As primeras 200 linias.
Priya, dengar dulu.
Lepaskan.
Priya, dengar dulu.
Kau selalu begitu, selalu saja wanita lain.
Aku tak bermaksud menyakitimu.
Selalu saja kau bilang begitu.
Kau tahu betapa aku mencintaimu.
Tolong, dengarkan dulu.
Aku mencintaimu.
Aku sangat mencintaimu.
Cut!
Bagus! / Tolong make-up.
Minta air.
Kaira, bagus?
DEAR ZINDAGI
Semuanya, kita ulang sekali lagi.
Bukannya sudah bagus?
Kita kehabisan waktu. kita tak punya ijin sehari penuh.
Kaira punya ide bagus. Akan diulang sekali lagi.
Apa gunanya selesai tepat waktu kalau syutingnya kurang bagus?
Lihat, produser tak dihargai.
Terutama juru kamera pria ini. Maaf, juru kamera wanita.
Ayo cepat. Kita rampungkan ini!
Fatima, kita akan ganti pria itu. / Ya. Oke.
Kau ingin orang lain? / Ya.
Kemarilah.
Sebentar.
Dia harus terlihat sedikit seksi. / Ya.
Angkat bokongmu sedikit.
Ambilkan kameraku.
Action!
Selalu saja begini. Selalu saja wanita lain.
Maafkan aku. Tak bermaksud menyakitimu.
Aku mencintaimu.
Aku sangat mencintaimu. Kumohon.
Cut!
Sip?
Fantastis!
Eksekusi yang luar biasa!
Bagus sekali.
Aku memakai 48 frame. Percepat endingnya kalau mau.
Aku mau syuting bangunan itu dulu.
Kau lihat, Raghuvendra?
Ekspresi gadis itu pada orang lain punya banyak arti.
Andai saja bertemu Kaira lebih awal, aku ingin syuting semua bersamanya.
Sudah dapat.
Selesai, teman-teman! Terima kasih!
Sudah ku bilang jangan bawa tasku.
Maafkan aku.
Tadi, ibumu meneleponku.
Kau tak angkat teleponnya.
Tolong telepon balik sebelum kau berangkat.
Ya, baiklah. Nikmati saja liburan kecilmu.
Kau bisa nikmati Singapore bersama kami.
Tapi kau malah pergi dengan orang lain.
Diamlah.
Sana, sana.
Sial, aku mau meng-upgrade-mu, tapi tidak bisa.
Ampun dah.
Hai semuanya. Mau kubelikan apa?
Bir. / Koka Kola.
Hanya Koka Kola?
Aku minum hanya saat 2 situasi. Saat aku jatuh cinta dan tidak.
Baiklah.
Bersulang!
Kaira, semua baik-baik saja, 'kan?
Kita baik-baik saja, 'kan?
Apa yang kau bicarakan. Ada apa dengan kita?
Bersulang!
Raghuvendra... Aku ingin buat film sendiri.
Cukup sudah bekerja begini.
Maksudku, aku tak bisa menunggu juru kamera lain jatuh sakit.
Bahkan takkan ada yang tahu kalau aku yang ambil adegan ini.
Aku ingin membuat film sendiri.
Pasti.
Siapa yang tak mau bekerjasama dengan sinematografer seksi sepertimu?
Seksi?!
Sungguh hanya itu bakatku?
Sungguh.
Jangan bicara padaku.
Tentu saja kau berbakat.
Kau membuat banyak iklan. Menghasilkan banyak uang.
Iklan dan semacamnya itu oke.
Aku ingin buat film.
Pasti, pasti, secepatnya.
Kau masih sangat muda. Maksudku...
..Kau memakai kacamata gaya untuk kelihatan lebih tua.
Maaf?
Jika seorang aktris saja bisa sukses di usia muda, kenapa teknisi tidak?
Katakan! / Pernah dengar kata 'Sabar'?
Belum pernah. Coba jelaskan apa itu 'Sabar'.
Angkatlah.
Angkatlah telepon Si Koki itu.
Kalau perlu, aku bisa pergi dulu dan kembali lagi nanti.
Dia bukan Koki. Dia pemilik restorannya.
Bukan koki?
Katakan padaku...
Syuting yang itu idemu, 'kan?
Gadis yang punya pacar berkencan dengan pacar yang lain?
Terinspirasi dari kehidupan?
Wah!
Oia, Kaira...
Tempati saja kursiku, biar kutempati kursimu.
Tak masalah di kelas ekonomi, tak perlu berkorban.
Lagipula, kaki jenjangmu takkan muat di sana.
Benar.
Benar sekali.
Ya, Bu. Bagus.
Maaf, lanjutkan nanti saja. Pesawatnya mau berangkat.
Daah!
Ini. / Terima kasih.
Jadi...
Boleh aku ikut naik?
Aku capek sekali.
Makan malam?
Aku sibuk, tapi aku bisa.
Sampai jumpa. / Sampai jumpa.
Alka!
Didi!
Kau gemukan!
Bagaimana penerbangannya?
Gak penting !
Hah, gak penting?!
Ibumu menelepon 3 kali.
Kau manis sekali, Alka.
Terima kasih!
Mau kopi atau ku siapkan sarapan?
Nanti saja.
Didi...
Pria ini sangat manis, 'kan?
Dulu!
Dulu!
Sekarang sudah nggak !
Kurasa lebih cocok dilepas. Lepas saja!
Ini baru saja ku rapikan.
Semua beres sekarang.
Sepertinya lezat.. Rasanya aku mau muntah.
Pria yang malang. / Jangan lakukan, jangan lakukan.
Oia, bagaimana perjalananmu?
Baik.
Hanya baik saja?
Baiklah, wah.
Kau kelihatan cantik, Sayang.
Apa kabar, teman? / Baik. Apa kabar juga?
Senang melihatmu. / Aku juga.
Aku sedang berlibur. / Wah, bagus. Luar biasa.
London, 'kan? / Ya, betul.
Bagus sekali. Mejanya sudah siap. / Terima kasih.
Maaf, aku hanya...
Tak apa-apa, lanjutkan saja. Temui mereka, lagipula aku kebelet.
Siapkan meja no.4.
Maaf sekali. Di sini, ada aturan pakaian.
Tak boleh pakai celana pendek dan sandal.
Ayolah, ini ulang tahunnya.
Maafkan aku. Aku tak bisa bantu.
Dia pun pakai celana pendek!
Wanita tak masalah. Maafkan aku.
Hanya sekali ini saja. Demi dirimu.
Lain kali aku akan ikut syutingmu sebagai penyedia makanan.
Bagaimana?
Aku tidur dengan Raghuvendra.
Aku harus pergi.
Aku harus pergi.
Sid...
Aku minta maaf.
Apa yang kau lakukan! Apa yang kau lakukan!
Hentikan!
Semua baik-baik saja!
Tak apa-apa. Semua baik-baik saja.
Apa yang kau lakukan?
Hey lihat, Sid!
Sial! Di mana?
Itu bukan Sid, Jackie.
Dia mirip sepertinya. Manis.
Kasihan, dia sangat baik.
Ya, sangat baik.
Agak terlalu baik untukmu, bukan?
Yaampun, jaket ini!
Mengingatkanku pada masa sekolah. Gang 'Famous Five' kita.
Kelas 8 atau 9?
Kelas 10, sama saja.
Rupanya bisa juga aku menjalin hubungan jangka panjang.
Ya, dengan benda-benda.
Jadi, kita juga benda?
Ya, kau itu.
Maaf.
Kau itu cinta buta, ya? Sampai aku tak kelihatan?
Kami sudah bilang maaf.
Lihatlah matanya!
Mereka sepasang kekasih.
'Oh Sayangku...' 'Manis sekali, aku mencintaimu'.
Omong kosong! Sampah! Menjijikkan!
Apa yang kau lakukan?
Enyahlah!
Goblok! Benci orang pacaran!
Kalian mau membantuku atau mau ngelawak di sini?
Dua-duanya.
Aku punya batas waktu. Kostumnya harus ditunjukkan pada Sutradara.
Baiklah.
Raunak, kau butuh bantuan?
No comments yet. Be the first to leave one.