أول 200 سطر.
Di mana bola golf-ku?
Ada yang lihat krim anti-matahariku?
Untuk apa pergi ke Florida jika pakai krim antimatahari?
Aku tak peduli jika terlihat seperti koper tua. Aku mau berjemur.
Bagus. Sekarang kau bisa jadi karung dengan kulit lebih gelap.
Dia hanya cemburu karena kulitnya tak bisa coklat.
Bintik di wajahnya tak akan tertutupi.
Jangan terlalu banyak minum. Perutmu sudah penuh.
Dia pilih kotak "Ding". Di baliknya ada nilai 200 poin.
- Sekarang kau mendapat nilai 4.700 poin. - 200 poin. Bagus.
Kau jadi pemenang hari ini.
- Sayang, kau sudah berkemas? - Ya.
Semua yang kuberikan kepadamu?
Ya.
Sudah lihat apa yang Nenek Penelope kirimkan untuk perjalananmu?
- Biar kutebak. Sandal Donald bebek? - Hampir benar.
Badut tiup untuk dimainkan di kolam renang.
Menarik sekali.
Kenapa kita harus pergi ke Florida? Tak ada pohon Natal di sana.
Kevin, ada apa denganmu dan pohon Natal?
Bagaimana bisa rayakan Natal tanpa pohon Natal, Ibu?
Temukan pohon Natal palsu warna perak. Atau dekorasi pohon palem.
Tamu "Selebriti Ding Dang Dong" menginap di Hotel Plaza.
Pengalaman menginap di hotel New York yang paling menyenangkan.
Untuk reservasi, hubungi nomor bebas biaya 1800-759-3000.
- Di mana baterai untuk kamera? - Kutaruh di pengisi baterainya.
- Bagaimana penampilanku? - Lebih baik.
Kevin sebaiknya kenakan dasimu. Kita tak mau terlambat acara Natal.
Dasiku di kamar mandi.
Aku tak bisa masuk karena Paman Frank mandi.
Katanya jika aku masuk dan melihatnya telanjang...
aku tak akan tumbuh dewasa merasa seperti pria sejati.
Apa pun artinya itu.
Ayah yakin dia hanya bergurau. Masuklah, ambil dasimu.
Keluar dan jangan lihat apa pun.
Keluar, anak nakal, atau kupukul kau!
KONTES NATAL
Pohon Natal
Pohon Natalku
Bersinar bagai bintang
Saat kulihat pohon Natalku
Mungkinkah yang terkasih berada jauh?
Pohon Natal, aku yakin
Ke mana pun aku pergi
Kevin akan menyanyi solo. Beri tahu Leslie.
Kevin akan menyanyi solo. Beri tahu Frank.
Saat Natal berarti tawa ceria
Mengumpulkan salju
Bernyanyi bersama
Dengan wajah bersinar
Kaus kaki tergantung di atas tungku
Hiasan natal di pintu
Dan Natal penuh suka citaku
Berarti satu lagi
Pohon Natal Pohon Natalku
Bersinar bagai...
Kevin!
Tuan dan Nyonya anggota juri.
Aku meminta maaf kepada keluargaku.
Atas segala perbuatan buruk yang kulakukan.
Apa?
Leluconku tidak dewasa dan tidak tepat.
Entah benar atau tidak, itu cukup lucu.
Aku juga mau meminta maaf kepada adikku.
Kevin, maafkan aku.
Buzz,
kau baik sekali.
Kau mau mengatakan sesuatu?
Kalahkan itu, tukang onar.
Aku tak menyesal. Kulakukan itu karena Buzz mempermalukanku.
Karena dia tak pernah disalahkan, kubalas saja.
Karena kalian sangat bodoh untuk percaya kebohongannya.
Aku tak peduli jika perjalanan kalian ke Florida kacau atau tidak.
Lagi pula, siapa yang mau rayakan Natal di daerah tropis?
Jika pergi dari sini, kau tidur di lantai tiga.
- Denganku. - Apalagi yang baru?
Jangan sampai kau kacaukan perjalananku.
Ayahmu sudah keluarkan banyak uang.
Tak akan kukacaukan kesenanganmu, Tuan Murahan.
Pemuda yang bermasalah.
Mereka semua menyebalkan.
Tahun lalu, masalah perjalanan kita berawal dari hal seperti ini.
- Ya, karena aku disalahkan. - Ibu tak peduli pada pilihan katamu.
Bukan Itu yang terjadi tahun lalu dan tahun ini. Buzz sudah minta maaf.
Lalu dia bilang aku tukang onar.
Dia tak sungguh-sungguh minta maaf. Dia hanya menjilat ibu.
Duduklah sebentar di sini dan pikirkanlah masalahnya.
Setelah siap minta maaf pada Buzz dan seluruh keluarga, turunlah.
Aku tak mau minta maaf kepada Buzz.
- Lebih baik kucium dudukan toilet. - Maka kau tinggal di sini semalaman.
Baik. Aku pun tak mau turun.
Aku tak percaya siapa pun di keluarga ini.
Ibu tahu? Jika aku punya uang, aku pergi berlibur. Sendirian.
Tanpa kalian. Dan aku akan bersenang-senang.
- Tahun lalu terkabul. Mungkin kini juga. - Kuharap begitu.
BANDIT BASAH LARIKAN DIRI SAAT KERUSUHAN PENJARA
Kita melakukannya lagi!
Keluarga McCallister kami di van pertama, yang lain di van kedua.
Seharusnya aku tak mengeluh soal perjalanan gratis.
Tetapi kalian tak bisa bangun pagi.
Frank, kau pegang tiket?
Ya, ini tiket keluargamu dan ini untuk keluargaku.
Berapa tiket yang kau pegang?
- Tujuh. - Kami punya tujuh. Empat belas.
7, 8, 9, 10.
Kenapa kita tak duduk bersama?
Di musim liburan ini kita beruntung terbang di pesawat yang sama. 11, 12, 13.
- Di mana Kevin? - 14.
Untung aku pegang tiket sendiri. Jika saja kalian mau menyingkirkanku.
- Ayo, Kevin. - Ayah, aku butuh baterai.
Baterai di tasku. Akan kuberikan di pesawat.
- Ini dua lagi. - Kenapa tak bisa kuambil sekarang?
Jangan sekarang.
- Pintu nomor berapa? - H-17, Pak.
Terima kasih.
Cepat sedikit. Itu pintu terakhir. Ujung lorong.
Pintu nomor berapa?
Nomor H-17, Buzz. Ayo. Kevin, kau mau bawa tas ayah?
Awas, awas!
Panggilan terakhir American Airlines nomor penerbangan 226 ke New York.
Ayo!
Ayah, tunggu!
Ayah, tunggu!
Tunggu!
Tunggu!
Ayo, ayo!
Ayah, tunggu!
Pintunya di sini.
Semua di sini? Kita berhasil? Bagus.
Kumohon, Bu, naiklah, pesawat akan berangkat.
Biar kupastikan semua sudah naik.
Jangan khawatir, kami pastikan semua naik.
Selamat Natal. Semoga perjalananmu menyenangkan. Sampai jumpa.
Selamat Natal.
Tunggu aku!
Semuanya, tunggu aku!
- Pesawat hampir berangkat. - Maaf.
- Selamat Natal. - Selamat Natal.
Ayah, tunggu! Tunggu!
- Maaf. - Tak apa.
- Kau naik pesawat ini? - Ya, begitu pula keluargaku.
Mereka ada di pesawat dan aku tak mau tertinggal.
- Ada tiketnya? - Di sini.
Harus ditutup. Pesawat berangkat.
- Dia jatuhkan tiketnya. - Pesawat tak bisa berangkat.
Ini terjadi tahun lalu dan aku hampir kacaukan Natalku.
- Yakin keluargamu di pesawat ini? - Ayahku kemari sebelum kutabrak dia.
Naikkan dia. Temukan keluarganya sebelum kau tinggalkan dia.
Baiklah, ayo.
- Kau lihat keluargamu? - Ayahku di sana.
- Cari kursi kosong. Selamat Natal. - Kau juga.
Agar pesawat bisa lepas landas, harap duduk dan pakai sabuk pengaman.
Kau pernah ke Florida?
Selamat datang di American Airlines penerbangan 176 langsung ke New York.
Kupikir kita tak akan berhasil.
Ada masalah, Sayang?
Aku dapat perasaan itu.
Kita lupa sesuatu?
Kurasa tidak, tetapi...
- Aku hanya dapat perasaan itu. - Hanya kenangan buruk.
Kita sudah lakukan dan bawa semua. Semua orang sudah di sini.
Jangan khawatir.
- Ya, kau benar. Kita baik-baik saja. - Jangan khawatir.
Ibu? Ayah?
Paman Frank? Buzz?
- Kami yang terakhir turun. - Baiklah.
Di mana mereka?
- Tas siapa ini? - Milik Brooke.
Ini milik Megan? Berikan kepada Brooke.
- Ini milik Kevin, berikan kepadanya. - Berikan tas ini kepada Kevin.
- Berikan ini kepada Kevin. - Berikan ini kepada Kevin.
- Berikan ini kepada Kevin. - Berikan ini kepada Kevin.
- Berikan ini kepada Kevin. - Berikan ini kepada Kevin.
Ini, Kevin.
- Kevin tak di sini. - Kevin tak di sini.
- Kevin tak di sini. - Kevin tak di sini.
- Kevin tak di sini. - Kevin tak di sini.
Kevin tak di sini.
Apa?
Kevin!
Permisi, ini darurat.
- Ya, Tuan? - Kota apa di luar sana?
Itu kota New York, Tuan.
Astaga, aku melakukannya lagi!
Ada masalah, Tuan?
Aku akan baik-baik saja.
Oh, tidak. Keluargaku di Florida sedangkan aku di New York.
Keluargaku di Florida...
sedangkan aku di New York?
Dah!
KEAMANAN BANDARA
Siapa nama anak itu?
Kevin. K-E-V-I-N.
- Kapan terakhir kali kau lihat? - Di pintu masuk pesawat?
Tidak, aku melihatnya di pintu. Dia bersama kami di terminal bandara.
Banyak orang terpisah di bagian pemeriksaan.
- Apa semua melewatinya? - Aku tak tahu. Peter?
Kami buru-buru.
- Kami harus lari ke pintu masuk. - Kapan kalian sadar dia hilang?
Saat kami ambil tas di sini.
No comments yet. Be the first to leave one.