Spartacus: Gods of the Arena

Spartacus: Gods of the Arena

تنزيل الترجمة Indonesian

الموسم 1

معلومات الإصدار

Spartacus Gods of the Arena S01E04 2011 720p BluRay x264-mRS
تعليق من enjumpz
Resynced for BluRay dari terjemahannya IKANG. All Credits and Thanks to IKANG as Owner.

الوسوم

BluRay
x264
720p
720
نشرت في: 2013-04-14
تنزيلات: 142
ضعاف السمع: Yes

معاينة ترجمة Indonesian

أول 200 سطر.

SPARTACUS "PARA DEWA GELANGGANG"

"DI BALIK TOPENG"

Penterjemah : -- Ikang (KLEBENGAN) --

Resynced for BluRay by: enjumpz

- Tetap disitu. - Di belakang sini.

Tetap dibarisan.

Ibu, tolong!

Lewat sini

Jaring dan Trisula!

Dia lebih terlihat seperti nelayan daripada seorang gladiator.

Gaya itu disebut Retiarius, dibawa dari luar daerah.

Sebaiknya dikembalikan saja. Aku lebih suka yang bergaya Murmillo.

Penonton memilih yang sebaliknya.

Aah!

Kelak gaya Retiarius akan ada di setiap pertandingan.

Sayangnya Ludus kita tak memilikinya

Baiklah.

Gunakan jaring dan Trisula pada orang kita yang lemah.

Oh!

Sudah kubilang, kan? Dengarkan mereka!

Pasti akan jadi tontonan yang menarik.

Terutama jika menontonnya dari balkon utama.

Kita sebenarnya di undang. Dan ayah tolak?

Balkon utama terlalu jauh.

Aku senang menonton dari sini, bersama penduduk lain.

Dan putraku di sampingku.

Giliranmu sebentar lagi.

Pedang yang bagus.

Digenggam untuk tujuan yang mematikan.

Terjemahkan kalimatku, agar Dagan paham.

Kau telah menyandang "tanda" persaudaran.

Kehormatan yang telah kau terima.

Ujianmu yang sesungguhnya menunggumu.

Jika hidup... Kau akan tetap bersama kita.

Kalau mati, Itu bukti kau memang tak layak seperti dugaanku.

Jika mati, si berengsek ini akan merayakan perpisahan kita.

Dia akan merayakannya dengan kemaluanku di mulutnya.

Dagan bilang akan memberikan kehormatan kepada Kediaman Batiatus dengan darah.

Begitu juga dengan Ashur yang hebat.

Jangan mati terlalu cepat.

Ayo Ashur!

Ayo!

Hebat!

Ayo!

Tidak!

Hebat!!

Jangan ada belas kasih

Yes!

Hasdrubal kalah!

Dan semua yang melawan Ashur!

Dia sudah merasa paling hebat. Di sedang terbawa suasana.

Waktu akan membuktikan.

Semoga berikutnya bisa lebih baik lagi.

Ayah mengharap sesuatu yang sulit terwujud.

Kini pertarungan kecilnya telah selesai.

Mari beralih ke yang lebih besar.

Vettius, buka acaranya.

Hari ini aku akan mempersembahkan orang baruku pada rakyat Capua!

Persembahan terakhirku.

Yang pasti akan membakar gairah!

Dan melahirkan ketakutan pada lawannya!

Datang dari kawasan tergelap di sisi timur sungai...

Sambutlah, Caburus!

Penonton menyambut baik persembahan Vettius.

Mereka menyoraki Gannicus lebih ramai. Tapi sayangnya tak bisa ikut.

Dan lawannya! Thraex!

Crixus memang menjanjikan, tapi nasibnya akan sama saja.

Orang kita menang, tapi tetap dikeluarkan.

Buah yang kau dapat karena menghina orang yang lebih tinggi.

Mulai!

Aku hanya ingin mempertahankan tempat kita. Tugas seorang Lanista.

Tapi ambisimu terlalu jauh mengawang-awang.

Kita harus merendah jika ingin memperbaiki hubungan...

dengan Tullius. Dan orang kita kembali lagi ke gelanggang.

Semoga secepatnya. Kalau ingin orang kita

ikut di pembukaan gelanggang baru.

Harapan setinggi itu yang membuatmu jauh dari keberuntungan.

Buang jauh-jauh pikiran itu

Dan fokuskan pikiranmu untuk tujuan yang lebih masuk akal.

Caburus! Caburus!

Mungkin mencari orang yang sebaik Caburus.

Melewatkan kesempatan menikmati gelanggang lama

dan di sinilah kita. Itu hal yang biasa.

Aku anggap ini berkah.

Terhindar dari kehadiran orang yang terkutuk.

Jika melihat cara Titus menatap, kita beruntung tak terbakar sekalian.

Dia hanya orang tua yang sedang menunggu ajalnya.

Dia adalah Gorgon (Monster wanita berkepala Ular) berkelamin pria dan mengutuk sekelilingnya menjadi batu.

Titus tak begitu tahan dengan debu dan panas.

Kesehatannya akan memaksanya segera kembali ke daerah pantai Sicilia.

Menunggu sampai hal itu terjadi, aku harus keluar dari rumahnya yang menyesakkan itu.

Kau ingin meninggalkan aku?

Kau bersama seorang suami.

Orang yang takkan membiarkanmu terluka oleh cambukan atau keadaan.

Aku berdiri sendiri,

tak memiliki perlindungan seperti itu.

Kondisi penuh risiko yang harus kuhadapi.

Kau takkan pernah sendirian selama aku masih bernafas.

Kalimat yang sangat melegakan.

Apalagi seorang suami yang berkantong tebal.

Kalau begitu kita harus mencarikan satu untukmu.

Hal yang hadir dengan sendirinya dalam bentuk yang menyenangkan.

Kau mengenalnya?

Aku pernah melihatnya di sekitar Roma. Tanpa didampingi seorang istri.

Sayang sekali kita bertemu dengannya, di saat dan di tempat seperti ini.

Di saat genting seperti ini, keberuntungan akan jatuh pada tangan yang tepat.

Petronius.

Apa dewa sedang memberkatiku?

Gaia. Kita pernah berkenalan di sebuah acaranya Varus.

Oh ya.

Ya, ya tentu saja. Maaf. Tak perlu.

Perjumpaan tak di duga ini sungguh menyenangkan hati.

Oh.

Lucretia bisa... Kau Lucretia?

Istri sang Lanista Batiatus?

Ya dia suamiku.

Aku pernah mendengar tentang kediamanmu.

Dan sesuatu tentang kesenangan di dalamnya.

Barca kehilangan semangatnya sejak Auctus tewas.

Dia pasti bisa menemukan pasangan lagi.

Kami kembali setelah diurapi dengan darah..

dari para musuh!

Hasdrubal dan Kleitos telah menemui ajalnya!

Mereka adalah korban awal kami!

Sebaiknya kalian segera mandi.

Penjilat berengsek.

Gannicus. Tandem dengan Rhaskos.

Untuk apa?

Aku takkan bertarung di gelanggang, Aku akan tetap dibalik ini terus.

Doctore.

Bawa dia ke atas. Aku akan bicara padanya.

Magnetius.

Salah satu juara terbaik yang pernah lahir dari tempat ini.

Dia berdiri seperti seorang Titan.

Begitu juga semua juaraku.

Hasil dari latihan bertahun-tahun.

Dedikasi, pengorbanan.

Kau ingin seperti dia?

Di dalam gelanggang, semuanya sama..

Hmm.

Juara itu lebih dari sekedar menang di arena.

Dia adalah kumpulan dari semua tindakannya.

Setiap keputusan, seberapapun kecilnya yang dia keluarkan

Dan keseimbangan hatinya.

Di dalam dadanya terdapat hati seekor singa.

Dan untuk apa dia berdetak?

Kediaman Batiatus.

Kembalikan dia ke Ludus.

Ayah lihat? Seorang pria yang bertarung demi kehormatan tempat ini.

Seperti halnya para juara ayah di masa lalu.

Kalimat yang dia ucapkan semata ingin menyenangkan aku.

Dia bukan juara tempat ini.

Aku berusaha menarik perhatian Petronius semampuku...

Tapi dia malah mengoceh tentang rumahmu.

Aku khawatir pesona kelembutanku mulai hilang.

Pesonamu itu banyak. "Kelembutan" bukan salah satunya.

Kau terdengar sedang kesal.

Kalau berita tentang itu sudah sampai ke telinga Petronius..

Berapa lama lagi akan sampai ke telinga Titus?

Mungkin sebaiknya memang begitu.

Keterkejutannya bisa mengakhiri hidup si bandot tua itu.

Kau masih bercanda, sementara sekeliling kita hampir runtuh.

Satu-satunya penghalang kau dan Quintus masuk ke kasta yang lebih elit.

Seperti pelacur yang berharap dicintai oleh pelanggannya.

Tidak semua orang Roma akan mengetahuinya.

Hanya orang-orang tertentu

yang memang menyukai hal seperti itu.

Memancing hasrat Petronius dan teman-temannya untuk menyaksikannya sendiri.

Memikirkannya saja sudah sangat tak bijak.

Kalau Titus sampai tahu...

Kesenangan apa yang tak boleh di ketahui ayahku?

Bukan hal yang penting...

Kami bertemu dengan Petronius di pasar.

Kau pernah mendengar nama itu?

Seperti halnya semua orang yang menjalankan bisnis.

Dia juga mengenal namamu. Dan sepertinya sangat tertarik

dengan tawaranmu yang eksotis itu.

Ditemani dengan orang-orang yang sederajat dengannya.

Bagaimana bisa Petronius mengetahuinya?

Varus danCossutius.

Mulut mereka lebih payah daripada kemaluannya.

Petronius kembali ke Roma besok lusa.

Keputusan harus segera dibuat sebelum kesempatannya hilang.

Dengan dukungan Petronius, mungkin kita bisa mendapatkan tempat

di pembukaan gelanggang baru.

Quintus, ayahmu... Atur semua.

Aku akan menemui ayahku.

Melitta. Aku mau bicara.

Aku tak punya waktu.

Ini sangat penting.

Sebentar saja.

Kau menghindari tatapanku.

Kau seharusnya juga demikian. Agar tak ada kecurigaan.

Bagaimana tak ada kecurigaaan

kalau dua orang teman tak saling bicara lagi?

Apa yang pernah terjadi diantara kita...

Bukan kehendak kita.

Harus kita lupakan dan jangan pernah membicarakannya lagi.

Mulutku bisa saja melakukan itu.

Tapi pikiranku padamu....

More Indonesian subtitles for Spartacus: Gods of the Arena

التعليقات

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left