أول 200 سطر.
Suriah, 2010
- Tetap kuat, kawan! - Diam!
Gila, habibi!
Terinspirasi dari kisah nyata
cepat bergerak!
Diam! Hei, diamlah!
Kemari.
Duduk.
Siapa namamu?
Giwar Hajabi.
Giwar Hajabi. Apa kau orang Kurdi?
Kemari. Datang dan duduklah bersama kami.
- Hai. - Apa kau dari Diyarbakir? - Apa kau bicara Kurmanji? - Sorani.
Selamat datang.
Mengapa kau ada di sini?
Di mana toiletnya?
Kami buang air sekali sehari di halaman.
Ingatan pertamaku
adalah ingatan tentang penjara.
Giwar Hajabi?
Kemari!
Kemari! Cepat bergerak!
Ayo.
Selamat datang.
Salam.
Ambilkan dua teh.
Apa ayahmu masih menciptakan lagu?
Jangan takut, aku juga orang Kurdi.
Kami semua sangat mengaguminya.
Dia pria yang hebat.
Karena kami sangat menghormati ayahmu dan kita sama-sama Kurdi, aku beri penawaran:
Kami akan menyediakan kau dan temanmu
paspor baru.
Kami akan memusnahkan paspor Jermanmu dan beri kau paspor diplomatik Suriah.
Dengan nama baru. Interpol takkan pernah menemukanmu.
Kau hanya perlu beri tahu satu hal:
Di mana emasnya?
Emas?
Emas apa?
Jika kau tak mau beri tahu di mana emas itu,
kami anggap kau menggunakannya untuk mendukung Al-Qaeda.
Jika begitu, kewarganegaraan Jermanmu takkan melindungimu.
Hanya emas ini yang kupunya.
Panggil Walid.
Tambah teh?
Cola?
Ayahku komposer ternama di kalangan orang Kurdi,
jiwa bebas yang menghabiskan hari dan malam berkarya.
Ibuku berasal dari keluarga Kurdi terpandang di Teheran.
Keluarganya menentang ayahku:
Musisi bermain di pesta nikah dan rumah bordil serta mengisap opium.
Namun ibuku memilih jalannya sendiri.
Tempat ini tak bertuhan! Kami tak menoleransi kesenangan keji!
Pulanglah! Baca Al-Qur'an!
Kau pulang dan berdoalah!
Khomeini telah mengeluarkan fatwa terhadap kami orang Kurdi.
Namun di utara, Kurdi komunis mendirikan daerah kantong.
Bagi orang tuaku tak ada pilihan lain: Mereka menjadi pejuang kemerdekaan.
Mereka hanya ingin bertahan hidup.
Jangan ada yang bilang Kurdi sudah mati,
jangan ada yang bilang Kurdi sudah mati, kami masih hidup.
Kami hidup dan takkan pernah menurunkan bendera.
Kami hidup dan takkan pernah menurunkan bendera.
Awas!
Berlindung!
Tuan Eghbal! Tuan Eghbal, kembalilah!
Kembalilah!
Ambil senapan Kalashnikov-mu!
Pergi, pergi, pergi!
Semuanya keluar! Keluar! Keluar!
Keluar! Keluar!
Keluar!
Aku berhasil menangkapmu!
Semuanya baik-baik saja!
Putriku! Putriku!
- Ini, ambil dia! Dia masih hidup! - Berkatilah kau!
Saudari, ke mana kau akan pergi?
Ada orang di sana?
Giwar adalah namamu: "Lahir dari penderitaan."
Orang tuaku melihat masa depan lebih baik di Eropa.
Di tengah perang Iran-Irak, mereka berangkat ke Baghdad.
Mereka berharap bisa lanjut bepergian.
Dokumen!
Kalian orang Iran.
Kami melarikan diri dari Khomeini.
Bagaimana jika kalian mata-mata Khomeini? Pergi!
Ikut aku.
Setelah beberapa minggu di penjara Samawah, mereka berhenti menyiksa ayahku.
Mereka tahu dia musisi dan dia dimasukkan ke daftar tahanan penting.
Eghbal Hajabi.
Daftar ini diteruskan ke Palang Merah di Prancis.
Dan mereka lalu mencoba mengeluarkan para tahanan.
Tuan Eghbal!
Kami menghormatimu! Kau membawa cahaya dalam kegelapan!
Kami akan ke Baghdad, Palang Merah akan mengurus kalian di sana.
Apa mereka akan membawa kami ke Eropa?
Mereka akan melakukan segalanya.
Tapi mungkin butuh waktu.
Butuh beberapa tahun bagi mereka untuk membawa kami ke Paris.
Di sana, kami diundang ke rumah orang Kurdi kaya di lingkaran elite.
Hati-hati kotoran anjing!
- Di mana tempatnya? - Tanyakan jalan pada seseorang.
Permisi, di mana...?
Tak heran: Aku terlihat seperti Charlie Chaplin.
Mengadulah ke Palang Merah.
- Terima kasih banyak! - Halo. Apa kau baik?
- Halo. - Hai. - Hai.
- Selamat datang, silakan masuk. - Hai. - Hai.
Aku punya kejutan untukmu.
Temanku Harun Shikak, duta besar Irak di Bonn,
datang untuk menemuimu.
- Suatu kehormatan bertemu dengan Anda. - Kehormatan bagi saya.
Senang bertemu denganmu.
- Hai, namaku Miran. - Namaku Giwar.
- Mengapa kau tak makan, Miran? - Aku tak lapar.
Makanlah agar kau bisa jadi syekh.
Kau benar-benar makan banyak.
Aku ingin jadi syekh suatu hari nanti.
Anak pintar, Miran! Bagus!
Di mana kalian tinggal di sini?
Di kamp pengungsi.
Seperti apa di sana?
Buruk.
Bising, kotor...
Kami pernah lihat yang lebih buruk.
Segera setelah aku bekerja sebagai komposer,
kami akan keluar dari sana.
Kau akan lebih mudah sebagai komposer di Jerman.
Bagaimana bisa?
Tak ada tempat lain di dunia
yang punya banyak gedung konser, opera, dan teater.
Mereka butuh musisi.
Bagaimana sekolah di sana?
Sangat bagus.
Dan gratis.
Apa ada gedung opera di Bonn?
Tentu. Itu ibu kotanya.
Lihat, Giwar.
Itu gedung operanya.
Mereka menampilkan cerita musikal di sana.
Kita masuk?
Ayo, naik ke atas.
Itu "The Rhinegold".
Apa itu "The Rhinegold"?
Emas yang membuatmu abadi.
Dan saat kau memilikinya, kau takkan pernah melepaskannya lagi.
Di mana emasnya?
Tak ada yang tahu.
Hanya tiga gadis Rhine yang menjaganya.
Hati-hati jangan sampai rusak! Ini hadiah dari Syekh Harun Shikak!
Giwar, menjauhlah dari sana!
Pelan-pelan! Kita punya piano!
Ini mahal, hati-hati dengan sudutnya!
Shirin!
Makan siang sudah siap!
Lagi.
Sialan!
Kau bocah tak berguna!
Mainkan seperti yang kutunjukkan!
Kau musisi?
- Ya, aku komposer. - Sungguh?
Apa yang kau ciptakan?
Campuran musik tradisional Persia dan musik klasik Barat.
Mengapa kau tak mengajari putramu sendiri?
Suamiku tak punya kesabaran.
Begitu.
Mengapa bicara begitu?
Biayaku 40 mark per jam.
Aku akan terus mengajarinya.
Baiklah.
Apa kau mau tunjukkan kemampuanmu?
Ayo.
Benar, dengan jempolmu.
Sangat bagus.
Tangan kiri, a minor.
Bagaimana kita membayarnya?
Kita cari jalan.
Sangat bagus.
Kita mainkan lagi?
Tiga, empat...
Bagi pejuang kemerdekaan Kurdi, ibuku adalah pahlawan.
Tak lama setelah aku lahir, dia menderita infeksi rahim.
Dalam perjalanan ke kota terdekat yang memiliki rumah sakit,
dia ditangkap.
Tangan ibuku terlalu halus untuk seorang penduduk desa.
Para mullah memberikan penawaran yang sama setiap hari pada ibuku:
"Beri tahu posisi pejuang kemerdekaan dan kami akan membebaskanmu."
Namun ibuku tetap bungkam.
Sangat bagus.
Sampai jumpa minggu depan.
- Minggu depan pemutaran perdana ayahku. - Ya, sampai jumpa di sana.
Tunggu.
Beli susu dan roti.
Dan beli permen untuk dirimu sendiri dengan uang kembaliannya.
Hei, kau! Tunggu!
- Kau tinggal di sini? - Ya.
Ambil CD ini, aku akan mengambilnya minggu depan.
Hei, kau di sana! Lihat orang asing dengan banyak CD?
- Tunjukkan padaku. - Tak ada CD di dalam sana.
Kue.
No comments yet. Be the first to leave one.