প্রথম 200টি লাইন।
DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH, MAHA PENYAYANG.
Semua berdiri.
Hormat!
Selamat tinggal, Guru.
Dah.
Pelan-pelan. Jangan cepat-cepat.
- Sampai jumpa, Pak Guru. - Sampai jumpa.
Hei, Orked.
Maukah kau menulis esai tentang liburan?
Tapi kau tak meminta murid lain, 'kan?
Aku tahu. Tapi aku suka membaca ceritamu.
Baiklah. Jika kau punya waktu.
- Dah. - Dah.
Tunggu aku!
Cepat, Bodoh!
Tadi aku melihatnya mengeluarkan cokelat di kelas!
Minta!
Hei!
- Kenapa kalian? - Kami minta.
Ibuku akan marah nanti!
Buka!
Hei!
- Hei! - Ambil!
Hei.
Hei!
Hei!
- Ini dia! - Hanya satu?
- Terima kasih! - Ayo pergi.
Duduk di belakang. Masuk ke dalam.
Masuk!
- Ayo, cepat. - Sabar!
- Kau mau? - Ambil!
Berhenti!
BUS SEKOLAH MAJULAH MALAYSIA
- Sayang? - Ada apa?
- Anak kita. - Kenapa dia?
Dia terpilih menjadi pustakawan.
- Itu bagus, bukan? - Kau tak mengerti.
Dia hanya akan membaca dan tidak bekerja.
Aku melihatnya membaca kalender pekan lalu.
Minta dia menjadi penjaga sekolah. Jika ada lowongan.
Mau aku pukul bokongmu dengan sandal?
Semua sudah siap?
Siap.
- Baik. Kita mulai. - Baik.
Kak Yam, cepat. Kami mau mulai.
Baik, siap.
Tiga… Empat…
Tunggu!
Apa ini?
Laguku!
- Lagu apa? - "Hujan."
Baik, siap.
Siap?
Baik.
Satu… dua… tiga… dan empat.
Mega mendung di angkasa
Hembusan angin dingin terasa
Gerimis berderai
Bagai mutiara dari surga
Rahmat dibawa bersama
Jiwanya meresap
Mereka mulai lagi.
Ada kala bahagia terasa
Meskipun duka nestapa
Ketika hujan turun
Sayu mendayu lagu keroncong
Merdu irama di alur
Kenapa mereka?
Mereka tak punya malu.
Melayu yang bersikap tak seperti Melayu.
Kenapa kau sibuk ikut campur?
Melahirkan keluhuran budi
Adanya perpaduan suci
Kasih sayang abadi
Hei! Tahan dia!
Hei!
Angkat!
Jaga dia!
Baiklah.
Panggil Orked kemari!
Cepat!
- Orked! - Orked!
Orked, ayo main pengantin!
Orked, cepat!
Orked!
- Ayu sudah menunggu! - Orked!
Orked, mainlah keluar bersama anak lain.
Aku bosan mendengar mereka memanggilmu.
Orked.
Tolong main di luar bersama anak-anak lain.
Mereka tak jahat.
- Orked. - Orked.
Ayah, bisakah bicara sebentar dengan anakmu.
Terima kasih.
Orked.
Orked.
Kalau kau main dengan anak lain, ayah janji…
Ayah akan mengajakmu menonton sepak bola.
Jangan pegang.
Biarkan saja.
Ke sini.
Ibuku selalu bertanya kenapa ibumu
selalu bicara bahasa Inggris.
Ayahku bilang, dia hanya pamer karena pernah belajar di Inggris!
Ibuku juga bilang, ibumu berpikir dia orang Inggris.
Ibumu sudah lupa asalnya dari Jawa.
- Berpikiran picik! - Apa?
- Tidak. - Hei.
Ibuku bilang ibumu tak bisa mengurus suaminya!
Kadang, dia melihat ayahmu menumbuk cabai di dapur.
Ayahmu dikendalikan ibumu, bukan?
Ayahku mencintai ibuku, karena itu dia membantu, Bodoh!
Apa?
Bicara dengan baik! Menurutmu aku tak mengerti arti kata "bodoh"?
Anak laki-laki main apa? Kalian perempuan membosankan.
Amira, gantikan dia. Cepat!
Orked mengadu! Aku tak tahan dengannya!
Nol.
Siapa dia?
Yang mana? Ada banyak anak laki-laki.
- Itu, yang tinggi. - Itu.
Namanya Mukhsin, keponakan Ibu Senah yang selalu menari.
Ibu Senah tak selalu menari.
Ibuku bilang dia dulu selalu keluar menari.
- Dia anak baru? - Ya.
Cepat.
Aduh.
Bagus.
- Hei! - Hei!
Kenapa kau?
- Kau sakit? Kau mau pulang? - Kenapa kau buat kesalahan?
Lihat? Jadi kacau.
Kenapa kau bermain kasar.
Kita tak punya cukup pemain!
Awas.
Mukhsin.
Itu!
- Apa? - Bagaimana dengan Orked?
Kita tak bisa mengajak anak perempuan!
Tak ada orang lain!
Dia hanya menyusahkan.
Dia bermain kasar!
- Mana yang bernama Orked? - Yang memakai peci.
- Dia bermain kasar? - Tarik aku.
Ayo pergi.
Kita lihat seberapa kasar jika aku lempar dengan ini.
Kau bilang dia bermain kasar?
Dia terkena lemparan dan sudah kesakitan!
Sialan.
- Aduh. - Hei.
Hei.
- Sudah kubilang. - Dia bermain kasar!
Diam!
Dia boleh ikut main.
- Orked. - Orked. Ayo.
Orked.
Orked.
Mukhsin di luar, memanggilmu.
Aku mau berangkat ke pasar. Kau mau ikut?
Mukhsin.
Boleh jalan-jalan sama aku?
Ayo.
Boleh?
- Sudah? - Ya.
- Aku mengayuh, kau yang menyetir. - Aku takut.
Tak apa-apa.
- Yakin? - Ya.
- Mau ke mana? - Inggris!
Apa?
Jauh sekali!
Menurut legenda, seorang perawan
dipaksa menikah
hilang pada hari pernikahannya saat mengambil wudu di Sungai Selangor.
Orangnya bermimpi anak mereka melarang mencari
karena dia sudah hidup dengan damai di sebuah pulau.
Orang tuanya hanya menemukan baju-bajunya yang digantung di pohon
dan makamnya didirikan di sana.
Pohon mana tempat bajunya tergantung?
Hmm.
Mungkin itu.
- Mana? - Itu.
Oh.
Menurutmu?
Itu.
Kenapa itu?
Aku akan menggantung bajuku di sana.
Hmm.
Menyenangkan menjadi motor.
- Berapa usiamu? - Dua belas.
- Kau? - Sepuluh.
Sepuluh tahun?
Kau seperti berumur 12.
- Hai, Sayang. - Sudah menunggu lama?
Aku baru datang.
Pakai helm.
Itu salah.
Maaf.
- Kau terlihat cantik hari ini. - Ini baju lamaku!
- Apa ini? - Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.