أول 147 سطر.
Dahulu kala, dikatakan, ada monster datang ke sini.
Rusa ekor putih.
Sarii.
Aku ingat saat Ayah bilang bahwa aku siap untuk kühtaamia.
Perburuan besarku.
Kau masih kecil. Jadi, Ibu mengajakmu memetik obat.
Tapi Ayah dan aku, menaiki bukit itu.
Hujannya amat deras. Semuanya basah.
Kami merayap melalui lumpur, lalu tali busurku rusak dan...
Kau tertidur.
Aku menunggu burung itu berputar kembali.
Kini kau harus seberangi sungai untuk ambil.
Jangan sampai tali busurmu basah.
Taabe,
pagi ini di langit,
aku melihat pertanda. Burung petir.
Aku sudah berlatih.
Ini saatnya. Aku siap untuk kühtaamia -ku.
Kau sungguh berpikir sudah siap?
Kau mau memburu sesuatu yang memburumu?
- Kau melatihnya dengan baik. - Itu mudah. Dia pintar.
Tak semua makhluk pintar mudah dilatih.
Itu untuk lutut Ketua Perang yang sakit?
Dia makin parah.
Ibu tak memakai totsiyaa jingga.
Siapa yang mengajarimu soal totsiyaa jingga?
Ibu.
Ayahmu mewariskan itu kepadamu untuk memotong breadroot.
Aku hampir dapat rusa dengan ini.
Ya. Kita tak bisa makan "hampir".
Putriku, kau pandai dalam banyak hal lain.
Kenapa kau mau berburu?
Karena kalian berpikir aku tak bisa.
Dengan angin seperti ini, dia membawa pulang elang ekor merah.
Kau seharusnya mendengarkan ceritaku.
Aku tak tahu kita sempat tidur siang.
Itu sudah cukup tajam
Ambilkan totsiyaa jingga untuk kita.
Itsee.
Seekor singa membawa Puhi. Kita harus temukan dia.
Kau bisa terpanah bila mengendap begitu.
Siapa yang mengendap?
Siapa yang mengundangmu?
Kami tak pergi selama itu sampai butuh koki.
Dia harus ikut.
Dia pandai melacak.
Dan jika kita temukan Puhi hidup-hidup, dia tahu obat-obatan.
Kau harus temukan kucing itu.
- Tentu. - Aku tahu.
Karena itu harus.
Bagus. Si anjing menemukan kotoran.
- Kita bukan mencari serigala. - Itu bukan serigala.
Lihat tulang remuk itu?
Itu kotoran singa.
Dan singanya besar.
Dia masih bernapas.
Terlalu banyak bisa membunuhnya.
Ini tak akan membunuhnya. Hanya mendinginkan darahnya.
Taabe ingin tetap tinggal dan berburu. Ayo.
- Aku ikut denganmu. - Aku bisa tangani singa itu.
Bukan, ini bukan cuma singa itu.
Kenapa Puhi masih hidup? Ada yang membuat singa itu lari dari sarangnya.
Aku bisa tangani ini.
Tetaplah bersama Puhi. Dia juga butuh bantuanmu.
Tak ada waktu untuk bicara. Kita harus bawa dia pulang.
Dinginnya bagus.
Obat perlambat darahnya. Jika hangat, bisa kehabisan darah.
Hei.
Kau ingin dia merasa nyaman atau hidup?
Kita tak punya waktu untuk menunggumu.
- Lihat. - Bisa jadi jejak beruang.
Mungkin.
Tapi itu beruang yang besar.
Kenapa ia pakai kaki belakang? Dan apa yang menguliti ular begitu?
- Kita harus jalan terus. - Tidak.
Aku harus peringatkan kakakku.
Paaka, pergi dengannya.
Naru, kita tak perlu obornya. Itu bisa menakuti kucingnya.
Kita sedang di tanah perburuannya.
Kenapa kau kembali?
Aku menemukan jejak yang besar.
Aku tak takut dengan beruang.
Kurasa itu bukan beruang.
Aku tak tahu itu apa. Tak pernah kulihat yang seperti itu.
Makhluk itu menguliti dan membantai seekor ular.
Apa pun itu, sekarang kita di sarang kucing itu.
Kita harus menangani itu dulu.
Ayo.
Singa itu tak akan berpikir kita memburunya di sini.
Ia akan berpikir sedang memburu kita.
Kita letakkan umpan, lalu memanjat dan menunggunya.
Pemburu tidak menunggu. Dia berburu. Kita bisa di sini sepanjang malam.
Kita juga bisa keliling hutan sepanjang malam dan tak temukan apa pun.
Jika terlalu takut berburu, kembalilah ke tempatmu di kamp.
Kita akan coba cara Naru.
Kita akan pancing, lalu akan kubawa kucing itu ke tempatmu.
Tunggu.
Ini saatnya, Naru.
Kühtaamia -mu
Saat singa itu datang, kau bilang kepada makhluk itu,
"Sampai sini saja perjalananmu.
Selesai. Ini akhirnya."
Tak penting setajam apa pisaumu jika kau takut memakainya.
Menurutmu kau sudah siap?
Kau tak pernah menghadapi singa.
Mulutnya dipenuhi gigi seperti mata panah,
siap mencabik dagingmu dan meremukkan tulangmu.
Saat kakakmu kembali, aku dan dia akan temukan singa itu dan membunuhnya.
Kakakmu menggendongmu pulang.
Bagaimana dengan singanya?
- Taabe mengejarnya. - Baiklah.
Aku harus menemukannya.
Tidak, kau harus istirahat.
Minumlah teh ini.
Puhi selamat karena obatmu.
Ada sesuatu yang lain di luar sana. Taabe butuh bantuanku.
Jika kakakmu butuh bantuanmu, dia tak akan membawamu pulang.
Kau pikir alasan untuk kühtaamia adalah membuktikan kau bisa berburu,
tapi hanya ada satu alasannya.
Untuk bertahan hidup.
- Naru. - Ketua Perang.
Naru.
Kau mau ke mana?
Kita berhasil.
Tidak.
Kita belum berhasil.
Menurutmu apa yang tinggalkan jejak itu dan menguliti ular itu?
Dan sebelum aku jatuh,
- kulihat kilatan di pepohonan. - Naru.
- Ada makhluk lain di sana. - Jika ada, aku akan membunuhnya.
Kita harus keluar lagi.
- Jauh melewati punggung bukit. - Tidak.
- Aku berburu sendiri jika perlu. - Tak bisa.
- Apa aku perlu izinmu, Ketua Perang? - Ini bukan soal izin.
Kau tak bisa.
Aku harus menggendongmu pulang.
Aku bisa berburu.
Kau benar.
Bukan kita yang berhasil.
Tapi aku.
Kau sudah berusaha. Kau cuma...
Kau tak bisa menyelesaikannya.
Jika mereka tak lihat,
tunjukkan kepada mereka.
Lain kali, kau yang masak.
Kita harus temukan yang meninggalkan jejak itu.
Sarii?
No comments yet. Be the first to leave one.