita tak bisa duga.
Air.
Ayo. Waktuku cuma semenit.
- Bisa tangani itu? - Tangani itu?
- Ya. - Baiklah.
Maggie, ada apa denganmu?
Maggie?
Maggie.
Maggie.
Aku tak tahu seharusnya bagaimana.
Kurasa itu tak sepenuhnya benar.
Saat kudengar Maggie menyebutku putranya,
kupikir... pikiran pertamaku... adalah betapa bodohnya aku.
Bahwa itu di depan mataku selama ini.
Lalu kuingat bahwa itu telah ada di depan matamu lebih lama lagi.
Sejak awal.
Kita bicara banyak tentang kebenaran,
kau dan aku.
Tentang kebenaranku, kebenaran Tuhan.
Kini tampaknya semua perbincangan itu hanya kebohongan.
Seharusnya kau malu.
Kita tak bisa lakukan ini di kantor? Harus jauh kemari?
Setelah kujelaskan semua kepadamu dan AKB, kau akan paham.
Sebaiknya begitu.
- Maaf mengenai ini, Bos. - Silakan masuk.
Ibu?
- Kau letakkan di mana? - Tunggu sebentar.
Seolah kau paham.
Aku paham, Allison, tetapi tak peduli. Ayo.
- Pastikan Ayah tandatangani. - Aku tahu. Sampai jumpa.
Setidaknya dia bicara denganmu.
Putriku tak bisa jauh dari ponsel.
Itu bukan hal yang buruk.
Maaf, berantakan.
Kontraktorku seharusnya sudah selesai.
- Mau kopi apa? - Hitam saja, terima kasih.
Aku tak mau.
Terima kasih.
Wawancara dengan Agen Khusus Rahul Nadeem dan Agen Khusus Bertugas Tammy Hattley,
dilaksanakan oleh Agen Khusus Penyelia Winn,
Kantor Tanggung Jawab Profesional FBI.
Baik, Ray. Kau dapat perhatian kami.
Ada apa ini?
Tak ada cara baik menyampaikan ini.
Tetapi kurasa Wilson Fisk sedang melakukan persekongkolan kriminal
dan telah memanipulasi biro untuk tanpa sadar membantunya.
Aku juga menduga bahwa Fisk telah merusak seorang agen penjaganya.
Siapa?
Dex.
Maksudmu Agen Khusus Ben Poindexter?
Ya. Meski terdengar gila,
kurasa Poindexter mungkin adalah pelaku serangan di Bulletin.
Apa yang kau bicarakan? Kenapa pikir begitu?
Karena saat kuselidiki kecurigaan itu kemarin...
Dex menembakku.
Astaga.
Kantor Tanggung Jawab harus memulai penyelidikan internal terhadap Fisk,
terhadap Poindexter, semuanya.
Asal tahu saja,
ini tanggung jawabku.
Aku mengurus penjagaan Fisk.
AKB Hattley mengikuti peraturan, jangan salahkan dia.
Aku bertanggung jawab penuh.
Ray, maaf, kau harus jalani cuti administratif,
efektif saat ini.
Aku paham.
Aku akan bekerja sama sepenuhnya.
Jadi...
selanjutnya apa?
Pertama, panggil ambulans untukmu.
Tidak!
Ray! Letakkan senjata! Kumohon!
Sial, Ray. Kau bawa ini ke tempat tinggalku?
Rumahku?
Duduklah.
Duduk.
Sidik jarimu, senjatamu, rekaman itu.
Harus kujelaskan apa artinya?
Jawab pertanyaanku. Kini kau paham situasimu?
Ray?
Kau paham ini?
Ya, Bos.
Aku paham.
Atasanmu bukan aku lagi.
Atasanmu adalah Wilson Fisk.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Kau tak harus lari. Ada pilihan bersembunyi.
Aku tak yakin, Foggy. Setelah perkataanku kepada Fisk.
- Kau akan ke mana? - Entahlah.
Tetapi tak perlu bayar sewa seperti kita bayar sewa Matt.
Ayolah. Kau akan kembali.
Foggy, Fisk tak akan berhenti memburuku.
Jadi, jangan lari atau sembunyi. Ikuti caraku.
Buka diri di depan umum agar tak bisa dia sentuh.
Tak akan penting, Foggy.
Kampanye jaksa negeriku membuatnya tak menyorotku.
Tetapi kau tak mengaku membunuh sahabatnya.
Benar juga.
- Mungkin... - Dengar, Foggy. Aku akan lari.
Setelah kuberi tahu Matt aku mengkhianatinya.
Ayolah.
Kau tak mengkhianatinya.
Fisk tahu Matt itu Daredevil karena aku.
Dia tak bisa tahu pasti. Kau tak katakan apa pun.
Kau tak ada saat itu. Dia...
Caranya melihatku...
Dia tahu.
Tolong hancurkan ini?
- Tidak, Foggy... - Kumohon, ambillah.
Terima kasih.
Aku harus pergi.
Kita akan melalui ini.
Entah bagaimana, tetapi akan bisa.
Jaga dirimu, kumohon.
Perubahan bisa menakutkan, Marcus.
Meski perubahan yang baik.
Ini bukan yang baik.
Keluarga Dockery sangat baik,
kini kau jadi bagian dari mereka.
Tetapi kau selalu menjadi bagian dari keluarga kami juga.
Maggie.
Ada apa, Paul?
Matthew tahu.
DISEWAKAN SELURUH LANTAI
Kurasa kini kau tahu semuanya, Matty.
Semua yang perlu kutahu.
Itu tak mengubah apa pun.
- Ray? - Ya?
Ada tamu dari kantor.
Tanganku kurang besar.
Cukup besar. Lihatlah.
Jari seperti ini, dekat pada jahitan,
dan entakkan pergelangan saat melepas.
Itu membuatnya melengkung?
Sangat melengkung.
Itu dia. Selamat pagi, Ray.
Ayah, aku diajari cara lempar bola melengkung.
No comments yet. Be the first to leave one.